Menggagas Artikel Dalam Bahasa Aceh Pada Majalah “POTRET”

Oleh Ir. Azhar, M.T.
Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung
Bahasa selain sebagai alat komunikasi dan alat berpikir, juga berfungsi sebagai sarana mengekspresikan diri serta menjadi fondasi penting bagi kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia membangun peradaban, mewariskan budaya, mengembangkan ilmu pengetahuan, membentuk identitas, dan mengatur kehidupan sosial secara teratur dan bermakna.
Bahasa merupakan entitas yang hidup dan dinamis karena tumbuh, berkembang, dan berubah seiring dengan perkembangan masyarakat penuturnya. Ketika digunakan secara aktif dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, pemerintahan, ilmu pengetahuan, media, dan budaya, sebuah bahasa akan semakin kaya kosakata, semakin kuat kedudukannya, dan semakin luas pengaruhnya.
Sebaliknya, bahasa yang semakin jarang digunakan, terutama oleh generasi muda, akan mengalami kemunduran secara perlahan. Jika kondisi ini terus berlanjut, bahasa tersebut dapat menjadi redup, terancam punah, bahkan hilang sama sekali dari kehidupan masyarakat. Sejarah menunjukkan bahwa banyak bahasa di dunia telah musnah karena tidak lagi memiliki penutur yang mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Oleh karena itu, pelestarian dan penggunaan bahasa secara berkelanjutan merupakan langkah penting untuk menjaga keberlangsungan identitas, pengetahuan, dan warisan budaya yang terkandung di dalamnya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan pola komunikasi masyarakat, Bahasa Aceh menghadapi tantangan yang semakin nyata. Penggunaan Bahasa Aceh dalam lingkungan keluarga terus mengalami penurunan, terutama di wilayah perkotaan, karena banyak orang tua lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka.
Kondisi ini menyebabkan proses pewarisan bahasa ibu kepada generasi muda mulai melemah. Kekhawatiran tersebut bukan hanya muncul dari kalangan budayawan dan pemerhati bahasa, tetapi juga telah menjadi perhatian para peneliti. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iskandar Syahputera, menyebut bahwa Bahasa Aceh berada pada status definitely endangered (terancam punah) berdasarkan indikator vitalitas bahasa UNESCO, terutama karena semakin berkurangnya transmisi bahasa antargenerasi dalam lingkungan keluarga.
Temuan tersebut menjadi peringatan penting bahwa keberlangsungan Bahasa Aceh tidak dapat dianggap aman hanya karena jumlah penuturnya masih relatif besar. Dalam kajian kebahasaan, sebuah bahasa dapat mengalami kemunduran apabila generasi mudanya tidak lagi menggunakan bahasa tersebut secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kondisi ini terus berlangsung, Bahasa Aceh berisiko kehilangan fungsi sosial dan budayanya secara perlahan. Yang terancam hilang bukan hanya sistem bahasa itu sendiri, tetapi juga berbagai warisan budaya yang terkandung di dalamnya, seperti Hadih Maja, hikayat, pantun (hiem), ungkapan adat, serta nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Aceh.
Oleh karena itu, pelestarian Bahasa Aceh tidak hanya berkaitan dengan menjaga alat komunikasi, tetapi juga menyangkut upaya mempertahankan identitas budaya, memori kolektif, dan keberlanjutan peradaban Aceh di masa depan.
Memajukan Bahasa Aceh Melalui Majalah POTRET
Di tengah kekhawatiran akan menurunnya penggunaan Bahasa Aceh di kalangan generasi muda, diperlukan ruang-ruang publik yang mampu menghidupkan kembali bahasa tersebut dalam kehidupan masyarakat. Bahasa akan tetap hidup apabila digunakan, dibaca, ditulis, dan diperbincangkan secara terus-menerus. Sebaliknya, bahasa yang semakin jarang digunakan akan kehilangan penuturnya dan perlahan mengalami kemunduran.
Dalam konteks inilah Majalah POTRET memiliki posisi yang strategis. Sebagai media literasi dan kebudayaan, POTRET tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga dapat menjadi medium revitalisasi Bahasa Aceh.
Melalui berbagai rubrik yang dimilikinya, terutama Potret Budaya, Aceh, Esai, Puisi, Cerpen, dan Literasi, POTRET dapat menyediakan ruang bagi para penulis untuk mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan Aceh.
Kehadiran tulisan-tulisan tersebut memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali berinteraksi dengan kosakata, ungkapan, hikayat, peribahasa, dan berbagai bentuk ekspresi budaya yang lahir dari Bahasa Aceh. Semakin sering Bahasa Aceh hadir dalam ruang baca masyarakat, semakin besar peluang bahasa tersebut untuk tetap dikenal dan digunakan.
Penelusuran terhadap arsip POTRET juga menunjukkan adanya sejumlah penulis yang memiliki perhatian terhadap pelestarian Bahasa Aceh dan budaya lokal. Kehadiran para penulis ini merupakan modal penting dalam upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah.
Mereka tidak hanya mendokumentasikan realitas sosial dan budaya Aceh, tetapi juga membangun kesadaran publik mengenai pentingnya mempertahankan bahasa sebagai identitas dan warisan budaya. Dengan kata lain, POTRET telah menjadi ruang tempat gagasan-gagasan tentang pelestarian Bahasa Aceh dapat tumbuh dan berkembang.
Jika peneliti BRIN mengingatkan bahwa Bahasa Aceh berada dalam status terancam karena melemahnya pewarisan bahasa antargenerasi, maka media seperti POTRET dapat menjadi salah satu bagian dari solusi.
Melalui publikasi artikel, esai, cerita pendek, puisi, maupun tulisan kebudayaan yang menggunakan atau membahas Bahasa Aceh, POTRET dapat membantu memperluas eksposur bahasa tersebut kepada masyarakat. Revitalisasi bahasa tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar pemerintah; ia juga dapat dimulai dari ruang-ruang literasi yang memberi kesempatan kepada bahasa daerah untuk hadir, dibaca, dipelajari, dan dihargai.
Oleh karena itu, POTRET bukan hanya media literasi, melainkan juga berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya menghidupkan kembali, merawat, dan memajukan Bahasa Aceh di tengah tantangan zaman modern.
Kiranya tidaklah berlebihan apabila nantinya majalah POTRET memberikan ruang yang cukup bagi para pakar atau pemerhati atau kalangan anak muda untuk mengekspresikan bahasa dan kebudayaan Aceh dalam Bahasa Aceh atau bahasa-bahasa lokal lainnya seperti melalui rubrik esai, cerpen, puisi, atau bahkan kalau perlu dibuatkan rubrik khusus tambahan “Bahasa di Aceh” pada menu navigasi.
—–*













