Artikel · Potret Online

Memotong Hewan, Melupakan Pengorbanan

Penulis Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd
Mei 29, 2026
4 menit baca 181
e2684cb0-01a0-48ff-a5eb-072cea132e28
Foto / IlustrasiMemotong Hewan, Melupakan Pengorbanan

Oleh: Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd.

Setiap Idul Adha, gema takbir memenuhi langit kota dan desa. Ribuan hewan kurban disembelih. Foto sapi berbobot besar beredar di media sosial. Para pejabat, elite politik, hingga tokoh publik tampak berlomba menunjukkan hewan kurban terbaik mereka. 

Di satu sisi, hal itu tentu dapat dibaca sebagai semangat berbagi. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: apakah kita benar-benar sedang berkurban, atau hanya sibuk memotong hewan?

Kurban sejatinya bukan soal seberapa besar sapi yang dipamerkan, melainkan seberapa besar kesediaan seseorang mengorbankan ego dan kepentingannya demi kemaslahatan bersama. 

Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa inti pengorbanan adalah ketaatan moral dan keikhlasan, bukan sekadar ritual lahiriah yang berhenti pada seremoni.

M. Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(1996) menjelaskan bahwa ibadah dalam Islam tidak berhenti pada simbol, tetapi harus melahirkan dampak sosial yang nyata. 

Penjelasan itu sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa yang sampai kepada Tuhan bukan darah dan daging kurban, melainkan ketakwaan manusia.

Sayangnya, dalam kehidupan berbangsa, semangat pengorbanan itu justru sering terasa jauh dari praktik kekuasaan. Banyak pemimpin dan pejabat publik tampak rajin berkurban secara seremonial, tetapi enggan berkorban dalam kebijakan publik. 

Mereka mudah tampil di depan kamera saat penyerahan sapi kurban, tetapi sulit melepaskan kepentingan politik, privilese kelompok, atau keputusan yang belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan rakyat.

Padahal, pengorbanan terbesar seorang pemimpin hari ini mungkin bukan membeli hewan kurban paling mahal, melainkan keberanian membuat keputusan yang adil dan transparan. Tidak menghamburkan APBN dan APBD, tepat sasaran bagi masyarakat kecil, serta tidak manipulatif demi kepentingan segelintir elite.

Rakyat disuruh membayar pajak. Umat diajak mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit pengelolaan dana publik maupun dana sosial keagamaan yang lebih sibuk melayani pencitraan dan kepentingan kelompok tertentu. Transparansi sering kali lemah, sementara kebijakan perlahan kehilangan orientasi pelayanan publik.

Kita terlalu sering melihat rakyat diminta berhemat, sementara penggunaan anggaran berlangsung tanpa kepekaan sosial. Rakyat diminta bersabar, tetapi ketimpangan terus dipelihara. Dalam beberapa keadaan, diskriminasi atas nama agama maupun status sosial juga dibiarkan tumbuh tanpa penanganan yang serius.

Dalam situasi seperti itu, rakyat sebenarnya sedang dikorbankan atas nama pembangunan dan kekuasaan. Ironisnya, semua itu sering terjadi di tengah ramainya simbol keberagamaan. Ritual keagamaan tumbuh megah, tetapi kepekaan sosial justru melemah. Kurban akhirnya berisiko kehilangan makna ketika hanya berhenti pada seremoni, tanpa keberanian menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata.

Fazlur Rahman dalam buku Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual (1985) menegaskan bahwa ajaran Islam tidak boleh berhenti pada ritual formal, tetapi harus melahirkan etika sosial yang menghadirkan keadilan dan keberpihakan kepada manusia.

Karena itu, takbir seharusnya tidak hanya berhenti sebagai suara yang menggema dari pengeras masjid.Mengagungkan Tuhan tidak cukup dilakukan lewat seruan lisan, sementara rakyat justru dipersulit oleh keputusan yang tidak adil. 

Pengagungan kepada Tuhan semestinya tercermin dalam sikap memuliakan manusia dan menjaga kehidupan bersama.

Abdurrahman Wahid dalam buku Tuhan Tidak Perlu Dibela (1999) mengingatkan bahwa agama seharusnya hadir untuk menjaga martabat manusia dan membela kelompok yang lemah, bukan sekadar menjadi simbol dan seremoni kekuasaan.

Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk bertanya ulang: siapa sebenarnya yang dikorbankan hari ini? Sebab jangan sampai kita setiap tahun memotong semakin banyak hewan, tetapi pada saat yang sama justru melupakan makna pengorbanan yang sesungguhnya—menghadirkan keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat. Sebab makna kurban tidak hanya terletak pada apa yang disembelih, tetapi juga pada keberanian mengorbankan keserakahan, ego kekuasaan, dan ketidakadilan demi kepentingan bersama.

Daftar Pustaka

1. Rahman, Fazlur. Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual. Bandung: Pustaka, 1985. 

2. Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996. 

3. Wahid, Abdurrahman. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Yogyakarta: LKiS, 1999.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd
(Kasi PAPKI Kantor Kemenag Kabupaten Tanggamus)
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...