• Latest
Pesan Yang Diabaikan - 4E447A7A CBA4 46CF B468 A6B599F2596E | Cerpen | Potret Online

Pesan Yang Diabaikan

September 1, 2022
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Pesan Yang Diabaikan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Pesan Yang Diabaikan - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Pesan Yang Diabaikan - 4E447A7A CBA4 46CF B468 A6B599F2596E | Cerpen | Potret Online

Pesan Yang Diabaikan

Redaksi by Redaksi
September 1, 2022
in Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Akbar Priadi Sadikin

Hah … helaan nafas yang menandakan rasa lelah keluar dengan sendirinya, sampai terdengar oleh telinga ini. Orang-orang melirikku, yang duduk di kursi taman ditemani perasaan gelap tidak mendasar memecahkan suasana malam di bawah lampu jalanan.. Tatapan itu seakan mengatakan “Kenapa dengan dia?”

“Apa kau mendapat masalah, paman?” Seorang anak perempuan berkuncir kuda yang entah datang dari mana berdiri di hadapanku.

“Aku tidak memiliki apa-apa, jadi pergilah,” pintaku.

“Paman tidak boleh seperti itu, nanti akan ada orang yang marah jika tidak mau menceritakan masalah paman,” ujarnya.

Aku menatapnya, sayu. “Siapa namamu?”

“Tasya.”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.

“Tadinya Tasya bersama ibu, tapi tiba-tiba ibu menghilang.”

“Hmm … Jadi, apa maksudmu aku akan dimarahi?” tanyaku.

Dia bergerak, duduk di sampingku, dan tersenyum menatapku. “Tasya dulu pernah tidak pergi ke sekolah karena teman-teman selalu mengejek Tasya, tapi tidak menceritakannya kepada siapapun sampai ibu marah. Tasya takut melihat ibu marah, jadi sambil nangis Tasya menceritakannya.

Setelah itu saat pergi ke sekolah, teman yang mengejek Tasya meminta maaf. Jadi Tasya berpikir kalau menceritakannya kepada orang lain masalahnya akan selesai. Jadi paman juga harus menceritakannya.”

Begitu, ya. Mau bagaimanapun dia masih anak kecil, mungkin masih seukuran anak SD, jadi tidak tahu bagaimana logika dunia berjalan. Aku akan bersyukur jika masih ada orang yang mau membantu menyelesaikan masalah yang kualami, tapi percuma.

Aku berdiri, melihat sekeliling mencari pos polisi agar bisa mengantarkan anak ini. Akan terlihat tidak manusiawi jika hanya meninggalkannya begitu saja.

“Tasya!” Seorang wanita berjalan cepat menghampiri gadis di sampingku.

“Ibu ….” ucap gadis kecil itu.  

Ia mendekati kami membawa tas belanja di tangannya. Segera ia menundukkan kepala ke arahku. “Maaf jika dia merepotkanmu, perhatiannya sangat mudah teralihkan.”

“Tidak apa-apa, kau juga jangan mudah mengalihkan pandangan dari putrimu.”

Ia menundukkan kepala sekali lagi dan menarik lengan putrinya. “Ayo, Tasya.”

“Paman, jangan lupa menceritakannya kepada orang lain, ya. Ingat paman, tuhan punya rencana terbaik untuk semua orang.” lambaian tangannya semakin menjauh dariku. Aku hanya bisa tersenyum sejenak untuk membalasnya. Sepertinya sudah saatnya untuk pulang, tidak ada gunanya jika terus berada di sini.

Sampainya di apartemen, aku langsung menghempaskan tubuh ini ke atas kasur.

Ting … suara itu membangunkanku, mengganggu waktu istirahat yang sudah kurencanakan.  Kubangkit dari tidur, melihat smartphone yang berbunyi tadi. Sebuah pesan formal masuk. “Panggilan Seleksi/Wawancara Kerja.” Itu kata-kata yang sangat indah tertulis di layar smartphone. Aku melanjutkan tidur kembali, dan mulai membayangkan kehidupan kerjaku jika interview kali ini berhasil.

Hari baru sudah dimulai. Saat matahari pagi bersinar, aku berada di dalam ruangan ber-AC, dengan diiringi suara kertas yang dibolak-balik serta nada jarum jam yang terus bergerak, membuat jantung berdetak keras. Aku pastikan hari ini akan berhasil. Dengan semangat aku menjawab semua pertanyaan yang diajukan, sampai akhirnya ….

“Terima kasih.” Aku menundukkan kepala dan keluar dari ruangan karena interview sudah berakhir. Melangkah semakin jauh meninggalkan tempat interview dengan terus menundukkan kepala, melewati orang-orang yang berlawanan arah, dan sampai di salah satu lampu merah. Kata-kata mereka terus berputar di kepalaku, memunculkan kekecewaan yang sangat besar. Dengan mudahnya mereka berkata, “Mohon maaf, sepertinya kamu tidak dapat bekerja di perusahaan ini, karena sepertinya kamu masih kekurangan pengalaman. Kami juga mendapat informasi kalau kamu sudah ditolak 3 kali di perusahaan yang berbeda, apalagi perusahaan yang menolak kamu itu perusahaan kecil.”

Sial dengan ini sudah empat kali lamaranku ditolak, lagi dan lagi. Perasaan ini muncul kembali, rasa bersalah akan kurangnya kemampuan, hingga ditolak dalam lamaran kerja. Apanya yang “tuhan punya rencana terbaik,” Aku ingin mengakhiri semuanya.

Kulihat lampu lalu lintas yang masih berwarna merah untuk pejalan kaki. Mungkin sampai di sini saja, pikirku.

ADVERTISEMENT

Perlahan Melangkah ke zona merah mencoba menghentikan semua sandiwara, karena berat rasanya terus melanjutkan kehidupan yang terlihat sia-sia. Tapi tarikan lembut terasa menyentuh, membuat kaki berhenti melanjutkan langkahnya. Seorang gadis kecil menarik bajuku dengan sekuat tenaga.

“Apa yang kau lakukan, paman! Lampunya masih merah tadi.” Mulut kecilnya habis-habisan memarahiku yang duduk di kursi taman, dekat tempat kejadian.

Aku sudah kehilangan arah, bahkan wajah ini menghadap ke bawah, tidak berani menatapnya yang sedang bertanya. Mulutku kering tidak bisa mengolah kata-kata. Di suasana senja dia terus berbicara kepada diriku yang duduk mematung.

“Tasya!” panggil seseorang.

“Kakak ….” Gadis kecil yang terus mengomel tadi, kini menghampiri kenalannya.

Mata yang lelah menatap mereka berdua, membuatku semakin terjerumus dalam lubang keirian. Sebagai anak kecil, mereka pasti hidup dengan mudah, tanpa beban pikiran akan masalah besar yang sangat menyiksa.

Tidak lama dia menyadari apa yang barusan terjadi dari bisikan adiknya.

“Apa benar yang dikatakan adikku, paman? Kau mencoba bunuh diri!”

Melihatku tak menjawab, dia mengambil dokumen yang kuletakkan di samping, dan melihat semua lembaran kegagalan.

Duduk, memangku tasnya, dan menatap langit oranye. “Begitu, ya. Aku sudah mengerti masalahmu, paman.”

Aku tersenyum tipis. “Pasti lucu ya melihat orang yang sudah ditolak berkali-kali.” ucapku.

“Apa kau tau paman, kegagalan itu bukan suatu kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda, karena kau akan mendapatkan sebuah pengalaman dari sana,” ucapnya.

“Tidak, walaupun aku sudah mencoba sebaik mungkin, mereka tidak peduli. Kali ini aku tidak berhasil karena kegagalanku di masa lalu. Semua pengalaman yang sudah kulewati  terlihat menyedihkan di mata mereka.”

Berdiri dan mengenakan tasnya kembali. “Paman, sudah mulai gelap. Besok aku akan menunggumu di sini, jadi datanglah. Tenangkan dulu dirimu, dan ingat! jangan mencoba bunuh diri lagi. Aku akan membawa dokumen ini.” Dia pergi, merangkul tangan adiknya.

Aku juga melangkah dengan berat menuju tempat peristirahatan.

Menatap suasana kota dari balkon apartemen, memperhatikan berbagai macam suasana kota. Senang, sedih, marah, dan adapun yang sepertiku. Perasaan yang berada di jurang kekecewaan menjadi hampa. Aku tersenyum dan menghela nafas lega.

Dengan bebas aku menyerahkan diri memasuki Area tanpa pijakan, mencoba membebaskan diri dari masalah.

“Aku senang ada yang sedikit peduli padaku. Tapi maaf, aku tidak akan datang untuk menemuimu.”

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Biodata Penulis

Akbar Priadi Sadikin, Lahir di Medan, 3 Februari 2005. Saat ini, penulis berdomisili di Aceh timur tepatnya di Sungai Raya. Menamatkan pendidikannya di SMAN Unggul Aceh timur. Ia mulai menulis sejak duduk dibangku SMA. Kegemarannya adalah mendengarkan cerita orang-orang sebagai sumber utama inspirasi. Saat menulis karya ini, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Samudra jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Instagram dan Facebook @akbarpriadisadikin

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 331x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 326x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 303x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Pesan Yang Diabaikan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post
Pesan Yang Diabaikan - D882C8CC 69FC 44DD 9DED 84F4268D27A1 scaled | Cerpen | Potret Online

Sehimpun Puisi Asep Perdiansyah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com