Oleh: Mr. Jhony Ngateman
Pendidikan tidak dapat direduksi sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan dari seorang pendidik kepada peserta didik. Ia adalah ikhtiar sadar dan terarah dalam membentuk manusia seutuhnya, insan yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan kokoh dalam akhlaknya. Dalam kerangka ini, pendidikan merupakan proses ta’dib, pembudayaan adab, yang menempatkan ilmu dalam orientasi penghambaan kepada Allah dan pengabdian kepada sesama manusia.
Dalam horizon nilai Pancasila, pendidikan sejatinya merupakan wahana internalisasi nilai nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Sila pertama menggariskan bahwa ilmu harus mengantarkan manusia pada kesadaran transendental, bahwa segala pengetahuan pada akhirnya bermuara pada pengakuan akan kebesaran Tuhan. Sila kedua menuntut agar ilmu melahirkan perilaku yang beradab, yakni sikap yang menjunjung tinggi martabat manusia. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi menjelma menjadi praksis etik dalam kehidupan sehari hari.
Al Quran sendiri memberikan penegasan bahwa ilmu memiliki dimensi yang luhur. Ia tidak berdiri dalam ruang hampa, melainkan terikat dengan iman dan amal. Ilmu tanpa iman berpotensi melahirkan kesombongan, sementara iman tanpa ilmu dapat terjebak dalam formalisme yang kering. Oleh karena itu, pendidikan dalam perspektif Islam adalah integrasi antara ilm, iman, dan amal, suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Jika pendidikan hanya dipahami sebagai transfer ilmu, maka ia berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara rasional, tetapi miskin kepekaan batin. Kita mungkin menyaksikan lahirnya generasi yang unggul dalam kompetisi, namun lemah dalam empati, serta mudah tergelincir dalam praktik praktik yang mengabaikan nilai moral. Fenomena ini menjadi cermin bahwa pendidikan yang kehilangan dimensi ruhaniahnya akan melahirkan krisis kemanusiaan.
Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang kehilangan dimensi etis dan dialogis akan berubah menjadi praktik dehumanisasi (Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970, hlm. 44). Dehumanisasi inilah yang kini tampak dalam relasi pendidikan di Indonesia: guru kehilangan wibawa, peserta didik kehilangan figur keteladanan, dan sekolah kehilangan fungsi moralnya. Pendidikan direduksi menjadi transfer pengetahuan yang kering nilai, sementara pembentukan kesadaran kritis dan adab diabaikan.
Sebaliknya, pendidikan yang berorientasi pada pembentukan insan kamil akan menempatkan akhlak sebagai inti. Guru tidak lagi sekadar berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi sebagai murabbi, pendidik yang membimbing, meneladani, dan menghidupkan nilai dalam diri peserta didik. Dalam tradisi keilmuan Islam, keteladanan memiliki posisi yang sangat penting, karena nilai tidak cukup diajarkan, tetapi harus dihadirkan dalam laku hidup.
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaff [61]: 2–3)
Di tengah derasnya arus modernitas dan perkembangan teknologi, pendidikan dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Informasi dapat diperoleh dengan mudah, tetapi hikmah tidak serta merta hadir bersamanya. Di sinilah pendidikan harus mengambil peran strategis, membimbing manusia agar mampu memilah, memahami, dan menginternalisasi pengetahuan secara bijaksana. Pendidikan bukan sekadar mengisi akal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis dan kebijaksanaan dalam bertindak.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’” (Ali-Imran [3]: 190-191)
Pendidikan adalah proses panjang yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan dirinya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Ia tidak hanya berbicara tentang apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana ilmu itu dihayati dan diamalkan. Dengan demikian, memaknai pendidikan hanya sebagai transfer ilmu adalah penyederhanaan yang mengabaikan hakikatnya yang paling mendasar, sebagai jalan pembentukan manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.








Diskusi