Kamis, April 23, 2026

Tenggelam dalam Duka

Tenggelam dalam Duka - 0d021985 7c98 4663 81da b776c394785d | #Kalimantan | Potret Online
Ilustrasi: Tenggelam dalam Duka

Oleh Rosadi Jamani

Sebulan lalu, Kalbar menangis. Empat kabupaten tenggelam dalam air mata bumi. Sekarang giliran Bekasi dan sekitarnya. Kota yang pernah saya tinggali dulu. Kota yang kini terlihat seperti kolam raksasa. Di atap rumah, mereka duduk. Bingung. Tak tahu harus ke mana. Air datang deras, tanpa permisi. Banjir bukan lagi sekadar bencana. Ini sudah jadi tamu tahunan yang tak diundang, tapi selalu datang.

Hujan deras. Kiriman air dari Bogor. Sungai-sungai meluap, seolah tak kuat menahan beban. Tapi apakah hanya hujan yang salah? Atau kita juga ikut bersalah? 20 titik di 7 kecamatan. Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede, Rawalumbu. Ketinggian air? Sampai 3 meter. Bukan lagi banjir. Ini tsunami daratan. Stadion Patriot Chandrabhaga, pusat perbelanjaan, jalan utama, semua tenggelam. Jembatan Kemang Pratama amblas. Seolah bumi berkata, “Cukup sudah kalian membebani aku.”

Ribuan warga mengungsi. Perahu karet datang terlambat. Bantuan? Ada. Tapi cukupkah? Apakah ini solusi atau hanya plester pada luka yang terus menganga? Angka-angkanya menyayat hati. 16.000 jiwa terdampak di Kota Bekasi. 5.000 jiwa mengungsi. Di Kabupaten Bekasi? 51.320 jiwa. Dapur umum didirikan. Posko pengungsian dibuka. Tapi apakah itu bisa menghapus trauma? Apakah itu bisa menghangatkan hati yang dingin karena kehilangan?

Sementara itu, negeri ini juga sedang dilanda banjir korupsi. Kejaksaan Agung dan KPK sibuk berlomba. Angka triliunan terus bermunculan. Uang rakyat lenyap begitu saja. Ironis, bukan? Di satu sisi, rakyat kehilangan rumah karena banjir. Di sisi lain, uang mereka hilang karena korupsi. Gelombang PHK pun datang. Puluhan ribu karyawan dipecat. Di bulan puasa pula. Lebaran semakin dekat, tapi rezeki semakin jauh. Anak-anak bertanya, “Ayah, kapan kita beli baju baru?” Istri menunduk, tak sanggup menjawab. Suami hanya diam, meremas tangannya sendiri.

Indonesia, negeri yang kaya raya. Tapi kenapa rakyatnya miskin-miskin? Banjir datang, korupsi datang, PHK datang. Apa lagi yang akan datang? Mungkin badai, mungkin kelaparan. Kita bangun gedung pencakar langit, tapi lupa membangun saluran air. Kita bicara tentang kemajuan, tapi lupa memperbaiki moral. Kita gembar-gembor soal pembangunan, tapi rakyat tetap terpuruk.

Bumi menangis. Langit murka. Manusia tersesat dalam keserakahannya sendiri. Banjir bukan lagi air, tapi darah dari bumi yang terluka. Korupsi bukan lagi kejahatan, tapi penyakit kronis yang membusukkan negeri ini. PHK bukan lagi pemutusan hubungan kerja, tapi pemutusan harapan hidup. Air naik. Rumah tenggelam. Anak-anak menangis. Orang tua pasrah. Uang hilang. Koruptor tertawa. Karyawan dipecat. Keluarga kelaparan. Janji politik kosong. Rakyat menderita.

Miris. Sedih. Pilu. Apa yang bisa kita lakukan? Menangis? Mengeluh? Atau berdoa agar semua ini berakhir? Tapi apakah doa kita masih didengar? Atau rumput pun tidak lagi bergoyang? Air mata ini jatuh. Tapi siapa yang peduli? Inilah saya, negeri ente, negeri kita. Negeri yang indah, tapi menyakitkan.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ketua Satupena Kalbar

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist