• Latest
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
img-0531_11zon

Mengingat Masa Lalu, Menentukan Arah Masa Depan

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Redaksi by Redaksi
Maret 30, 2026
in Artikel, Aceh, Aceh Selatan, Belanda, Sejarah
Reading Time: 4 mins read
0
IMG_0542
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham),

Pada tanggal 11 Agustus 1926, sebuah peristiwa berdarah mengguncang pasukan kolonial Belanda di wilayah Teureubangan, Bakongan, Aceh Selatan.

Letnan Satu Willem Anne Molenaar, seorang perwira muda dari Korps Marechaussee KNIL, tewas dalam sebuah penyergapan mendadak yang dilakukan oleh pejuang rakyat Aceh di kawasan yang kini dikenal sebagai Terbangan, tepatnya di sekitar lokasi yang kemudian menjadi Sekolah Rakyat (SR), kini Desa Ladang Tuha.

Masyarakat Aceh Selatan pada masa itu mengenalnya bukan hanya sebagai Letnan Molenaar, tetapi juga dengan julukan “Kapitan Lhoknga”, sebuah sebutan yang muncul karena rekam jejaknya yang sebelumnya pernah bertugas di wilayah Lhoknga, Aceh Besar. Nama ini melekat kuat di kalangan rakyat sebagai simbol kekejaman militer Belanda.

Aceh yang Tak Pernah Tunduk

Meski Pemerintah Kolonial Belanda telah secara resmi menyatakan berakhirnya Perang Aceh pada tahun 1912, kenyataan di lapangan berkata lain.

Bara perlawanan rakyat Aceh tetap menyala, membara dari ujung Lhokseumawe hingga pelosok Kluet, Di antara kantong-kantong gerilya yang paling gigih adalah wilayah Aceh Selatan, dengan hutan-hutannya yang lebat, lembah-lembah curam, dan pemukiman kecil seperti Teureubangan yang menjadi medan tempur rakyat melawan penjajahan.

Korps Marechausse unit elite Belanda yang terkenal brutal dalam operasi pembersihan gerilyawan diturunkan di wilayah ini dengan satu misi utama membungkam sisa-sisa perlawanan Aceh.

Letnan Molenaar alias Kapitan Lhoknga adalah salah satu perwira yang memimpin operasi-operasi militer di sekitar Bakongan.

Detik-Detik Terakhir Kapiten Lhoknga

Menurut catatan resmi militer Belanda, Molenaar sedang memimpin patroli bersenjata di sekitar Teureubangan pada pagi naas itu.

Mereka menyisir jalur hutan, mendekati pemukiman penduduk yang dicurigai sebagai basis persembunyian para pejuang.

Namun, di tengah rimbunnya pepohonan dan sunyinya pagi Aceh Selatan, pasukan kolonial tak menyadari bahwa mata-mata rakyat telah lama mengawasi setiap gerak mereka.

Gerakan perlawanan pada hari itu dipimpin langsung oleh Tgk. Muhammad, seorang ulama muda pejuang asal Bakongan, mereka mempunyai afiliasi dengan komando strategis Teuku Cut Ali dan Tgk. Banta Saidi, dua tokoh utama gerakan bawah tanah anti-kolonial di Pasie Raja dan Bakongan.

Dengan strategi penyergapan yang terencana rapi, kelompok pejuang rakyat melancarkan serangan kilat ditengah malam gelap gulita.

Dentuman senjata api bersahut-sahutan, diiringi teriakan takbir dan tebasan parang dari balik semak. Letnan Molenaar alias Kapitan Lhoknga tewas seketika di lokasi halaman bekas Sekolah Rakyat (SR) Desa Ladang Tuha.

Namun, perjuangan itu juga memakan korban dari pihak pejuang. Tiga orang syuhada dari pasukan Muslimin gugur di medan tempur, Tgk. Mahmud, pejuang muda dari Bakongan.

Lalu, Teuku Abdurrahman, saudagar yang juga menjadi pejuang rakyat dari Pasie Raja dan Abu Salim, warga setempat yang menjadi penghubung logistik dan penunjuk jalan bagi gerilyawan.

Ketiga syuhada dimakamkan secara sederhana, namun penuh kehormatan di sekitar lokasi pertempuran, disaksikan tangisan keluarga, masyarakat Terbangan dan doa-doa umat islam ketika itu.

ADVERTISEMENT

Terbangan: Tanah Perlawanan

Teureubangan, atau yang kini dikenal sebagai Kemukiman Terbangan dalam wilayah Desa Ladang Tuha bukanlah nama yang asing dalam narasi perjuangan Aceh Selatan.

Daerah ini menjadi basis strategis bagi para gerilyawan yang menguasai medan, mahir dalam taktik hit and run, serta memahami seluk-beluk hutan seperti punggung tangan mereka sendiri.

Baca Juga

IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026

Nama-nama pahlawan lokal yang berjuang di kawasan ini, meski tak selalu tercatat dalam arsip kolonial, tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Pasie Raja, Bakongan, hingga Kluet.

Dari punggung Gunung Sampali, lembah-lembah di Alue Sapek Kluet Timur, hingga tepian muara Terbangan, darah para syuhada perjuangan Aceh Selatan telah membasahi tanah ini.

Warisan Sejarah yang Terlupakan

Hari ini, nama Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga memang terukir abadi di batu nisan marmer di Pemakaman Peutjoet Banda Aceh berderet rapi di antara serdadu kolonial lainnya.

Tapi nama-nama para pejuang Aceh yang gugur dalam sunyi, tanpa prasasti, tetap hidup dalam cerita lisan, dalam doa-doa di mushola desa, dalam zikir panjang setelah shalat Maghrib, dan dalam napas perjuangan generasi muda yang mewarisi semangat mereka.

Peristiwa gugurnya Kapiten Lhoknga di Teureubangan adalah pengingat bagi generasi kini, bahwa setiap jengkal tanah Aceh Selatan menyimpan jejak darah perlawanan.

Terbangan bukan sekadar nama sebuah gampong di peta Aceh, melainkan simbol keteguhan rakyat kecil melawan arogansi kekuasaan imperialis.

Dan selayaknya perjuangan yang tak selesai dalam satu babak sejarah, tugas kita hari ini adalah merawat ingatan itu agar darah yang telah tumpah di Terbangan tak pernah sia-sia.[]

Catatan Redaksi:

Tulisan ini disusun berdasarkan penelusuran arsip sejarah, kesaksian lisan masyarakat Desa Ladang Tuha, serta dokumentasi tidak resmi dari keluarga pejuang. Penulis mengajak siapa pun yang memiliki data atau dokumen pendukung untuk melengkapi mozaik sejarah perjuangan Aceh Selatan ini.

Penulis Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 301x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 231x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 218x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 178x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888
Catatan Perjalanan

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Discussion about this post

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com