Dari Bandar Mankin, yang Terlupakan
Oleh Tabrani Yunis
Rasa bahagia, bangga dan puas rasa hati ketika tulisan pertama penulis di Potretonline.com, tentang para perwira asal Manggeng pada masa lalu mendapat banyak tanggapan dari pembaca. Bukan hanya itu, tetapi juga bertambah puas hati ketika tulisan kedua dan ketiga mengenai Manggeng itu dimuat dan mendapat banyak respon pembaca, semakin menambah rasa ingin tahu atau curiosity penulis tentang Manggeng.
Ya, buktinya, setelah tulisan mengenai Kenegerian Manggeng dan Para raja yang pernah berkuasa, penulis terus berusaha mencari tahu hal-hal lain tentang Manggeng. Penulis kemudian menemukan hal baru, yakni nama Manggeng secara historis.
Ada nama dan cerita yang sangat menarik dan berharga tentang Manggeng di masa kerajaan Aceh. Ternyata Manggeng memiliki masa gemilang di masa lalu. Penulis menemukan nama Manggeng yang terasa mahsyur. Nama tersebut adalah Bandar Mankin.
Nah, membaca nama itu, apa yang terbayang dalam pikiran penulis adalah mengapa nama itu tak pernah penulis kenal? Mengapa penulis tidak pernah menemukan kehebatan itu dalam cerita-cerita tutur masyarakat Manggeng? Padahal, seharusnya sebagai putra kelahiran Manggeng, penulis harus mengenal dan tahu banyak tentang tanah kelahiran.
Namun, Dua kata “ Bandar Mankin” itu benar-benar tidak pernah hadir dalam pengetahuan atau catatan kognitif penulis. Bisa jadi karena tidak mau membuka gerbang sejarah. Namun, setelah mendapatkan dan membaca bandar Mankin. Ada banyak hal yang sangat menarik. Pertama, ketika membaca kata Bandar, pikiran penulis terbawa jauh hingga ke Bandar Lampung yang merupakan sebuah provinsi di Sumatera. Kemudian juga terbawa hingga ke Bandar Sri Bengawan, ibu kota Brunei Darussalam. Konotasinya adalah bayangan akan kondisi kota besar. Walau kemudian ingatan penulis sampai ke Pidie Jaya dengan nama Kecamatan Bandar Dua, Ule Gle, karena sering pulang ke kampung halaman sang isteri. Namun, skala Bandar Dua, wilayahnya sama dengan Manggeng saat ini.
Selain itu, sebagai orang Aceh, nama Bandar Mankin langsung berasosiasi dengan sejarah kerajaan Aceh dengan Bandar Aceh yang kemudian berubah menjadi Banda Aceh hingga kini. ingatan akan semua kota tersebut, mendorong penulis mempelajari tentang Bandar Mankin.
Nah, dalam konteks Bandar Mankin, dua kata itu perlu kita kaji lebih jauh terkait Manggeng saat ini. Sebab membaca Bandar Mankin, terbayang dengan kota-kota Besar, sementara dalam ingatan penulis yang lahir dan menghabiskan masa kecil di Manggeng, rasanya Bandar itu terlalu besar untuk dipasangkan, walaupun sebenarnya ada juga Bandar Dua, yang mungkin tidak jauh beda besarnya dengan Manggeng.
Berdasar pertimbangan itu, dua kata, Bandar dan Mankin kemudian mendorong penulis untuk mencari tahu lebih jauh tentang Bandar Mankin itu.
Penulis mencari dan menggali informasi mengenai nama Manggeng dalam kaitannya dengan Bandar Mankin. Pertama mencoba membayangkan makna kata Bandar yang mungkin memiliki banyak makna dan mencari makna hakiki dari Bandar Mankin.
Maka, merujuk pada makna linguistik, secara bahasa, bandar berarti pelabuhan, kota dagang. Artinya, di masa lalu Manggeng pernah menjadi dan terkenal sebagai kota pelabuhan dan kota dagang.
Anehnya, walau nama Bandar Mankin (بندر مانكين) adalah sebutan lama untuk Manggeng, sebuah wilayah pesisir di Aceh Barat Daya, tidak banyak orang yang saat ini mengetahui Bandar Mankin dan perubahannya menjadi Manggeng.
Sejarah pun telah mencatat bahwa nama Bandar Mankin tersebut muncul dalam dokumen diplomatik Aceh-Turki. Sebuah bandar yang menunjukkan peran strategis Manggeng sebagai pelabuhan dan pusat kenegerian kala itu, di zaman sebelum Indonesia Merdeka.
Yang kedua, hal yang semakin mengusik rasa ingin tahu penulis adalah sebutan atau kata Mankin. Pertanyaan pertama muncul adalah apakah kata Manggeng sekarang ini berasal dari kata Mankin yang secara etimologis berubah dari Mankin ke Manggeng?
Penulis semakin penasaran. Sebab semasa kecil penulis sering mendengar cerita legenda tentang nama Manggeng.
Banyak cerita menyebutkan nama Manggeng berasal dari kata “Mak Ngieng” yang menjadi bagian folklor, namun tidak didukung bukti sejarah tertulis.
Menurut cerita legenda, suatu ketika seorang anak bersama ibunya berada di sebuah pulau kecil yang sekarang dikenal dengan pulau Ujung Manggeng. Dari pulau itu sang anak melihat sebuah kapal yang merapat ke pulau. Lalu, sang anak mengatakan dan memberitahukan pada ibunya. Sambil meminta ibunya melihat kapal. Sang anak berkata, “ Mak Ngieng”, ( bahasa Aceh), kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “ Mak Lihatlah “ kapal itu merapat ke sini.
Nah, konon sejak itu kata Mak Ngieng menjadi identitas atau nama Manggeng. Sayangnya legenda ini tidak menjadi bukti sejarah yang terdokumentasi, hanya menjadi cerita lisan dan tidak dapat dijadikan referensi. Namun, cerita ini sering terdengar pada masa lalu.
Cerita itu mungkin terbantahkan dengan keberadaan Bandar Mankin, penduduk yang mendiami bandar Mankin saat itu yang mayoritas berbahasa Aneuk Jame. Maka, dilihat secara sosiologis bahwa penduduk Manggeng lebih banyak menggunakan bahasa Aneuk Jame dibandingkan bahasa Aceh. Sebab kata Mak Ngieng adalah dua kata dalam bahasa Aceh yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Mak Lihatlah.
Dalam catatan sejarah bahwa secara historis, nama Manggeng berasal dari “Bandar Mankin”. Hal ini bisa kita pelajari lagi dari keberadaan Bandar Mankin yang sudah lama berperan di masa kerajaan Aceh. Bahkan terbukti bahwa keberadaan Bandar Mankin sendiri telah ada dalam peta Bandar Makin yang dikirim ke Istanbul bersama surat penguatan hubungan Aceh dan Turki sebagai bentuk diplomasi internasional saat itu. Dokumen ini, menunjukkan pentingnya wilayah ini dalam jaringan perdagangan dan politik internasional. Fakta ini menunjukkan bahwa Bandar Mankin telah lebih popular dan berskala internasional di zaman kerajaan, dibanding masa kemerdekaan hingga saat ini.
Lalu kalau ada yang bertanya apakah benar bahwa nama Manggeng berasal dari kata Mak Ngieng, atau Mankin? Kita masih harus terus mencari jawabannya secara historis. Karena dalam catatan sejarah nama Bandar Mankin ini telah tercatat dalam peta Kesultanan Aceh tahun 1850.
Untuk sementara pendapat yang mengatakan asal muasal nama Manggeng dari kata Mak Ngieng, yang ada dalam tradisi lisan, atau legenda populer yang menyebutkan bahwa Manggeng berasal dari kata “Mak Ngieng”, terbantahkan, ketika sejarawan modern menegaskan bahwa asal nama lebih kuat terkait bahasa Melayu Tua, yakni dari kata Manggiang (beristirahat menanti angin untuk berlayar).
Penegasan itu semakin kuat bila kita mendengar kebanyakan orang Manggeng yang menyebutkan kata Manggeng dengan sebutan Manggiang. Sebutan ini sudah digunakan sejak dahulu hingga kini, terutama para pengguna bahasa Aneuk Jame. Namun, sebagai manusia pembelajar dan juga sebagai bagian dari masyarakat Manggeng,bahkan masyarakat Aceh perlu terus menggali informasi ini dari berbagai sumber atau referensi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















