HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Anak Luput dari Kebijakan

Don Zakiyamani by Don Zakiyamani
Maret 23, 2026
in Artikel, Anak, Anak-anak
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Don Zakiyamani

ADVERTISEMENT

Fenomena banjir bandang yang kembali melanda Aceh bukan hanya peristiwa alam yang memaksa ribuan warga mengungsi, tetapi juga sebuah ujian besar bagi keseriusan negara melindungi kelompok paling rentan: anak-anak.

Baca Juga

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain

Maret 23, 2026
Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Maret 23, 2026

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Maret 23, 2026

Di tengah hiruk-pikuk penanganan bencana yang didominasi distribusi logistik, penyediaan dapur umum, perbaikan jembatan, serta koordinasi antarinstansi, ada satu kenyataan yang berulang kali terabaikan—kebutuhan psikologis anak. Mereka hadir di lokasi pengungsian sebagai sosok-sosok kecil yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya membawa beban emosional yang jauh lebih berat dari yang tampak.

Laporan lapangan dari sejumlah daerah terdampak di Aceh menunjukkan pola yang konsisten. Anak-anak mengalami gejala stres pascabencana, mulai dari sulit tidur, mudah terkejut, hingga enggan berpisah dari orang tua. Namun temuan ini tidak pernah menjadi agenda utama dalam rapat penanganan darurat.

Para pengambil kebijakan lebih fokus pada ketersediaan beras, air minum, tenda, dan kebutuhan operasional orang dewasa. Sementara itu, kebutuhan ruang aman anak, pendampingan psikologis, serta kegiatan pemulihan mental hanya dianggap pelengkap—bahkan sering kali tidak dibahas sama sekali.

Kecenderungan ini menunjukkan bahwa paradigma penanganan bencana di Indonesia masih berkutat pada pendekatan fisik, bukan pendekatan manusia secara utuh. Bagi banyak pemangku kebijakan, anak hanyalah bagian dari keluarga yang terkena dampak, bukan subjek dengan kebutuhan berbeda.

Padahal penelitian psikologi bencana dengan jelas menyebutkan bahwa anak memiliki kerentanan tersendiri karena sistem regulasi emosinya belum matang. Dalam kondisi seperti banjir bandang di Aceh, rasa kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian dapat mengakar dan berkembang menjadi trauma jangka panjang.

Masalahnya bukan hanya ketidakhadiran psikolog di lapangan, melainkan juga tidak adanya sistem yang mewajibkan evaluasi psikososial anak sebagai bagian dari respons darurat. Bahkan ketika organisasi kemanusiaan menyediakan layanan dukungan psikologis, kehadiran mereka sering bersifat ad-hoc, tergantung undangan dan ruang yang tersedia.

Negara seharusnya menjadi aktor utama dalam memastikan bahwa setiap posko pengungsian menyediakan area ramah anak, bukan hanya tempat tidur yang disusun rapat-rapat di dalam gedung sekolah atau meunasah.

Data lapangan di Aceh menunjukkan fakta yang lebih memprihatinkan. Dalam beberapa lokasi, anak-anak menghabiskan hari-hari mereka hanya duduk di sudut ruangan, bermain dengan benda seadanya, atau menunggu orang tua yang sibuk mengurus bantuan. Tidak ada aktivitas terstruktur, tidak ada pendampingan, bahkan tidak ada pemetaan risiko psikologis. Mereka bukan hanya korban bencana, tetapi juga korban dari ketidakpedulian sistemik yang terus berulang setiap kali terjadi krisis.

Jika kita bertanya kepada para pengambil kebijakan, jawaban yang muncul biasanya seragam:

“Yang penting logistik dulu terpenuhi.”

Pernyataan ini terdengar logis, tetapi sebenarnya mengabaikan satu dimensi penting. Bagi anak-anak, rasa aman tidak hanya berasal dari terpenuhinya kebutuhan fisik, tetapi juga dari kepastian emosional.

Mereka perlu tahu bahwa bencana telah berakhir, bahwa mereka dilindungi, dan bahwa ada orang dewasa yang memahami ketakutan mereka. Namun pada praktiknya, kebutuhan emosional ini tidak memiliki alokasi anggaran, tidak masuk dalam indikator kinerja, dan tidak menjadi bagian dari struktur komando penanganan.

Dalam sejumlah wawancara dengan orang tua di lokasi pengungsian Aceh, beberapa mengaku tidak mengetahui bahwa anak mereka menunjukkan gejala stres. Ketika ditanya apakah ada petugas yang melakukan pemeriksaan psikologis, jawabannya selalu sama: tidak ada.

Situasi ini menegaskan bahwa ketidakpedulian terhadap aspek psikologis bukan hanya ada pada level pengambil kebijakan, tetapi juga tercermin di tingkat pelaksana lapangan yang tidak dibekali wawasan soal kesehatan mental anak.

Padahal, dampak psikologis pascabencana pada anak dapat berlangsung hingga bertahun-tahun. Riset global menunjukkan bahwa anak yang tidak mendapatkan pendampingan yang memadai pascabencana berisiko mengalami kecemasan kronis, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Dampak ini bukan hanya persoalan individu, tetapi persoalan sosial yang akan memengaruhi kualitas generasi masa depan. Jika negara gagal melindungi mereka pada momen paling kritis dalam hidupnya, maka kegagalan itu akan tercatat sepanjang waktu.

Selain itu, minimnya koordinasi lintas sektor memperburuk keadaan. Lembaga perlindungan anak tidak dilibatkan sejak awal, sekolah tidak diaktifkan sebagai pusat pemulihan psikososial, dan tenaga kesejahteraan sosial tidak diberi mandat khusus untuk mengidentifikasi anak berisiko tinggi.

Semua ini menunjukkan bahwa perspektif perlindungan anak belum terintegrasi dalam manajemen bencana. Bencana dipandang sebagai urusan teknis, padahal di dalamnya terdapat dimensi sosial, emosional, dan perkembangan manusia yang tidak boleh diabaikan.

Situasi di Aceh seharusnya menjadi peringatan bahwa anak-anak tidak boleh terus-menerus menjadi korban yang diam. Pengungsi dewasa tentunya membutuhkan logistik, tetapi anak-anak membutuhkan lebih dari itu. Mereka membutuhkan ruang bermain, bahan edukasi, interaksi sosial yang sehat, dan kehadiran pendamping yang memahami kebutuhan psikologis mereka. Ketika negara tidak menyediakan semua itu, kita sebenarnya sedang mengulangi kesalahan yang sama dari tahun ke tahun.

Tulisan ini ingin menegaskan bahwa penanganan bencana yang berperspektif anak bukanlah pilihan tambahan, tetapi keharusan moral dan hukum. Anak adalah kelompok yang paling rentan dan dampak psikologis pada mereka adalah yang paling lama bertahan.

Jika kebijakan kita tetap berpusat pada orang dewasa dan urusan logistik semata, maka kita sedang membiarkan generasi mendatang tumbuh dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Kegagalan ini tidak hanya mencerminkan kekurangan dalam sistem penanganan bencana, tetapi juga kegagalan dalam memahami esensi kemanusiaan itu sendiri.

Sudah saatnya pengambil kebijakan meninjau ulang seluruh kerangka kerja penanganan bencana. Setiap posko pengungsian harus memiliki protokol perlindungan anak yang jelas. Setiap petugas harus dibekali pemahaman tentang kesehatan mental anak.

Setiap alokasi anggaran harus memasukkan komponen pemulihan psikososial. Dan setiap bencana harus dipandang sebagai panggilan untuk melindungi mereka yang paling kecil, bukan hanya mereka yang paling vokal meminta bantuan.

Anak-anak Aceh yang kini berada di pengungsian mungkin tidak mengerti rapat besar apa yang sedang dilakukan pemerintah. Mereka tidak tahu siapa yang menyediakan logistik atau bagaimana mekanisme koordinasi antarinstansi. Tetapi mereka merasakan ketakutan, kehilangan, dan kebingungan. Dan tugas negara adalah memastikan bahwa perasaan-perasaan itu tidak berubah menjadi trauma berkepanjangan. Jika kita ingin membangun masa depan yang lebih baik, maka kita harus mulai dengan melindungi mereka—sekarang, di tengah bencana, ketika mereka paling membutuhkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 197x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 177x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 157x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 135x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #Anak NegeriArtikel
SummarizeShare235
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Baca Juga

Cerita Perjalanan

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Maret 23, 2026
Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi, ART Dijadikan Direktur Perusahaannya
# Koruptor

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi, ART Dijadikan Direktur Perusahaannya

Maret 10, 2026
Kampus

Dialetika Kampus

Februari 27, 2026
Artikel

Ngapain Menulis?

Februari 23, 2026
Next Post

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com