Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Sore itu rumah terasa tenang. Angin bergerak pelan dari jendela ruang tamu yang terbuka setengah. Cahaya matahari masuk, jatuh di lantai keramik yang sudah mulai kusam dimakan usia.
Novi duduk di kursi kayu dekat ibunya. Di atas meja terdapat sebuah kotak kecil berwarna cokelat tua. Kotak itu tampak sederhana, tetapi disimpan dengan rapi.
“Apa itu, Bu?” tanya Novi sambil menunjuk kotak tersebut.
Ibunya tersenyum kecil. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati, seperti membuka sesuatu yang sangat berharga.
Di dalamnya ada sebuah medali, sertifikat yang sudah mulai menguning, dan beberapa foto lama.
“Ini milik kakekmu,” kata ibunya pelan.
Novi mengambil salah satu foto. Dalam foto itu terlihat seorang lelaki tua berdiri di samping sepeda. Wajahnya tenang, matanya tajam tetapi lembut.
“Itu sepeda kesayangan kakekmu,” kata ibunya.
Novi memperhatikan foto itu lebih lama.
“Kakek selalu naik sepeda?”
“Hampir ke mana-mana,” jawab ibunya. “Sepeda itu dibeli dari gaji sebagai pegawai negeri.”
Novi mengangguk pelan. Ia lalu memegang medali di dalam kotak.
“Ini medali pensiun?”
“Iya.”
“Apakah kakek bangga dengan itu?”
Ibunya tersenyum. “Sangat bangga.”
Novi terdiam beberapa saat. Lalu sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.
“Apa kakek tidak pernah tergoda?”
Ibunya menatapnya sebentar, lalu menatap keluar jendela.
“Zaman itu berbeda,” katanya perlahan. “Saat itu negara berada dalam masa pemerintahan yang sangat terpusat. Struktur pemerintahan sangat hierarkis.”
“Maksud Ibu?”
“Segala sesuatu seperti di atur dari atas ke bawah,” jawab ibunya. “Atasan mengendalikan bawahan. Bawahan harus patuh. Bahkan sampai urusan keluarga.”
Novi mendengarkan dengan serius.
“Fenomena itu sering disebut bapakisme,” lanjut ibunya. “Atasan seperti bapak yang harus diikuti. Anak buah jarang berani menolak.”
“Termasuk di kantor pemerintahan?”
“Iya.”
Ibunya mengambil foto lain. Dalam foto itu terlihat beberapa pegawai berdiri berjajar di halaman kantor lama.
“Kakekmu bekerja di bagian kepegawaian daerah,” katanya.
“Berarti kakek mengurus jabatan orang?”
“Kurang lebih begitu.”
“Jadi tanda tangannya penting.”
Ibunya mengangguk.
“Banyak orang berharap mendapat kenaikan pangkat atau jabatan. Dan tanda tangan pejabat di bagian kepegawaian bisa menentukan banyak hal.”
Novi menghela napas pelan.
“Berarti godaannya besar.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Suatu hari ada seseorang datang ke rumah,” katanya.
“Membawa apa?”
“Parcel besar.”
“Untuk kakek?”
“Iya.”
Novi menatap ibunya penuh rasa ingin tahu.
“Orang itu berbicara dengan sopan,” kata ibunya. “Ia mengatakan parcel itu hanya tanda terima kasih.”
“Tapi sebenarnya berharap sesuatu.”
Ibunya mengangguk.
“Ia berharap kenaikan jabatan.”
Novi menatap medali di tangannya.
“Lalu apa yang dilakukan kakek?”
Ibunya tertawa kecil.
“Kakekmu langsung mengembalikan parcel itu.”
“Langsung?”
“Langsung.”
“Apa orang itu marah?”
“Tidak,” jawab ibunya. “Ia hanya terlihat sangat canggung.”
Novi tersenyum.
“Tapi setelah itu keadaan di kantor berubah,” lanjut ibunya.
“Maksudnya?”
“Kakekmu mulai sering dikerjai.”
“Dikerjai?”
“Iya. Hal-hal kecil.”
Ibunya mengingat dengan perlahan.
“Kadang berkas yang seharusnya sudah selesai tiba-tiba dipersulit. Kadang ia diminta membuat laporan tambahan yang sebenarnya tidak perlu.”
“Seperti tekanan?”
“Bisa dibilang begitu.”
Novi terdiam.
“Apakah kakek marah?”
“Tidak.”
“Kesal?”
“Tentu saja manusia bisa merasa kesal,” kata ibunya. “Tetapi kakek tidak pernah mengeluh di rumah.”
📚 Artikel Terkait
“Kenapa?”
Ibunya tersenyum pelan.
“Ia hanya berkata satu hal.”
“Apa?”
“Lebih baik hidup sederhana daripada kehilangan harga diri.”
Novi merasakan kalimat itu seperti sesuatu yang berat sekaligus menenangkan.
“Lalu kakek memilih pensiun?”
“Iya. Ia meminta pensiun lebih awal.”
“Apakah itu keputusan sulit?”
“Tentu saja.”
Ibunya menutup kotak itu sebentar lalu membukanya kembali.
“Menjadi pegawai negeri pada masa itu dianggap pekerjaan yang sangat aman dan kebangaan,” katanya.
“Banyak orang ingin menjadi pegawai negeri.”
“Benar.”
Novi melihat kembali foto sepeda itu.
“Setelah pensiun, kakek melakukan apa?”
“Banyak bersepeda.”
Novi tersenyum.
“ Kakek bersepeda ,kadang ke pasar, kadang ke rumah teman lama.”
“Sepedanya masih ada?”
“Sudah tidak,” jawab ibunya. “Tapi dulu sepeda itu sangat ia sayangi.”
“Karena dibeli dari gaji sendiri?”
“Iya.”
Novi mengangguk pelan.
“Ibu waktu kecil hidup bagaimana?” tanya Novi.
Ibunya tertawa kecil.
“Kami hidup sederhana.”
“Seberapa sederhana?”
“Dari gaji pegawai negeri dan jatah beras pemerintah.”
“Jatah beras?”
“Iya.”
“Setiap bulan?”
Ibunya mengangguk.
“Pada masa pemerintahan dulu, pegawai negeri mendapat jatah beras. Itu membantu kehidupan keluarga.”
“Apakah cukup?”
“Cukup kalau hidup tidak berlebihan.”
Novi menatap ibunya dengan rasa ingin tahu.
“Apakah Ibu pernah merasa kekurangan?”
Ibunya berpikir sebentar.
“Mungkin ada masa sulit,” katanya. “Tetapi kami tidak pernah merasa kekurangan.”
“Kenapa?”
“Kakekmu menikahi perempuan yang bisa menerima keadaan.”
“Maksudnya nenek?”
“Iya.”
Ibunya tersenyum hangat.
“Nenek berasal dari keluarga yang cukup terpandang,” katanya.
“Berarti keluarganya berkecukupan?”
“Iya. Ada warisan keluarga.”
“Jadi kehidupan rumah tangga tetap berjalan.”
“Benar.”
Novi mengangguk pelan.
“Kadang idealisme seorang laki-laki membutuhkan pasangan yang memahami,” kata ibunya.
Novi memandang kotak kecil itu lagi.
“Apakah kakek sangat menyayangi Ibu?”
Ibunya tersenyum.
“Sangat.”
“Bagaimana dengan aku?”
Ibunya menatap Novi dengan mata lembut.
“Kakek sangat menyayangimu.”
“Padahal aku hampir tidak mengenalnya.”
“Kamu cucu pertama.”
Novi terdiam.
“Kakek sering menggendongmu,” kata ibunya.
“Benarkah?”
“Iya. Ia sangat senang melihatmu.”
Novi tersenyum kecil.
“Tapi aku tidak ingat.”
“Kamu baru dua tahun ketika kakek meninggal.”
Suasana ruangan menjadi lebih sunyi.
Angin masih masuk dari jendela.
Novi memandang foto sepeda itu lagi.
Tiba-tiba ia merasa seperti mengenal lelaki dalam foto tersebut.
“Mungkin karena itu aku keras kepala,” kata Novi pelan.
Ibunya tertawa kecil.
“Keras kepala bagaimana?”
“Kalau sudah yakin sesuatu benar, aku sulit berubah.”
Ibunya tersenyum.
“Mungkin memang begitu.”
Novi menatap ibunya.
“Darah keluarga memang menentukan tabiat dan prilaku” kata ibu.
“Dari siapa?”
“Dari banyak orang.”
Ibunya mengambil salah satu foto lama yang lain.
“Dari pihak ayahmu, kakekmu seorang dokter yang sangat aktif dalam gerakan politik pada masa awal kemerdekaan.”
Novi mengangguk.
“Ia dikenal sebagai orang yang berani dan idealis.”
“Dan dari pihak ibu?”
“Kakek yang memilih hidup dari gaji dan jatah beras.”
Novi menarik napas panjang.
Dua cerita yang sangat berbeda.
Tetapi keduanya memiliki satu kesamaan prinsip.
Novi memandang medali pensiun itu sekali lagi.
Medali itu bukan emas yang mewah.Tiidak berkilau mewah
Tetapi di balik medali kecil itu ada sebuah kehidupan.
Ada keputusan sulit.
Ada keberanian untuk menolak.
Ada pilihan untuk hidup sederhana.
Dan ada seorang lelaki yang memilih tetap jujur ketika banyak orang memilih jalan yang lebih pragmatis.
Novi menutup kotak itu perlahan.
Ia merasa seperti baru saja menerima sebuah warisan.
Bukan warisan harta.
Bukan warisan benda.
Melainkan warisan sikap hidup yang mengalir diam-diam melalui cerita, ingatan, dan darah keluarga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





