POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Sepeda dan Medali Pensiun

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
March 9, 2026
Sepeda dan Medali Pensiun
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Sore itu rumah terasa tenang. Angin bergerak pelan dari jendela ruang tamu yang terbuka setengah. Cahaya matahari masuk, jatuh di lantai keramik yang sudah mulai kusam dimakan usia.

Novi duduk di kursi kayu dekat ibunya. Di atas meja terdapat sebuah kotak kecil berwarna cokelat tua. Kotak itu tampak sederhana, tetapi disimpan dengan rapi.

“Apa itu, Bu?” tanya Novi sambil menunjuk kotak tersebut.

Ibunya tersenyum kecil. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati, seperti membuka sesuatu yang sangat berharga.

Di dalamnya ada sebuah medali, sertifikat yang sudah mulai menguning, dan beberapa foto lama.

“Ini milik kakekmu,” kata ibunya pelan.

Novi mengambil salah satu foto. Dalam foto itu terlihat seorang lelaki tua berdiri di samping sepeda. Wajahnya tenang, matanya tajam tetapi lembut.

“Itu sepeda kesayangan kakekmu,” kata ibunya.

Novi memperhatikan foto itu lebih lama.

“Kakek selalu naik sepeda?”

“Hampir ke mana-mana,” jawab ibunya. “Sepeda itu dibeli dari gaji sebagai pegawai negeri.”

Novi mengangguk pelan. Ia lalu memegang medali di dalam kotak.

“Ini medali pensiun?”

“Iya.”

“Apakah kakek bangga dengan itu?”

Ibunya tersenyum. “Sangat bangga.”

Novi terdiam beberapa saat. Lalu sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.

“Apa kakek tidak pernah tergoda?”

Ibunya menatapnya sebentar, lalu menatap keluar jendela.

“Zaman itu berbeda,” katanya perlahan. “Saat itu negara berada dalam masa pemerintahan yang sangat terpusat. Struktur pemerintahan sangat hierarkis.”

“Maksud Ibu?”

“Segala sesuatu seperti di atur dari atas ke bawah,” jawab ibunya. “Atasan mengendalikan bawahan. Bawahan harus patuh. Bahkan sampai urusan keluarga.”

Novi mendengarkan dengan serius.

“Fenomena itu sering disebut bapakisme,” lanjut ibunya. “Atasan seperti bapak yang harus diikuti. Anak buah jarang berani menolak.”

“Termasuk di kantor pemerintahan?”

“Iya.”

Ibunya mengambil foto lain. Dalam foto itu terlihat beberapa pegawai berdiri berjajar di halaman kantor lama.

“Kakekmu bekerja di bagian kepegawaian daerah,” katanya.

“Berarti kakek mengurus jabatan orang?”

“Kurang lebih begitu.”

“Jadi tanda tangannya penting.”

Ibunya mengangguk.

“Banyak orang berharap mendapat kenaikan pangkat atau jabatan. Dan tanda tangan pejabat di bagian kepegawaian bisa menentukan banyak hal.”

Novi menghela napas pelan.

“Berarti godaannya besar.”

Ibunya tersenyum tipis.

“Suatu hari ada seseorang datang ke rumah,” katanya.

“Membawa apa?”

“Parcel besar.”

“Untuk kakek?”

“Iya.”

Novi menatap ibunya penuh rasa ingin tahu.

“Orang itu berbicara dengan sopan,” kata ibunya. “Ia mengatakan parcel itu hanya tanda terima kasih.”

“Tapi sebenarnya berharap sesuatu.”

Ibunya mengangguk.

“Ia berharap kenaikan jabatan.”

Novi menatap medali di tangannya.

“Lalu apa yang dilakukan kakek?”

Ibunya tertawa kecil.

“Kakekmu langsung mengembalikan parcel itu.”

“Langsung?”

“Langsung.”

“Apa orang itu marah?”

“Tidak,” jawab ibunya. “Ia hanya terlihat sangat canggung.”

Novi tersenyum.

“Tapi setelah itu keadaan di kantor berubah,” lanjut ibunya.

“Maksudnya?”

“Kakekmu mulai sering dikerjai.”

“Dikerjai?”

“Iya. Hal-hal kecil.”

Ibunya mengingat dengan perlahan.

“Kadang berkas yang seharusnya sudah selesai tiba-tiba dipersulit. Kadang ia diminta membuat laporan tambahan yang sebenarnya tidak perlu.”

“Seperti tekanan?”

“Bisa dibilang begitu.”

Novi terdiam.

“Apakah kakek marah?”

“Tidak.”

“Kesal?”

“Tentu saja manusia bisa merasa kesal,” kata ibunya. “Tetapi kakek tidak pernah mengeluh di rumah.”

📚 Artikel Terkait

Mendamba Presiden Pro Perempuan dan Keberagaman

Fanatik Menjadi Langkah Awal Kebodohan

HABA Si PATok

Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami

“Kenapa?”

Ibunya tersenyum pelan.

“Ia hanya berkata satu hal.”

“Apa?”

“Lebih baik hidup sederhana daripada kehilangan harga diri.”

Novi merasakan kalimat itu seperti sesuatu yang berat sekaligus menenangkan.

“Lalu kakek memilih pensiun?”

“Iya. Ia meminta pensiun lebih awal.”

“Apakah itu keputusan sulit?”

“Tentu saja.”

Ibunya menutup kotak itu sebentar lalu membukanya kembali.

“Menjadi pegawai negeri pada masa itu dianggap pekerjaan yang sangat aman dan kebangaan,” katanya.

“Banyak orang ingin menjadi pegawai negeri.”

“Benar.”

Novi melihat kembali foto sepeda itu.

“Setelah pensiun, kakek melakukan apa?”

“Banyak bersepeda.”

Novi tersenyum.

“ Kakek bersepeda ,kadang ke pasar, kadang ke rumah teman lama.”

“Sepedanya masih ada?”

“Sudah tidak,” jawab ibunya. “Tapi dulu sepeda itu sangat ia sayangi.”

“Karena dibeli dari gaji sendiri?”

“Iya.”

Novi mengangguk pelan.

“Ibu waktu kecil hidup bagaimana?” tanya Novi.

Ibunya tertawa kecil.

“Kami hidup sederhana.”

“Seberapa sederhana?”

“Dari gaji pegawai negeri dan jatah beras pemerintah.”

“Jatah beras?”

“Iya.”

“Setiap bulan?”

Ibunya mengangguk.

“Pada masa pemerintahan dulu, pegawai negeri mendapat jatah beras. Itu membantu kehidupan keluarga.”

“Apakah cukup?”

“Cukup kalau hidup tidak berlebihan.”

Novi menatap ibunya dengan rasa ingin tahu.

“Apakah Ibu pernah merasa kekurangan?”

Ibunya berpikir sebentar.

“Mungkin ada masa sulit,” katanya. “Tetapi kami tidak pernah merasa kekurangan.”

“Kenapa?”

“Kakekmu menikahi perempuan yang bisa menerima keadaan.”

“Maksudnya nenek?”

“Iya.”

Ibunya tersenyum hangat.

“Nenek berasal dari keluarga yang cukup terpandang,” katanya.

“Berarti keluarganya berkecukupan?”

“Iya. Ada warisan keluarga.”

“Jadi kehidupan rumah tangga tetap berjalan.”

“Benar.”

Novi mengangguk pelan.

“Kadang idealisme seorang laki-laki membutuhkan pasangan yang memahami,” kata ibunya.

Novi memandang kotak kecil itu lagi.

“Apakah kakek sangat menyayangi Ibu?”

Ibunya tersenyum.

“Sangat.”

“Bagaimana dengan aku?”

Ibunya menatap Novi dengan mata lembut.

“Kakek sangat menyayangimu.”

“Padahal aku hampir tidak mengenalnya.”

“Kamu cucu pertama.”

Novi terdiam.

“Kakek sering menggendongmu,” kata ibunya.

“Benarkah?”

“Iya. Ia sangat senang melihatmu.”

Novi tersenyum kecil.

“Tapi aku tidak ingat.”

“Kamu baru dua tahun ketika kakek meninggal.”

Suasana ruangan menjadi lebih sunyi.

Angin masih masuk dari jendela.

Novi memandang foto sepeda itu lagi.

Tiba-tiba ia merasa seperti mengenal lelaki dalam foto tersebut.

“Mungkin karena itu aku keras kepala,” kata Novi pelan.

Ibunya tertawa kecil.

“Keras kepala bagaimana?”

“Kalau sudah yakin sesuatu benar, aku sulit berubah.”

Ibunya tersenyum.

“Mungkin memang begitu.”

Novi menatap ibunya.

“Darah keluarga memang menentukan tabiat dan prilaku” kata ibu.

“Dari siapa?”

“Dari banyak orang.”

Ibunya mengambil salah satu foto lama yang lain.

“Dari pihak ayahmu, kakekmu seorang dokter yang sangat aktif dalam gerakan politik pada masa awal kemerdekaan.”

Novi mengangguk.

“Ia dikenal sebagai orang yang berani dan idealis.”

“Dan dari pihak ibu?”

“Kakek yang memilih hidup dari gaji dan jatah beras.”

Novi menarik napas panjang.

Dua cerita yang sangat berbeda.

Tetapi keduanya memiliki satu kesamaan prinsip.

Novi memandang medali pensiun itu sekali lagi.

Medali itu bukan emas yang mewah.Tiidak berkilau mewah

Tetapi di balik medali kecil itu ada sebuah kehidupan.

Ada keputusan sulit.

Ada keberanian untuk menolak.

Ada pilihan untuk hidup sederhana.

Dan ada seorang lelaki yang memilih tetap jujur ketika banyak orang memilih jalan yang lebih pragmatis.

Novi menutup kotak itu perlahan.

Ia merasa seperti baru saja menerima sebuah warisan.

Bukan warisan harta.

Bukan warisan benda.

Melainkan warisan sikap hidup yang mengalir diam-diam melalui cerita, ingatan, dan darah keluarga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 81x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 66x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00