Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Di mana-mana perang itu menyakitkan. Imbasnya ke mana-mana. Termasuklah jamaah umrah kita, mereka terkatung-katung di Jeddah. Kasihan tengoknya. Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!
Di bawah langit Timur Tengah yang sedang murka oleh konflik Iran vs Israel-Amerika Serikat, ada 58.873 jamaah umrah Indonesia yang kini bukan sedang thawaf, bukan sedang sa’i, melainkan sedang menunggu kepastian di antara jadwal penerbangan yang runtuh satu per satu. Mereka datang dengan niat suci, pulang dengan harapan sederhana, tiba di rumah sebelum takbir menggema. Namun takdir menahan mereka di ruang tunggu, di lorong-lorong panjang Bandara Internasional King Abdulaziz, yang dinginnya bukan hanya karena pendingin udara, tetapi karena ketidakpastian.
Tidak ada larangan resmi umrah dari pemerintah Arab Saudi. Visa tetap berlaku. Pintu Tanah Suci tidak ditutup. Secara administratif, semuanya sah. Namun langitlah yang terkunci. Ruang udara di sejumlah kawasan ditutup, maskapai membatalkan rute, ribuan penerbangan berguguran. Kata “cancelled” di layar keberangkatan lebih sering muncul dari senyum di wajah para jamaah. Pemerintah Indonesia sudah memulangkan sekitar 6.047 orang secara bertahap. Angka itu terdengar seperti kabar baik. Namun di baliknya, puluhan ribu lainnya masih menunggu giliran pulang, menunggu nama mereka dipanggil oleh pengeras suara yang tak kunjung menyebut Indonesia.
Di lantai marmer bandara itu, pemandangan yang terhampar bukan lagi rombongan penuh semangat dengan koper berwarna seragam. Kini mereka berseragam khas Indonesia, batik travel yang mulai kusut, jilbab putih yang tak lagi rapi, peci hitam yang tergeletak di atas tas. ID card umrah masih tergantung di dada, menjadi saksi, mereka datang sebagai tamu Allah, bukan sebagai pengungsi penerbangan. Namun tubuh-tubuh itu kini berbaring di lantai, memeluk koper seperti memeluk sisa kepastian.
Seorang bapak duduk bersandar pada tiang, menatap layar ponsel dengan mata sembab. Di layar itu, mungkin cucunya di kampung melambaikan tangan. “Kapan pulang, Kek?” Pertanyaan polos itu lebih berat dari koper 30 kilogram yang ia seret sejak Madinah. Seorang ibu membentangkan mukena putihnya, bukan untuk salat, tetapi untuk selimut darurat. Mukena yang tadi dipakai dengan air mata haru di Masjidil Haram kini menjadi penahan dingin bandara. Ia memejamkan mata, tetapi rindu tidak pernah benar-benar tidur.
Lebaran tinggal menghitung hari. Di rumah, toples kue mungkin sudah tersusun. Ketupat mungkin sudah dipesan. Anak-anak mungkin sudah membayangkan pelukan di pintu kedatangan. Namun di Jeddah, waktu seperti berhenti. Siang dan malam tak lagi berbeda. Lampu bandara tidak pernah padam, seperti mengolok-olok mereka yang berharap hari cepat berganti. Pengumuman maskapai dalam bahasa asing terdengar seperti mantra yang tak pernah membawa kabar baik.
📚 Artikel Terkait
Mereka pergi untuk mencari kedamaian, tetapi justru dipaksa belajar sabar di atas lantai marmer yang dingin. Dunia menyebutnya gangguan operasional akibat eskalasi geopolitik. Bagi keluarga di Indonesia, ini adalah ujian rindu yang paling menyakitkan. Setiap berita tentang konflik terasa seperti jarum yang menusuk dada para penunggu di rumah.
Di antara koper berisi kurma dan air zamzam yang sudah siap dibagikan, para jamaah itu terbaring dengan satu doa yang sama, pulang tepat waktu. Mereka tidak menuntut kemewahan. Mereka tidak meminta keajaiban besar. Mereka hanya ingin mendengar takbir di kampung sendiri, bukan di ruang tunggu bandara asing.
Jika konflik ini adalah permainan para pemimpin dunia, maka pion-pionnya kini sedang berbaring lelah di Jeddah, merindukan tanah air dengan air mata yang ditahan. Lebaran seharusnya tentang kembali. Bagi mereka, kembali kini terasa seperti doa yang digantung di langit yang belum mau terbuka.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






