Dengarkan Artikel
Oleh M. Afin Masrija
Berdomisili di Kediri
Banal masih terbujur di atas dipan mewah di kamar itu—dipan berlapis beludru abu-abu yang dulu ia pilih dengan telunjuk bergetar oleh rasa bangga. Beludru itu kini tampak kusam, seperti kulit seekor binatang tua yang terlalu lama dipamerkan.
Di langit-langit, lampu gantung bergaya Eropa berpendar redup, memantulkan bayang-bayang yang bergerak lamban mengikuti napasnya. Kamar itu luas, dingin, dan sunyi, seolah sengaja dirancang untuk menampung orang-orang yang tak lagi punya siapa-siapa.
Matanya berkaca-kaca. Bukan semata karena nyeri yang menjalar dari pinggang hingga leher, melainkan karena sebuah kesadaran yang datang terlambat—kesadaran tentang bahasa hidup yang selama ini ia abaikan. Bahasa yang tak pernah dipelajarinya ketika masih berteriak lantang di podium-podium, ketika tepuk tangan bergulung seperti ombak dan namanya dielu-elukan sebagai harapan.
Seorang politisi yang dulu ditakuti kini menjadi pesakitan. Berharap sembuh tak mampu, mati pun tak mau.
Di luar kamar, rumah itu hidup dengan cara yang lain. Televisi menyala tanpa ditonton. Jam dinding berdetak terlalu keras. Langkah kaki berlalu-lalang tanpa pernah berhenti di depan pintu kamar Banal. Istrinya, Vigra, hanya masuk bila benar-benar terpaksa. Anak-anaknya—dua orang yang dulu sering ia sebut sebagai “alasan perjuangan”—bahkan tak menoleh ketika melewati koridor itu. Seakan kamar itu adalah ruang terlarang, atau lubang gelap yang tak ingin mereka akui keberadaannya.
Banal mencoba menghitung kembali semua yang pernah ia korbankan. Tahun-tahun panjang rapat, perjalanan, janji-janji yang ia ucapkan dengan suara penuh keyakinan. Ia merasa telah memberikan segalanya. Namun segera sebuah pertanyaan muncul, pelan tapi tajam: segalanya untuk siapa?
Ia teringat sebuah kalimat yang pernah ia ucapkan, entah kepada wartawan atau kolega politiknya, ketika ditanya tentang moral dan balas jasa: bukankah berharap kebaikan dibalas kebaikan juga sesuatu yang tidak sepenuhnya benar? Kalimat itu dulu terdengar cerdas, nyaris filosofis. Kini, kalimat yang sama berbalik menjadi pisau yang ia hunus sendiri ke dadanya.
Di lingkungan sekitar, nama Banal kembali disebut, kali ini dengan intonasi yang berbeda. Tetangga-tetangga yang dulu menunduk ketika berpapasan kini berdiri di balik pagar, berbicara setengah berbisik namun cukup keras untuk didengar.
“Nasibnya kayak tebu,” kata seseorang. “Habis manis, sepah dibuang.”
Di warung kopi dan teras mushala, beberapa tokoh desa ikut mengomentari. Nada mereka bercampur antara iba dan kepuasan yang tak diakui.
“Aduh, kasihan sekali,” ujar seorang lelaki paruh baya sambil mengaduk kopinya. “Di usia senja, anak istri tak peduli.”
Namun kasihan itu cepat menguap. Ada pula yang menyebutnya durhaka—sebuah vonis yang ringan di lidah, berat dalam iman. Bahkan ada yang sudah memastikan tempat Banal kelak, seolah kunci akhirat dapat dipinjamkan kepada siapa saja yang merasa paling benar.
Banal mendengar semuanya, meski tak ada yang mengatakannya langsung di hadapannya. Kata-kata semacam itu selalu menemukan jalan sendiri, merayap lewat celah jendela, lewat tatapan yang pura-pura sibuk, lewat keheningan yang terlalu lama.
Tenggorokannya kering. Ia meraih bel, menekannya sekali, dua kali. Tak ada jawaban. Ia menelan ludah, mengumpulkan sisa tenaga.
“Maa…” suaranya serak, hampir tak terdengar. “Tolong ambilkan minum.”
📚 Artikel Terkait
Hening. Ia mengulanginya, sedikit lebih keras, seperti anak kecil yang belajar meminta.
Pintu kamar terbuka setengah. Vigra berdiri di sana. Rambutnya disanggul seadanya, wajahnya datar, mata cekung oleh lelah yang menahun. Bukan lelah sehari dua hari, melainkan lelah yang mengendap seperti endapan kopi di dasar cangkir.
“Hiiih…” desisnya pelan, nyaris seperti geraman. “Nyusahin aja… ini!”
Kalimat itu jatuh tanpa teriakan, justru karena itu terasa lebih menyakitkan. Air mata Banal berlinang. Ia terisak tanpa suara, takut suaranya akan menambah kemarahan. Di ruang tengah, anak-anaknya mendengar. Mereka tahu apa yang sedang terjadi. Namun tak satu pun datang. Pemandangan itu terlalu biasa, seperti hujan yang turun hampir setiap sore.
Wajah Vigra tampak lelah, bukan marah. Anak-anak itu menatap ayah mereka dengan amarah yang dingin—amarah yang tidak meledak, tapi menetap, seperti bara yang tak pernah padam.
Dalam keadaan itu, Banal sadar ia sebenarnya masih beruntung. Ia belum ditendang keluar dari rumah itu. Padahal rumah tersebut, betapapun sering ia klaim sebagai miliknya, dibangun bersama. Dari hari-hari awal pernikahan, dari malam-malam Vigra menghitung uang belanja sambil menunggu suaminya pulang rapat.
Kini, mantan politisi itu seperti macan di ujung kematian: taring masih ada, tapi rahang tak lagi mampu menggigit.
Ornamen gaya Eropa di kamar itu—patung Zeus dengan otot membatu, guci antik yang retak halus di bibirnya, perabotan porselen yang dingin—semuanya tampak acuh. Seolah mereka telah lama memahami mengapa nasib tuannya berakhir demikian. Kemewahan memang tak pernah pandai menghibur manusia yang kehabisan makna.
Dulu, Banal adalah politisi kelas atas. Namanya dielu-elukan. Setiap orasi disambut tepuk tangan. Perawakannya gagah, suaranya mengaum seperti macan. Ia dermawan di mata publik, ramah kepada konstituen, peduli kepada siapa pun yang membawa proposal.
Relasinya di mana-mana. Teleponnya tak pernah sepi.
Namun di rumah, ia seperti orang lain. Pendiam ketika ditanya, mudah marah ketika dikritik. Waktu jaya-jayanya, tidak semua pendapatannya masuk ke rekening Vigra. Sebagian mengalir ke rekening-rekening antah berantah—uang yang tak pernah dijelaskan, tak pernah dipertanggungjawabkan.
Vigra pernah mencoba memahami. Ia berpikir, mungkin ini harga dari kekuasaan. Namun ketika ia tahu sebagian uang itu digunakan untuk membiayai perempuan lain, pemahaman itu runtuh.
Teriakan, bentakan, dan makian menjadi makanan sehari-hari. Pernah suatu kali—peristiwa yang membeku dalam ingatan—Banal justru membela selingkuhannya ketika Vigra melabraknya di sebuah tempat karaoke.
“Kalau cuma ganti istri, mudah saja bagiku,” katanya. “Dan kalau aku mencintainya, memangnya kenapa?”
Kata-kata itu tidak hanya merobek Vigra, tetapi juga dunia anak-anak mereka yang tanpa sengaja mendengar. Sejak hari itu, sesuatu patah.
Vigra sempat meminta cerai. Namun ancaman datang lebih cepat daripada harapan. Banal tahu betul kasus apa saja yang bisa menjerat keluarga Vigra—semua informasi itu pernah ia kumpulkan sebagai senjata, bukan sebagai tanggung jawab.
Walhasil, Vigra hanya mampu terisak setiap malam. Menangis tanpa suara, menelan rasa malu, menanggung luka yang pelan-pelan disaksikan anak-anaknya. Anak-anak itu tumbuh. Mereka mulai paham. Luka ibu mereka menjadi api kecil yang menyala diam-diam, mengoyak semua sisa kebaikan yang mungkin masih melekat pada nama ayahnya.
Dulu, ketika masih kecil, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Kini, ketika ayah mereka tua dan rapuh, mereka memilih tidak melakukan apa-apa.
“Kalau mau mati, mati saja!” kata Vigra suatu malam, suaranya pecah. “Aku sudah capek.”
“Orang kayak gini nggak perlu dikasihani,” sahut anak sulungnya. “Tendang saja dari rumah ini.”
Kalimat itu tak pernah benar-benar dilaksanakan. Namun cukup untuk membuat Banal paham: ia tidak lagi punya tempat, bahkan di rumah yang ia bangun dengan uang dan nama besar.
Di atas dipan mewah itu, Banal memejamkan mata. Ia mencoba mengingat semua kebaikan yang pernah ia lakukan. Namun ingatan itu selalu berakhir pada satu kenyataan sederhana: kebaikan yang tak pernah sampai ke rumah sendiri sering kali hanya menjadi alat pamer di luar.
Sore jatuh pelan. Bayangan lampu bergeser di dinding. Untuk pertama kalinya, Banal merasa benar-benar sendirian—bukan karena ditinggalkan, melainkan karena ia tak pernah sungguh-sungguh pulang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






