HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Penjor vs Kabel PLN

Redaksi by Redaksi
November 17, 2025
in Adat, Artikel, Bali, Tradisi
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Setiap Galungan, Bali kembali memancarkan cahaya tuanya: penjor-penjor melengkung di pintu gerbang rumah, bagaikan doa yang menjulur ke langit. 

Baca Juga

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Bagi umat Hindu, penjor bukan sekadar hiasan musiman. Ia adalah tanda kemenangan dharma melawan adharma, pengingat bahwa hidup selalu bergerak di antara terang dan gelap. Ia bagian dari upakara, satu tarikan napas dengan banten, satu tubuh dengan lebuh tempat persembahan.

ADVERTISEMENT

Penjor tak bisa dipindah-pindah semaunya, karena posisinya bukan barang teknis—ia sakral, ia simbol jalan pulang.

Namun di dunia paradoks Bali hari ini, bahkan sesuatu yang sesakral itu pun bisa berjumpa dengan logika kabel dan tiang listrik. 

PLN, melalui seorang pejabatnya, mengimbau agar penjor dipasang 2,5 meter dari kabel listrik. Maksudnya jelas: keselamatan, keamanan, dan kelancaran aliran listrik.

Tetapi kebaikan, bila tak diantar dengan bahasa yang tepat, bisa tiba sebagai tamu yang salah kamar. Imbauan itu sontak menjadi riuh, bukan karena umat menolak keselamatan, melainkan karena letak penjor bukanlah keputusan teknis yang bisa digeser demi jarak aman. 

Seolah PLN mengira penjor adalah layangan yang bisa dilarang terbang di zona tertentu, padahal penjor justru adalah akar yang ditancapkan pada pemeson rumah—tempat yang tak bisa dipindahkan hanya karena kabel melintas di atasnya.

Di sinilah paradoks itu menari: antara sakral dan teknis, antara upakara dan utilitas, antara tradisi yang mengakar ribuan tahun dan kabel yang baru beberapa dekade membentang di langit Bali.

Memang, umat Hindu selama ini bukan tak tahu risiko. Bila penjor kebetulan berada dekat dengan kabel, mereka menyesuaikan dengan cara mereka sendiri—tingginya ditakar, ronce janurnya dirapikan—tanpa menggeser makna dan tanpa menodai tata letak.

Tradisi punya cara bertahan tanpa perlu diceramahi, asal didekati dengan bahasa yang mengerti roh zaman dan roh keyakinan.

Yang disayangkan adalah mereka yang memanfaatkan imbauan ini menjadi panggung politik murahan. Mereka yang dengan gesit menunggangi isu sensitif, seolah keberingasan itu adalah tugas sucinya. 

Padahal, tak semua perselisihan layak dijadikan komoditas emosional. Tidak semua kabar perlu dibakar agar tampak menyala.

Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanya satu hal: jeda untuk memahami sebelum menghakimi.

Saya yakin PLN punya niat baik. Hampir setiap Galungan, imbauan sejenis selalu muncul. Yang kurang hanyalah komunikasi yang mampu menembus nalar sekaligus nurani. Karena Bali bukan hanya soal efisiensi teknis, tetapi juga tentang rasa, tata, dan adat yang sudah lama mengisi ruang hidup warganya.

Mungkin yang lebih mendesak untuk dipikirkan adalah ini: Bali tanpa kabel semrawut. Kabel PLN, kabel Telkom, kabel dari berbagai operator yang bersilangan seperti jaring raksasa—menangkap langit bukan untuk kebaikan, melainkan untuk menghalangi. 

Berapa kali ngaben harus berhenti di tengah jalan agar wadah bisa lewat? Berapa kali mapepada tertahan oleh kabel yang menggantung rendah? Berapa banyak layang-layang yang putus karena tersangkut, berapa kali petugas harus memotong sementara jaringan demi memberi jalan bagi upacara adat?

Paradoksnya: Bali yang menjunjung langit justru dihalangi oleh kabel-kabel yang menjerat horizon.

Sudah saatnya Bali membayangkan ruang udara yang bersih, bukan hanya demi estetika, tetapi demi keharmonisan antara tradisi dan modernitas.

Teknologi bisa berbaikan dengan adat bila keduanya mau saling merunduk, saling memberi tempat.

Dan semua itu bermula dari satu hal yang sederhana: bahasa yang mengerti tempatnya, bahasa yang tahu kapan harus lembut, kapan harus tegas, dan kapan harus berhenti sebelum melukai.

Di Bali, kata-kata pun adalah upakara. Dan seperti penjor, ia tak boleh dipasang sembarangan.

Denpasar, 16 Nopember 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 288x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 181x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 149x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Esai

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Di Antara Idealisme dan Honorarium: Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik
# Ironi

Di Antara Idealisme dan Honorarium: Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik

Maret 17, 2026
#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Next Post

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com