• Latest

Dari Warung Gampong ke Seulawah: Demokrasi Ekonomi dan Politik Pancasila di Aceh

September 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dari Warung Gampong ke Seulawah: Demokrasi Ekonomi dan Politik Pancasila di Aceh

Redaksi by Redaksi
September 11, 2025
in #Arsip, #Kontemplasi, #Masakan Aceh, #Sumbangan Aceh, Aceh, Artikel, Warung kopi
Reading Time: 4 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Ditulis oleh Muhamad Ihwan

Suasana ruang Zoom Meeting itu sederhana, wajah-wajah peserta berjejer rapi di layar. Meski hanya virtual, Diklat Ideologi Pancasila yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan ANRI terasa hidup. 

Para pengajar maheswara, begitu istilahnya tak hanya menyampaikan materi, melainkan mengajak kami merenung. Salah satu kalimat yang menancap: “Ekonomi Pancasila adalah jalan tengah: bukan kapitalisme yang rakus, bukan sosialisme yang mengebiri inisiatif.”

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Kalimat itu mengiang lama, terutama bagi saya yang sudah lima tahun lebih bertugas di Aceh. Sebab di tanah ini, Pancasila bukan sekadar jargon. Ia hidup dalam tradisi kenduri, gotong royong pasca-tsunami, budaya minum kopi, hingga cara masyarakat menjaga alam dan memuliakan tamu. Aceh adalah laboratorium kecil bagaimana Pancasila menemukan wujud paling konkritnya.

Kenduri dan Gotong Royong: Ekonomi Pancasila di Meja Makan

Setiap bulan Rabiul Awal, masyarakat Aceh punya tradisi: Kenduri Maulid. Mereka yang mampu dianggap tabu bila tidak ikut serta. Seekor kerbau atau sapi dibeli bersama, dipotong, lalu dimasak jadi kuah beulangong yang beraroma rempah. Semua orang, tanpa pandang status, duduk bersila menyantap hidangan.

Ini bukan sekadar pesta kuliner. Kenduri Maulid adalah wajah asli sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang kaya berbagi, yang kurang mampu mendapat tempat, semua merasa terhormat. Di Aceh, gotong royong bukan istilah di buku pelajaran, tapi laku sehari-hari yang terus diwariskan.

Aceh Pasca-Tsunami: Pancasila yang Menyelamatkan

Ketika gempa dan tsunami 2004 meluluhlantakkan Aceh, ribuan nyawa melayang, arsip berharga hanyut, rumah-rumah rata dengan tanah. Namun, dari puing-puing itu lahir kembali semangat gotong royong. Masyarakat bahu-membahu membangun gampong, mendirikan kembali meunasah, membersihkan jalan, bahkan menolong tetangga yang kehilangan segalanya.

Data BRR NAD-Nias mencatat lebih dari 140 ribu rumah dibangun kembali dalam waktu relatif singkat berkat kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia internasional. Inilah sila ketiga, Persatuan Indonesia, yang menemukan makna paling nyata.

Syariat Islam dan Ketuhanan yang Maha Esa

Aceh juga punya corak khas dalam menerjemahkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Syariat Islam berlaku di ranah publik bagi Muslim, sementara non-Muslim dihormati untuk tetap menjalankan keyakinannya.

Ketaatan itu tampak nyata di jalan-jalan kota. Saat azan Magrib berkumandang, toko, warung kopi, dan roda bisnis berhenti serentak. Aktivitas ekonomi tunduk pada panggilan Tuhan. Di titik inilah ekonomi dan iman saling berpelukan: keuntungan duniawi tak boleh mengalahkan kewajiban ukhrawi.

Warung Gampong dan Ekonomi Lokal

Jika di kota-kota besar orang lebih senang ke supermarket, masyarakat Aceh punya kebiasaan lain: belanja di warung gampong. Warung kecil bukan sekadar tempat membeli gula atau minyak, tetapi juga ruang interaksi sosial, tempat gosip politik hingga musyawarah kecil tentang sawah dan laut.

Data BPS Aceh menunjukkan, lebih dari 70% aktivitas perdagangan ritel di wilayah pedesaan masih ditopang oleh warung lokal. Inilah wujud nyata sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang mengalir sampai ke ruang ekonomi.

Alam dan Budaya: Menjaga Kehidupan Bersama

Aceh masih asri. Di subuh yang hening, burung-burung melintas di langit Lhokseumawe, udara segar berhembus dari hutan di Gayo. Penduduknya ramah, memuliakan tamu peumulia jamee seperti pepatah yang mereka pegang teguh: tamu adalah raja.

Budaya minum kopi yang menjamur di setiap sudut kota adalah simbol lain keterbukaan. Warung kopi bukan sekadar tempat menyeruput robusta Ulee Kareng, melainkan forum musyawarah. Di sana politik dibicarakan, ekonomi dirundingkan, dan silaturahmi dirawat.

Dari Seulawah untuk Republik

Sejarah juga mencatat peran Aceh di masa awal Republik. Tahun 1948, Presiden Soekarno datang ke Banda Aceh bukan sekadar mencari simpati, melainkan dukungan nyata. Rakyat Aceh, yang kala itu hidup sederhana, mengumpulkan emas, uang, dan harta benda untuk negara. Dari sumbangan itu lahirlah Pesawat Dakota Seulawah 1, cikal bakal Garuda Indonesia Airways.

Tak berhenti di situ, emas dari masyarakat Aceh juga turut menopang pembangunan Monumen Nasional (Monas), simbol kejayaan bangsa yang berdiri di jantung Jakarta. Gotong royong Aceh melampaui batas wilayah, menyatu dengan sejarah bangsa.

Demokrasi Politik di Gampong

ADVERTISEMENT

Dalam politik, demokrasi di Aceh menemukan bentuk paling akar rumput. Kepala gampong (keuchik) dipilih langsung oleh masyarakat, bukan ditunjuk oleh pemerintah daerah. Di sini, sila keempat tidak berhenti di teks konstitusi, tapi hidup dalam praktik sehari-hari: musyawarah, pemilihan, dan tanggung jawab kolektif.

Menjaga Pancasila di Tengah Globalisasi

Kini, di tengah arus globalisasi dan integrasi ekonomi dunia dari BRICS hingga pasar bebas ASEAN Indonesia ditantang untuk tetap setia pada Pancasila. Aceh memberi pelajaran: bahwa global bisa diterima tanpa kehilangan lokal. Warung gampong tetap hidup meski minimarket masuk, syariat tetap berjalan meski pariwisata tumbuh, gotong royong tetap lestari meski kapitalisme merayap.

Penutup: Pancasila dari Aceh untuk Indonesia

Mengikuti Diklat Pancasila secara online, saya tersadar: nilai-nilai Pancasila bukan sekadar wacana akademik. Ia hidup, bekerja diam-diam di gampong-gampong, di meja kenduri, di warung kopi, di jalanan yang lengang ketika azan berkumandang, dan bahkan dalam sejarah besar ketika Aceh menyumbang pesawat dan emas untuk Republik.

Aceh adalah cermin kecil bagaimana Pancasila bisa tetap relevan. Dari ruang Zoom ke warung gampong, dari masjid ke meja musyawarah, dari Seulawah hingga Monas semuanya bersuara lantang: Pancasila bukan sekadar dasar negara, ia adalah napas bangsa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 332x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 291x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 246x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Kritik Bentuk Peduli, Bukan Menghakimi

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com