• Latest
Mengusung Semboyan Ki Hajar Dewantara: Kesaksian Zaman Menyelami Jiwa Puisi Esai

Mengusung Semboyan Ki Hajar Dewantara: Kesaksian Zaman Menyelami Jiwa Puisi Esai

Agustus 2, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengusung Semboyan Ki Hajar Dewantara: Kesaksian Zaman Menyelami Jiwa Puisi Esai

Redaksiby Redaksi
Agustus 2, 2025
Reading Time: 5 mins read
Mengusung Semboyan Ki Hajar Dewantara: Kesaksian Zaman Menyelami Jiwa Puisi Esai
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Akaha Taufan Aminudin

Buku Kesaksian Zaman merupakan kumpulan 65 puisi esai yang ditulis oleh lebih dari 60 penyair dari Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.

Disunting oleh Dhenok Kristianti dan digagas oleh Denny JA, buku ini mengusung genre puisi esai yang menggabungkan fakta sejarah dengan nada emosional dan reflektif.

Melalui karya-karya yang hadir, pembaca diajak menyusuri kisah-kisah nyata—dari konflik sektarian hingga narasi sosial yang sering terselubung—dengan bahasa yang tajam sekaligus meresap ke relung hati.

Ketika sastra bertemu sejarah, lahirlah sesuatu yang tak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan dan direnungkan.

Kesaksian Zaman adalah wujud nyata dari hal tersebut. Tidak hanya sekadar buku puisi biasa, kumpulan karya ini menghadirkan puisi esai—genre yang diinisiasi oleh Denny JA—sebagai medium ekspresi dan dokumentasi zaman.

Di pembukaannya, sosok Abdullah Latua, seorang nelayan di Ambon yang kehilangan rumahnya dalam kerusuhan 1999, menjadi gambaran hidup tentang bagaimana sejarah bukan hanya catatan elit sang penguasa, tetapi juga cerita duka dari “tubuh-tubuh yang dilempar ke sungai”. Peristiwa itu melebur dalam bait-bait puisi esai, menampilkan luka sekaligus harapan yang mengalir dalam jalinan kata.

Kenapa Puisi Esai Begitu Istimewa?

Puisi esai, menurut Denny JA dan penyunting Dhenok Kristianti, adalah jembatan antara fakta dan emosi, sejarah dan kesusastraan.

Mereka mengusung semboyan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani — pemimpin yang memberi contoh, mendorong kreativitas di tengah, serta mengilhami dari belakang. Puisi esai bukan hanya karya seni, tapi upaya edukasi dan refleksi sosial yang terus berkembang, bahkan menembus batas negara.

Jejak Para Penulis: Dari Senior Hingga Generasi Baru

Kesaksian Zaman memuat rangkaian puisi dari para senior dan kakak asuh seperti Agus R. Sarjono dengan “Langit Kelam dan Bedebah Itu” atau Ahmadie Thaha yang menulis “Ceceran Getir Konflik Ambon.” Karya-karya mereka menantang pembaca untuk melihat sisi lain sebuah peristiwa yang seringkali hanya dikenang secara sepintas.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Selain itu, kehadiran para duta puisi esai—penulis muda dari berbagai penjuru nusantara, mulai dari Aqilah Mumtaza dari Yogyakarta dengan “Dilanda Prahara” hingga Rey Hanny Ikhlas yang berkarya antar-benua—menunjukkan bahwa puisi esai adalah ruang inklusif yang mendorong suara baru, segar, sekaligus penuh semangat perubahan.

Tak kalah menarik adalah kontribusi ‘adik asuh’, generasi penerus yang menyelipkan isu-isu kontemporer seperti pinjaman online yang mencekik lewat karya Nia Samsihono dengan puisi “Perempuan Itu Mati Ditagih Pinjol,” atau kritikan terhadap ketimpangan sosial dan politik dalam karya-karya seperti “Triliunan yang Terkubur” oleh Azril.

Relevansi dan Fungsi Buku Ini bagi Pembaca

Puisi-puisi dalam buku ini berbicara banyak tentang pengalaman kemanusiaan yang universal—rasa sakit, harapan, ketidakadilan, cinta, dan keberanian. Sebagian dari kita mungkin tampak asing dengan istilah ‘puisi esai’, namun setelah menyelami goresan tiap baitnya, kita akan menemukan kebenaran dalam setiap kata yang mengiris realitas.

Menurut pengantar dari Denny JA, buku ini bukan sekadar bacaan santai, melainkan dokumen hidup—bahan ajar yang bisa membuka wawasan generasi muda agar lebih peka terhadap sejarah dan masalah zaman yang kadang terlewatkan dalam narasi arus utama.

Mengapa Anda Harus Membaca Kesaksian Zaman?

Karena dalam era informasi yang penuh gempuran berita instan dan fakta yang sering kali terdistorsi, Kesaksian Zaman hadir bak mercusuar sastra, memandu kita kembali pada esensi kemanusiaan melalui bait-bait yang kuat akan kebenaran sekaligus keindahan kata.

ADVERTISEMENT

Sebagai pembaca, kita diajak untuk merenung: Apa arti sejarah bagi kita? Siapa yang layak disebut saksi zaman? Dan bagaimana sastra mampu membawa perubahan bukan hanya lewat cerita yang disuguhkan, tetapi lewat perasaan yang ditimbulkan?

Pada akhirnya, Kesaksian Zaman adalah undangan untuk turut menjadi saksi—mengenal dan menghayati riak-riak kehidupan yang kadang tersembunyi, tapi sangat menentukan wajah masa depan.

Jadi, jika Anda mencari bacaan yang kaya makna, menyentuh, sekaligus mengajak berdiskusi, buku ini layak menjadi koleksi Anda. Jangan lupa, bagikan pengalaman membaca ini supaya semangat puisi esai terus meluas dan menginspirasi lebih banyak jiwa.

Penulis dan Penyair dalam Buku “Kesaksian Zaman”
(Berdasarkan koleksi puisi esai dalam buku)

Penggagas Puisi Esai:
Denny JA

Senior & Kakak Asuh:

Agus R. Sarjono
Ahmad Gaus AF
Ahmadie Thaha
Akaha Taufan Aminudin
Amelia Fitriani
Anick HT
Anwar Putra Bayu
D. Kemalawati
Dhenok Kristianti
Elza Peldi Taher
Fatin Hamama Rsy.
Gol A Gong
Gunoto Saparie
Hamri Manoppo
Ipit Saefidier Dimyati
Irsyad Mohammad
Isbedy Stiawan ZS
Isti Nugroho
Jasni Matlani (Datuk)
Jonminofri Nazir
Mila Muzakkar
Monica JR
Muhammad Tobroni
Nia Samsihono
Nita Lusaid
Novriantoni Kahar
Okky Madasari
Ririe Aiko
Rita Orbaningrum
Sastri Bakry
Satrio Arismunandar
Syaefudin Simon
Victor Manengkey

Duta Puisi Esai:

Aqilah Mumtaza (DIY)
Atiya Fathina (Nanggroe Aceh)
Della Rosa (Sumatera Selatan)
Dewi Arimbi (Jawa Barat-1)
Habibaturrohmah (Jawa Tengah)
Lamya Nufaisah (Bangka Belitung)
Mointa Bangki (Sulawesi Utara)
Ordertus Tebai (Papua)
Rey Hanny Ikhlas (Antar-Benua)
Sevia (Banten)
Ummi Ulfatus Syahriyah (Jawa Timur)

Adik Asuh:

Alina Rumi (Lampung)
Andrian Sani (Sumatera Selatan)
Azril (Bangka Belitung)
Cahyo Muhammad Yusuf (Jawa Barat)
Dike M. Fardja (Nanggroe Aceh)
Djessica Yula An Nur (DIY)
Dwi Rahmatunnisa (Jawa Barat-1)
Eka Gilang W.S. (Banten)
Milda Sifna Wifakhotul Muna (Kalimantan)
Mince Warbandido (Papua)
Nurul Asyiqin Zamri (Sabah, Malaysia)
Raditya Christian Tantama (Jawa Timur)
Rahma Elfe (Antar-Benua)
Raka Ardiansyah Elat (Sulawesi Utara)
Sarah Nurhanifah K. (DKI Jakarta)
Siska Saputri (Sumatera Barat)
Zainul Mutawakkil (Jawa Tengah)
Pham Hoang Khang (Vietnam)

Dengan keberagaman dan keberanian para penulis ini, Kesaksian Zaman bukan sekadar buku puisi, tapi sebuah ruang dialog antara masa lalu dan sekarang, antara luka pribadi dan harapan kolektif.

Selamat membaca dan menjadi saksi zaman!
Salam sastra yang penuh makna.

Kota Batu, 01 Agustus 2025
Akaha Taufan Aminudin
Komunitas Puisi Esai Jatim
Kreator Era AI KEAI JATIM
SATUPENA JAWA TIMUR

66Hari_Terpaksa_Menulis

Nomor367_Hari01

NulisAjaDulu

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Internetku Sayang, Air Tanahku Hilang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com