• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

TNI dan Purnawirawan dalam Pusaran Politik Elit: Netralitas atau Ketegasan Moral?

Juli 8, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

TNI dan Purnawirawan dalam Pusaran Politik Elit: Netralitas atau Ketegasan Moral?

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Juli 8, 2025
in # Ironi, #Aspirasi, #Hegemoni, #Ijazah Palsu, #Integritas, #Jokowi, #Kebangkitan Nasional, #Kritik, #Mahkamah Konstitusi, #Prabowo, #Rakyat Menjerit, Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh:  Dayan Abdurrahman

Dalam suasana Republik yang gamang arah, muncul satu pemandangan ironis nan membingungkan: mengapa para jenderal yang masih aktif—dengan bintang tiga atau empat di pundaknya—lebih banyak diam atau bersikap aman dalam menyikapi krisis moral dan etika kepemimpinan nasional? 

Namun setelah pensiun, banyak di antara mereka yang tiba-tiba vokal, lantang bersuara, bahkan kadang tampil lebih garang dibanding masa dinas.

Sebagai rakyat biasa, kita jadi bertanya-tanya: apakah para jenderal ini telat sadar? Ataukah ketika mereka masih aktif, lidahnya terikat oleh seragam dan jabatan? Atau, jangan-jangan mereka hanya berani bersuara setelah tak punya kekuasaan karena sebelumnya bagian dari sistem itu sendiri?

Ironi Moral dan Etika Konstitusi

Salah satu contoh paling aktual adalah polemik seputar posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai hasil dari proses yang cacat secara etik dan moral konstitusi. Banyak suara publik menilai, keterlibatan Mahkamah Konstitusi yang mengubah batas usia capres-cawapres dalam waktu yang sangat politis, serta relasi keluarga antara Ketua MK dan Gibran, menciptakan luka dalam sejarah ketatanegaraan kita.

Namun, lucunya: untuk “mengoreksi” satu figur seperti Mas Gibran—seorang Wapres muda jebolan SMA—muncul ratusan tokoh purnawirawan TNI yang bersatu menyatakan sikap, membuat pernyataan terbuka, bahkan membentuk forum-forum kebangsaan. Seolah untuk satu anak muda ini saja, perlu sepasukan jenderal turun tangan. Padahal, kalau dari awal TNI aktif—sebagai pilar bangsa—berani bersuara dan mengawal etika konstitusi, barangkali kita tak perlu sampai sejauh ini.

Analogi: Jenderal dan Kapal Republik

Bayangkan sebuah kapal besar bernama Republik Indonesia, sedang menghadapi badai karena awak kapalnya mulai kehilangan arah kompas moral. Di dalam kapal itu, ada para jenderal aktif yang sebenarnya memiliki otoritas, kewibawaan, bahkan kemampuan navigasi. Tapi, mereka hanya duduk diam di dek perwira. Mereka tahu badai datang, mereka melihat nahkoda mulai ceroboh, tapi memilih bungkam karena “aturan organisasi” melarang mereka bicara.

Namun, begitu mereka turun dari kapal—pensiun dan jadi purnawirawan—mereka menjerit dari dermaga, menunjuk ke arah kapal dan berkata, “Itu salah arah! Itu berbahaya! Itu tidak sesuai konstitusi!”

Lalu rakyat pun bingung: “Kenapa tidak teriak saat masih di dalam kapal? Saat suara kalian bisa menyelamatkan?”

Apakah karena baru sekarang mereka sadar? Ataukah karena dulu ikut menikmati arah kapal yang salah, dan sekarang ingin cuci tangan?

Netralitas atau Ketegasan Moral?

Dalam doktrin militer, prajurit aktif wajib netral dalam politik praktis. Tapi netral bukan berarti apatis. Netral bukan berarti harus membiarkan ketika moral publik diinjak-injak. Netral bukan berarti tidak boleh bersuara soal kebangsaan. Apalagi ketika bangsa menghadapi krisis etika kepemimpinan.

Kalau kita bicara moral profesional dan ketatanegaraan, TNI sebagai alat negara seharusnya punya sikap terhadap degradasi kepemimpinan yang merusak semangat reformasi. Sebab TNI bukan sekadar penjaga teritori, tapi juga penjaga konstitusi.

Jadi, ketika mereka memilih diam, itu bukan netralitas—itu ketidakberdayaan atau kompromi. Padahal rakyat berharap lebih dari jenderal-jenderal kita. Bukan sekadar keberanian di medan perang, tapi juga keberanian moral di medan kebangsaan.

Kepentingan, Ketelambatan, atau Ketakutan?

Bisa jadi memang ada keterlambatan. Bisa juga ada ketakutan. Tapi tak bisa disangkal, ada juga yang merasa aman bersuara setelah pensiun karena sudah tak punya beban jabatan. Bahkan ada indikasi, beberapa suara purnawirawan muncul karena kecewa tidak dilibatkan dalam kekuasaan.

Kritik setelah pensiun memang sah. Tapi akan jauh lebih mulia jika keberanian itu muncul saat masih punya posisi. Sebab saat itulah rakyat benar-benar butuh keberanian moral seorang jenderal.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Lalu, bagaimana dengan soal Wapres Gibran? Apakah benar cacat konstitusi?

Secara hukum, mungkin tidak melanggar aturan hitam di atas putih. Tapi secara etika publik dan moral konstitusi, publik melihat ada permainan aturan, ada manipulasi tafsir, dan ada pembajakan lembaga. Jika konstitusi bisa “dilenturkan” untuk satu keluarga, maka apa bedanya dengan kerajaan?

Wibawa Jenderal di Atas Sipil?

Tentu tidak etis mengatakan militer lebih hebat dari sipil. Tapi dalam praktik, kita tahu banyak jenderal terlatih dalam kepemimpinan krisis, manajemen konflik, dan ketegasan strategis. Maka ketika rakyat melihat para jenderal tunduk pada politikus muda yang belum matang, muncul perasaan geli, lucu, dan getir sekaligus.

ADVERTISEMENT

Mereka bertanya-tanya: apakah bintang di pundak hanya simbol? Ataukah para jenderal kita kehilangan arah moral saat menjelang purnatugas?

Kesimpulan: Bangkitkan Kembali Kepemimpinan Moral

Rakyat tidak sedang mencari pemimpin sempurna. Rakyat hanya butuh suara yang jujur, tegas, dan berpihak pada kebenaran. Baik dari kalangan sipil maupun militer.

Para purnawirawan yang kini bersuara keras patut diapresiasi. Tapi akan jauh lebih berarti jika suara itu bisa menjadi budaya baru: bahwa jenderal tak hanya tangguh di medan tempur, tapi juga di medan etika.

Dan untuk TNI aktif, netralitas tidak boleh jadi alasan untuk bungkam terhadap pelanggaran moral konstitusi. Sebab Republik ini tidak hanya butuh senjata, tapi juga butuh keberanian berkata benar.

Kalau tidak, maka rakyat akan terus merasa: untuk menghadapi satu anak muda lulusan SMA, ratusan jenderal pun tak cukup. Bukankah itu menyedihkan?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 339x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 301x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 249x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 239x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Membedah Sejarah, Merawat Ingatan

Ayah, Luka Pertamaku

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com