• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Ketika Demokrasi Tak Lagi Mendidik

Juni 11, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Demokrasi Tak Lagi Mendidik

Dayan Abdurrahmanby Dayan Abdurrahman
Juni 11, 2025
Reading Time: 4 mins read
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Budaya Konsumtif, Ekonomi Elitis, dan Agama sebagai Komoditas Politik


Oleh: Dayan Abdurrahman


“Apakah demokrasi masih menjadi harapan, atau telah menjadi panggung sandiwara kekuasaan yang dibayar mahal oleh rakyatnya?”
Itulah pertanyaan mendasar yang kini muncul dari berbagai penjuru negeri—dari ruang kelas di pedalaman Aceh hingga seminar kampus di Jakarta, dari warung kopi di Solo hingga ruang diskusi diaspora Indonesia di Berlin.

Demokrasi yang Gagal Mendidik

Demokrasi di Indonesia hari ini menghadapi kontradiksi fundamental. Ia seharusnya menjadi sarana pembelajaran kolektif: mendidik rakyat menjadi subjek aktif dalam pembangunan, bukan objek pasif yang hanya dikerahkan lima tahun sekali untuk mencoblos. Namun kenyataannya, sistem demokrasi kita kian menjauh dari cita-cita Pancasila dan UUD 1945.

Hasil survei Indikator Politik Indonesia (2024) menunjukkan bahwa hanya 38% masyarakat yang merasa suaranya benar-benar berpengaruh dalam kebijakan publik. Ini bukan sekadar angka, tapi alarm sosial. Demokrasi kita pincang karena tidak diiringi dengan pendidikan politik yang membebaskan, melainkan dikungkung oleh logika transaksional dan komodifikasi suara.

Pendidikan dalam Bayang Kapital dan Identitas

Pendidikan hari ini tak lagi menjadi medan pembentukan kesadaran kebangsaan. Ia dirampas oleh agenda ekonomi dan pasar kerja, bukan oleh nilai-nilai keadilan, budaya luhur, atau visi kebangsaan. Pendidikan dirancang untuk mencetak “tenaga kerja”, bukan “warga negara”.

Dalam pendekatan sosiologis, kita bisa menyebutnya sebagai alienasi institusional. Siswa dan mahasiswa merasa terasing dari isi pembelajaran karena tidak mengakar pada realitas sosial mereka. Di banyak daerah, terutama di luar Jawa seperti Aceh, Maluku, atau Papua, kurikulum nasional tidak merepresentasikan kearifan lokal. Data Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 21% konten pendidikan dasar memuat muatan lokal secara bermakna.

Di sinilah letak ironi kita: dalam masyarakat yang katanya demokratis, pendidikan justru kehilangan demokratisasi. Seharusnya, pendidikan menjadi arena dialektika antara budaya, agama, ekonomi, dan demokrasi itu sendiri.

Budaya Konsumtif dan Ekonomi Elitis: Dua Sisi Mata Uang Kapitalisme

Secara antropologis, budaya Indonesia mengalami pergeseran dari masyarakat komunal menjadi masyarakat konsumtif yang terfragmentasi. Budaya gotong royong digantikan oleh budaya “ikut tren”, budaya membaca digantikan oleh budaya scroll media sosial tanpa refleksi.

Kapitalisme digital membungkus gaya hidup dan keinginan menjadi identitas palsu. Lalu lintas algoritma menelan nalar kritis. Secara statistik, lebih dari 70% generasi muda Indonesia lebih banyak mengakses hiburan daripada konten edukatif di internet (BPS, 2023).

Ironisnya, di saat budaya konsumtif merajalela, ekonomi menjadi elitis. Akses terhadap kekayaan dan sumber daya semakin terkonsentrasi. Laporan Oxfam tahun 2024 menyebutkan bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai lebih dari 45% kekayaan nasional. Ini bukan hanya ketimpangan ekonomi, tetapi ketimpangan moral, spiritual, dan sosial yang mendalam.

Agama sebagai Komoditas Politik

Dalam dimensi spiritualitas, agama yang seharusnya menjadi pedoman moral dan penyejuk kehidupan berbangsa kini seringkali disulap menjadi alat legitimasi politik. Polarisasi identitas atas nama agama menjadi praktik umum dalam kontestasi kekuasaan.

Padahal, semangat keumatan dalam Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal di Indonesia mengajarkan nilai yang sama: keadilan, kasih, toleransi, dan keberpihakan pada yang lemah. Tapi dalam praktik politik, agama sering digunakan bukan untuk menyatukan, melainkan memecah belah.

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa kekuatan agama dan budaya adalah perekat bangsa. Lihat bagaimana para ulama dan tokoh adat bersatu dalam kemerdekaan. Namun kini, agama dan budaya dijadikan bahan kampanye dan iklan politik murahan.

ADVERTISEMENT

Menata Ulang: Visi Kolektif Bangsa

Lantas, ke mana arah kita? Jawabannya tidak bisa sederhana. Kita perlu pendekatan interdisipliner yang menggabungkan sejarah, sosiologi, antropologi, pendidikan, dan spiritualitas. Menata ulang negeri ini berarti mengembalikan roh demokrasi ke tempatnya—sebagai ruang dialog, bukan dominasi.

Kita butuh pendidikan yang kontekstual dan humanis, bukan sekadar penghafal modul. Kita butuh ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, bukan konglomerasi dan kartel. Kita perlu budaya yang membebaskan, bukan budaya imitasi. Kita butuh agama yang membina, bukan menghasut. Dan kita butuh demokrasi yang membangkitkan kesadaran kolektif, bukan menyedot energi rakyat.

Menuju Indonesia untuk Semua

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Tulisan ini bukan sekadar kritik, tetapi ajakan. Ajakan untuk membuka ruang refleksi: bagaimana bangsa ini akan kita wariskan kepada anak cucu? Akankah kita mewariskan sistem yang timpang dan penuh ilusi, atau sistem yang adil dan penuh harapan?

Bagi dunia internasional, Indonesia adalah cermin dari dinamika negara demokrasi besar yang multikultural dan multireligius. Bagi Aceh dan daerah-daerah lain, tulisan ini adalah pengingat bahwa otonomi dan keunikan lokal tidak boleh dikorbankan dalam nama “keseragaman nasional”. Bagi bangsa lain, Indonesia adalah pelajaran tentang bagaimana demokrasi bisa jatuh jika tidak ditopang oleh pendidikan kritis, ekonomi berkeadilan, budaya luhur, dan spiritualitas yang inklusif.


Penutup: Menjadi Rakyat yang Merdeka

Demokrasi bukan hanya hak memilih, tapi juga hak mendidik, hak mengakses ekonomi, hak mengembangkan budaya, dan hak menjalankan keyakinan tanpa takut ditunggangi kepentingan. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga itu—guru, mahasiswa, petani, pejabat, ulama, wartawan, hingga rakyat biasa. Karena kalau tidak, kita hanya akan menjadi penonton dari reruntuhan negeri sendiri.

Indonesia bukan hanya milik penguasa. Indonesia adalah milik semua. Saatnya kita bicara, berpikir, dan bergerak sebagai bangsa yang sadar dan merdeka.


Dayan Abdurrahman
Peneliti Pendidikan Sosial Budaya – aktif dalam kajian interdisipliner di bidang pendidikan kritis, antropologi keumatan, dan demokrasi lokal-global.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Keajaiban Seni Sastra Budaya Satupena Jawa Timur di Gallery Raos Batu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com