POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Demokrasi Tak Lagi Mendidik

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
June 11, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Budaya Konsumtif, Ekonomi Elitis, dan Agama sebagai Komoditas Politik


Oleh: Dayan Abdurrahman


“Apakah demokrasi masih menjadi harapan, atau telah menjadi panggung sandiwara kekuasaan yang dibayar mahal oleh rakyatnya?”
Itulah pertanyaan mendasar yang kini muncul dari berbagai penjuru negeri—dari ruang kelas di pedalaman Aceh hingga seminar kampus di Jakarta, dari warung kopi di Solo hingga ruang diskusi diaspora Indonesia di Berlin.

Demokrasi yang Gagal Mendidik

Demokrasi di Indonesia hari ini menghadapi kontradiksi fundamental. Ia seharusnya menjadi sarana pembelajaran kolektif: mendidik rakyat menjadi subjek aktif dalam pembangunan, bukan objek pasif yang hanya dikerahkan lima tahun sekali untuk mencoblos. Namun kenyataannya, sistem demokrasi kita kian menjauh dari cita-cita Pancasila dan UUD 1945.

Hasil survei Indikator Politik Indonesia (2024) menunjukkan bahwa hanya 38% masyarakat yang merasa suaranya benar-benar berpengaruh dalam kebijakan publik. Ini bukan sekadar angka, tapi alarm sosial. Demokrasi kita pincang karena tidak diiringi dengan pendidikan politik yang membebaskan, melainkan dikungkung oleh logika transaksional dan komodifikasi suara.

Pendidikan dalam Bayang Kapital dan Identitas

Pendidikan hari ini tak lagi menjadi medan pembentukan kesadaran kebangsaan. Ia dirampas oleh agenda ekonomi dan pasar kerja, bukan oleh nilai-nilai keadilan, budaya luhur, atau visi kebangsaan. Pendidikan dirancang untuk mencetak “tenaga kerja”, bukan “warga negara”.

Dalam pendekatan sosiologis, kita bisa menyebutnya sebagai alienasi institusional. Siswa dan mahasiswa merasa terasing dari isi pembelajaran karena tidak mengakar pada realitas sosial mereka. Di banyak daerah, terutama di luar Jawa seperti Aceh, Maluku, atau Papua, kurikulum nasional tidak merepresentasikan kearifan lokal. Data Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 21% konten pendidikan dasar memuat muatan lokal secara bermakna.

Di sinilah letak ironi kita: dalam masyarakat yang katanya demokratis, pendidikan justru kehilangan demokratisasi. Seharusnya, pendidikan menjadi arena dialektika antara budaya, agama, ekonomi, dan demokrasi itu sendiri.

Budaya Konsumtif dan Ekonomi Elitis: Dua Sisi Mata Uang Kapitalisme

Secara antropologis, budaya Indonesia mengalami pergeseran dari masyarakat komunal menjadi masyarakat konsumtif yang terfragmentasi. Budaya gotong royong digantikan oleh budaya “ikut tren”, budaya membaca digantikan oleh budaya scroll media sosial tanpa refleksi.

📚 Artikel Terkait

Memaknai Memakmurkan Masjid Dapam Konteks Kekinian

Benturan Peradaban Barat Dengan Agama Akan Membuat Islam Semakin Berjaya dan Berkembang Pesat di Masa Mendatang

Bunga Yang Baru Mekar

Buktinya Adalah Sepiku

Kapitalisme digital membungkus gaya hidup dan keinginan menjadi identitas palsu. Lalu lintas algoritma menelan nalar kritis. Secara statistik, lebih dari 70% generasi muda Indonesia lebih banyak mengakses hiburan daripada konten edukatif di internet (BPS, 2023).

Ironisnya, di saat budaya konsumtif merajalela, ekonomi menjadi elitis. Akses terhadap kekayaan dan sumber daya semakin terkonsentrasi. Laporan Oxfam tahun 2024 menyebutkan bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai lebih dari 45% kekayaan nasional. Ini bukan hanya ketimpangan ekonomi, tetapi ketimpangan moral, spiritual, dan sosial yang mendalam.

Agama sebagai Komoditas Politik

Dalam dimensi spiritualitas, agama yang seharusnya menjadi pedoman moral dan penyejuk kehidupan berbangsa kini seringkali disulap menjadi alat legitimasi politik. Polarisasi identitas atas nama agama menjadi praktik umum dalam kontestasi kekuasaan.

Padahal, semangat keumatan dalam Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal di Indonesia mengajarkan nilai yang sama: keadilan, kasih, toleransi, dan keberpihakan pada yang lemah. Tapi dalam praktik politik, agama sering digunakan bukan untuk menyatukan, melainkan memecah belah.

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa kekuatan agama dan budaya adalah perekat bangsa. Lihat bagaimana para ulama dan tokoh adat bersatu dalam kemerdekaan. Namun kini, agama dan budaya dijadikan bahan kampanye dan iklan politik murahan.

Menata Ulang: Visi Kolektif Bangsa

Lantas, ke mana arah kita? Jawabannya tidak bisa sederhana. Kita perlu pendekatan interdisipliner yang menggabungkan sejarah, sosiologi, antropologi, pendidikan, dan spiritualitas. Menata ulang negeri ini berarti mengembalikan roh demokrasi ke tempatnya—sebagai ruang dialog, bukan dominasi.

Kita butuh pendidikan yang kontekstual dan humanis, bukan sekadar penghafal modul. Kita butuh ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, bukan konglomerasi dan kartel. Kita perlu budaya yang membebaskan, bukan budaya imitasi. Kita butuh agama yang membina, bukan menghasut. Dan kita butuh demokrasi yang membangkitkan kesadaran kolektif, bukan menyedot energi rakyat.

Menuju Indonesia untuk Semua

Tulisan ini bukan sekadar kritik, tetapi ajakan. Ajakan untuk membuka ruang refleksi: bagaimana bangsa ini akan kita wariskan kepada anak cucu? Akankah kita mewariskan sistem yang timpang dan penuh ilusi, atau sistem yang adil dan penuh harapan?

Bagi dunia internasional, Indonesia adalah cermin dari dinamika negara demokrasi besar yang multikultural dan multireligius. Bagi Aceh dan daerah-daerah lain, tulisan ini adalah pengingat bahwa otonomi dan keunikan lokal tidak boleh dikorbankan dalam nama “keseragaman nasional”. Bagi bangsa lain, Indonesia adalah pelajaran tentang bagaimana demokrasi bisa jatuh jika tidak ditopang oleh pendidikan kritis, ekonomi berkeadilan, budaya luhur, dan spiritualitas yang inklusif.


Penutup: Menjadi Rakyat yang Merdeka

Demokrasi bukan hanya hak memilih, tapi juga hak mendidik, hak mengakses ekonomi, hak mengembangkan budaya, dan hak menjalankan keyakinan tanpa takut ditunggangi kepentingan. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga itu—guru, mahasiswa, petani, pejabat, ulama, wartawan, hingga rakyat biasa. Karena kalau tidak, kita hanya akan menjadi penonton dari reruntuhan negeri sendiri.

Indonesia bukan hanya milik penguasa. Indonesia adalah milik semua. Saatnya kita bicara, berpikir, dan bergerak sebagai bangsa yang sadar dan merdeka.


Dayan Abdurrahman
Peneliti Pendidikan Sosial Budaya – aktif dalam kajian interdisipliner di bidang pendidikan kritis, antropologi keumatan, dan demokrasi lokal-global.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Keajaiban Seni Sastra Budaya Satupena Jawa Timur di Gallery Raos Batu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00