• Latest
Digitalisasi Fakta dan Situs Sejarah Aceh di Era Digital

Digitalisasi Fakta dan Situs Sejarah Aceh di Era Digital

May 5, 2025

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 13, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Digitalisasi Fakta dan Situs Sejarah Aceh di Era Digital

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
May 5, 2025
in Aceh, Artikel, digital, Digitalisasi, Era digital, literasi digital, Sejarah
0
Digitalisasi Fakta dan Situs Sejarah Aceh di Era Digital
598
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Seperti biasa,malam Minggu, kala ada waktu senggang, mengajak anak dan istri ke warung kopi atau cafe. Maka, malam Minggu ini, kami memutuskan untuk ngopi di Geobak, Arabica coffee, sambil memesan Tomyam dan masakan ikan tiga rasa di Musleni Tomyam, yang letaknya hanya beberapa meter dari  POTRET Gallery. Ya, sama-sama berada di jalan Profesor Ali Hasyimi, Pango Raya, kecamatan Ule Kareng, Bands Aceh. Aku memesan avocado espresso, minuman kesukaanku di Gerobak coffee. Istriku memesan segela Lemon tea dingin. 

Baca Juga

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 13, 2026

Sambil menyeruput segelas Avocado espresso itu, seperti biasa kami ngobrol. Kadang berbicara soal anak-anak yang makin malas membaca, juga kadangkala tersandung juga ke masalah politik dalam negeri. Namun, malam minggu ini, mengarah pembicaraan pada masalah wisata sejarah di Aceh. 

Awalnya tersebut soal anak-anak yang pada hari Minggu mau jalan-jalan. Namun, tujuannya belum menjadi agenda untuk diwujudkan. Namun, terbetik keinginan untuk membawa anak-anak berwisata sejarah. Misalnya membawa mereka ke objek-objek wisata sejarah yang ada di sekitar kota Banda Aceh. Alasannya sederhana, objek wisata sejarah di kota Banda Aceh saling berdekatan dan mudah dikunjung. Masalahnya adalah anak-anak barangkali tidak tertarik dengan objek wisata bersejarah tersebut. Walau kita sebagai orangtua berpendapat bahwa hal itu penting dan perlu mereka ketahui.

Kita akan berkata, anak-anak harus diperkenalkan dengan tempat -tempat bersejarah agar mereka bisa faham dan mengenal bagaimana sejarah perjuangan bangsa, nenek moyang mereka dalam mempertahan  tanah air dari serangan para penjajah. Kita juga akan berkata, sangat bagus kalau anak-anak sejak kecil diperkenalkan dengan nilai -nilai sejarah perjuangan bangsa, agar tumbuh keaadarabl anak-anak akan nilai perjuangan para pejuang masa lalu.

Idealnya anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan dan nilai-nilai tersebut ketika orangtua membawa anak-anak ke destinasi wisata sejarah tersebut. Kemudian mereka dengan mudah bisa belajar dari sejarah itu. Sayangnya tidak semua orangtua juga bisa menceritakan sejarah dari tempat wisata bersejarah tersebut. Apalagi kalau di tempat wisata sejarah tersebut tidak ada papan indormasi, kalau pun ada tidak membuat orang tertarik membacanya.

Sebenarnya, pihak pemerintah kota atau pemerintah Provinsi bisa bersikap dan bertindak kreatif untuk membangun pemahaman generasi muda Aceh, khususnya. Mereka bisa menyediakan informasi yang cukup agar bisa diakses oleh setiap pengunjung. Bukankah di era digital ini semua hal bisa dilakukan dengan cara kreatif dan innovatif?

Ya, di era kejayaan dan kedigdayaan kemajuan teknologi digital sebenarnya  pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata atau dinas yang mengurus situs -situs peninggalan sejarah perjuangan Aceh,

📚 Artikel Terkait

CITA-CITAKU MENJADI PNS (PENGUSAHA NAN SUKSES)

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

PEMUDA ACEH DAN STIGMA NEGERI GANJA

Untaian Puisi Zab Bransah

bisa melakukan digitalisasi informasi di setiap situs wisata yang ada di Aceh, khusus ya di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.

Barcodesasi

Nah, mengingat Aceh memiliki banyak situs sejarah, dan destinasi bersejarah, juga kita sudah berada di era digital, selayaknya kita sarankan kepada pihak Dinas Pariwisata kota Banda Aceh dan provinsi atau institusi yang mengurus peninggalan sejarah dan purbakala secara kreatif dan innovatif melakukan atau membuat barcode fakta sejarah di setiap situs atau destinasi wisata sejarah tersebut.

Ya, dengan menbuat barcode atau QR code di setiap situs sejarah di Aceh, secara innovatif bisa membantu setiap pengunjung mendapatkan informasi mengenai segala hal tentang situs tersebut. Karena barcode itu dengan mudah dan innovatif dapat memberikan penjelasan kepada pengunjung situs atau destinasi wisata secara digital secara lebih interaktif.

Bayangkan saja, dengan menggunakan barcode, pengunjung cukup memindai kode tersebut dengan ponsel mereka dan langsung mendapatkan akses ke sejarah, foto, video, atau bahkan rekonstruksi virtual dari masa lalu situs tersebut. Begitu mudah dan juga murah, serta sangat efektif, karena para pengunjung bisa mengakses kapan saja dan di mana saja informasi tersebut.

Oleh sebab itu, pemerintah kita Banda Aceh atau Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan pemerintah Aceh bisa mewujudkan pembuatan barcode di setiap situs sejarah di kota Banda Aceh, Aceh Besar, maupun di situs lainnya di Aceh.

Untuk mewujudkan ide atau gagasan ini, pemerintah kota dan kabupaten serta pemerintah Aceh bisa melakukan langkah-langkah berikut. Pertama, tentu saja mengumpulkan semua informasi atau data sejarah yang akurat dan menarik. Lalu, yang kedua membuat WR Code  dengan menggunakan generator QR Code untuk membuat  kode berisi tautan ke laman informasi. Ke tiga, Perlu hosting  konten dengan menyimpan di website resmi, platform budaya atau aplikasi khusus wisata sejarah Aceh. Ke empat, placement atau penempatan kode. Untuk ini harus dipastikan  QR code dipasang di lokasi gang mudah diakses, seperti papan informasi atau monumen. Ke lima, harus dilakukan promosi dan edukasi dengan melakukan sosialisasi kepada pengunjung agar mereka tahu manfaat dari teknologi ini.

Untuk mewujudkan gagasan membuat barcode di situs bersejarah atau situs wisata sejarah di Aceh pihak pemerintah Aceh atau di level kabupaten kota bisa berkolaborasi  dengan komunitas sejarah atau pihak universitas untuk memastikan keakuratan dan daya tarik informasi tentang situs dan fakta sejarahnya.

Bila ini dilakukan oleh pemerintah Aceh lewat dinas pariwisata atau instansi yang mengurus situs -situs tersebut, insya Allah destinasi atau situs-situs tersebut akan lebih menarik dan akan dikunjungi oleh banyak pengunjung. Selain itu, untuk menarik minat anak-anak tertarik untuk datang ke situs-situs tersebut, pemerintah juga bisa memodifikasi atau menyediakan fasilitas yang dapat menarik minat anak untuk datang yang kemudian bisa dibantu oleh orangtua memperkenalkan tempat itu dan sekaligus bisa menggunakan barcode situs kepada anak. 

Kuncinya sekarang ada pada pemerintah kabupaten dan kota serta provinsi untuk menbuat barcode tersebut. Bila pemerintah kota dan kabupaten serta provinsi tidak punya uang atau dana atau anggaran, kiranya bisa mengajak pihak swasta berpartisipasi. Kalau mau, pasti bisa. Semoga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 71x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 62x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare239
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Terkait

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh: Nurul Hikmah, S.Pd.I., M.A Sejarah para nabi dalam Al-Qur’an tidak hanya menceritakan tentang dakwah dan perjuangan mereka dalam menyampaikan risalah Allah, tetapi juga menggambarkan berbagai bentuk kemajuan...

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

by Dayan Abdurrahman
March 13, 2026
0

Oleh Dayan Abdurrahman Pendahuluan: Sebuah Perubahan yang Tidak Terelakkan Selama lebih dari tujuh dekade setelah Perang Dunia II, kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah telah menjadi semacam...

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 12, 2026
0

Al Chaidar Abdurrahman PutehDosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan ujian moral dan politik bagi dunia internasional....

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh Masrur Salamuddin Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 menandai titik balik penting dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam desain penyelenggaraan pemilihan umum. Mulai 2029, keserentakan Pemilu nasional dan...

Next Post

Mengenal Junaida Santi, The Next Megawati

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Tentang Kami
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Punya tulisan menarik?
Kirim ke Redaksi via WhatsApp
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com