Dengarkan Artikel
Akhir-akhir ini, ada tren baru di kalangan para ahli pendidikan “dadakan” yang tiba-tiba saja latah terkait kebijakan beberapa negara maju seperti tanpa adanya pertimbangan apapun.
Begitu mendengar bahwa beberapa negara maju mulai mengurangi penggunaan perangkat digital di sekolah dan kembali ke metode konvensional, “si pakar” langsung ikut-ikutan komentar. “Kalau mereka bisa, kenapa kita harus tetap pakai teknologi?” begitu kira-kira logika cerdas ala-ala ahli pendidikan “dadakan”.
Mari kita bayangkan, bayangkan saja dulu ya. Let’s say di sebuah negara dengan infrastruktur pendidikan yang sudah mapan, di mana hampir semua rumah tangga punya akses buku fisik berkualitas, perrpustakaan sekolahnya sangat memadai.
Guru-guru memiliki metode pengajaran yang sudah terasah selama bertahun-tahun, dan siswa sudah terbiasa membaca serta menulis dengan baik sejak kecil dan kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi perangkat digital dalam pembelajaran.
Lalu, kita yang masih bergelut dengan keterbatasan akses buku, tenaga pengajar yang kurang, serta literasi dasar yang masih menjadi tantangan besar, eh malah latah dan buru-buru ikut tren ini.
Mari kita renungkan sejenak, sejenak aja tidak perlu lama. Apakah kita sudah memiliki infrastruktur yang sama? Apakah kita sudah punya akses buku yang merata di seluruh pelosok negeri? Apakah anak-anak kita sudah terbiasa membaca tanpa tergoda bermain ponsel? Udah ah, tidak perlu dijawab.
Yang penting, kita jangan sampai ketinggalan tren ikutan-ikutan! Mungkin idiom “Monkey see, monkey do” lebih tepat digunakan untuk mewakili kejenakaan semacam ini.
📚 Artikel Terkait
Jika negara maju sudah mulai beralih dari teknologi, tentu kita juga harus ikut-ikutan, bukan? Jangan pedulikan fakta bahwa di Negara kita atau bahkan daerah kita teknologi justru bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah yang minim akses terhadap bahan ajar.
Jangan pikirkan bahwa pembelajaran digital memungkinkan anak-anak kita memperoleh wawasan yang lebih luas dari guru-guru terbaik di seluruh dunia.
Itu semua tidak penting, yang penting kita terlihat ‘maju’ dengan ikut-ikutan kebijakan negara lain.Ironisnya, saat negara-negara maju dulu berbondong-bondong mengadopsi teknologi dalam pendidikan, kita juga heboh ingin mengikutinya, tanpa benar-benar mempersiapkan ekosistemnya dengan baik.
Dan sekarang, ketika mereka merasa sudah cukup dan memilih kembali ke metode lama, kita pun dengan gesit ingin ikut berubah, meskipun kita belum sampai di titik yang sama dengan mereka. Seperti halnya penumpang bus yang turun di halte yang salah, hanya karena melihat orang lain juga turun atau seperti orang yang menerobos lampu merah karena melihat beberapa orang melakukannya.
Mungkin ada baiknya kita mulai belajar memahami konteks sendiri sebelum latah mengikuti tren. Pendidikan bukan soal ikut-ikutan, melainkan soal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi nyata.
Sebelum memutuskan apakah kita harus meninggalkan pembelajaran digital atau tidak, mari lihat dulu: apakah kita sudah benar-benar siap untuk kembali ke metode konvensional? Atau kita hanya ingin terlihat mengikuti tren tanpa arah yang jelas? Atau jangan-jangan kata “kembali” tersebut belum tepat kita sematkan, toh juga kita belum kemana-mana, artinya kita masih bergelut dengan metode konvensional.
Tapi ya sudahlah, siapa yang butuh berpikir panjang? Toh, lebih mudah mengulang dan meniru kebijakan negara lain daripada memahami kebutuhan sendiri. Selamat ikut-ikutan!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






