Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Di tengah kesibukan penulis membaca tulisan para siswa SMA dan SMK, dari Kabupaten Bireun Aceh yang masuk ke meja redaksi Potretonline.com, tiba- tibasebuah hidayah, berupa ide yang melintas di pikiran. İde untuk menulis sebuah tulisan. İde itu sangat menarikdan penting bagi penulis. Juga bagi para penulis yang sedang mendapat tugas menulis, maupun yang menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan, serta setia menulis.
Ya, sebenarnya Sebuah tulisan atau karya tulis, bisa ditulis dengan mudah, semudah kita bercerita dalam bahasa lisan. Para pembaca pasti sering sekali bercerita dengan sangat rinci dan teratur tutur katanya. Maka sesungguhnya dalam kehidupan kita menulis menjadi kegiatan yang sangat mudah menarik. Seorang penulis bisa menulis mengalir seperti berbicara. Tentu ini sangat menarik pula untuk dibahas atau diulas. Yang penting adalah kita punya keinginan atau lebih dahsyat lagi adalah memiliki kemauan untuk menulis.
Biasanya orang memiliki kemauan atau willingness untuk menuilis, orang yang demikian akan menulis karena ada dorongan dari dalam diri, yakni dorongan instriksik. Artinya ada factor motivasi atau dorongan untuk melakukan itu, dari dalam diri. Dengan kata lain, dalam konteks factor, orang ini menulis disebabkan adanya factor internal. Sebagaimana kita ketahui ada dua factor yang mendorong seseorang menulis, yakni faktor internal yang kita sebut dengan motivasi instrinsik dan factor eksternal, yang kita sebut dengan motivator ekstrinsik.
Nah, dalam hal motivasi menulis, ada banyak orang yang mudah termotivasi untuk menulis, karena factor internal atau motivasi instrinsik. Kegiatan seseorang menulis karena muncul keinginan dari dalam diri untuk melahirkan sebuah karya tulis. Keinginan yang kemudian menjadi kebutuhan. Sehingga motivasi atau dorongan itu datang dari dalam diri si penulis, yang merupakan motivasi instrinsik yang sangat kuat, yang datang dari dalam diri.
Nah, bagi penulis yang menulis terdorong oleh motivasi instrinsik, dalam realitasnya memiliki kekuatan yang sangat positif. Seringkali kegiatan menulis itu bagi orang seperti ini adalah sebuah kebutuhan. Sehingga tidak mengenal kata sulit untuk menulis. Dikatakan demikian, karena dengan motivasi instrinsik itu, seorang penulis bisa menulis dengan penuh rasa suka atau senang,atau lebih dalam lagi didasari rasa cinta menulis, sehingga terasa tanpa dibebani, apalagi dipaksa atauterpaksa karena ada hal atau persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Maka, tak dapat dimungkiri motivasi ini juga sesungguhnya membuat kegiatan menulis itu nikmat, mudah atau gampang.
Tentu pula banyak cara yang membuat kegiatan itu bisa diwujudkan dengan mudah. Yang penting kuncinya adalah mau. Sebab kalau memiliki kemauan atau willingness yang kuat, pasti akan bisa diwujudkan. Apalagi yang namanya menulis adalah kegiatan untuk mencapai kepuasan batin. Kepuasaan yang tidak dapat dibandingkan atau disandingkan dengan uang, karena kepuasaan batin adalah sebuah kepuasan yang hakiki. Jadi, bagi penulis yang demikian, biasanya akan melakukan aktivitas menulis secara jujur dan berintegritas. Sebagai penulis yang berintegritas, maka tulisan-tulisan yang ditulis merupakan tulisan-tulisan yang memiliki nilai orisinal, tidak hasil jiplakan atau plagiarisme, bukan pula tulisan hasil upahan atau dibeli dan ditulis dengan penuh kejujuran.
Sebab, menulis dengan jujur itu, selain memiliki nilai integritas yang tinggi, juga sebenarnya membawa banyak manfaat bagi diri si penulis. Diakui atau tidak, bagi penulis golongan ini kegiatan menulis itu merupakan kebutuhan hidup. Sebagai kebutuhan hidup, para penulis golongan ini akan selalu aktif menulis, karena orientasinya adalah kepuasan batin, bukan karena ada keperluan validasi atau berharap hadiah dan sejenisnya. Penulis yang bergerak dengan motivasi insrinsik juga akan selalu jujur dalam menulis. Cenderung tidak melakukan sikap dan tindakan manipulatif, lebih original, lebih percaya dengan kemampuan intelektual sendiri. Bagi kelompok ini, menulis itu adalah kegiatan yang menyenangkan (fun), mengasyikan (enjoyable), kreatif, innovative dan produktif serta banyak sekali manfaatnya.
📚 Artikel Terkait
Manfaat-manfaat itu, misalnya bagi seorang penulis yang menulis dengan jujur, ia akan mampu membangun kepercayaan atau trust terhadap dirinya, karena ia juga dapat membangun hubungan emosional dengan pembaca dengan kuat. Kedua, orang yang menulis dengan jujur pasti akan lebih mudah dipercaya dan dapat meninspirasi karena memiliki nilai-nilai autentik. Ke tiga, bagi penulis yang menulis dengan jujur juga dapat meningkatkan harga diri, lebih berani dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Ke empat, memberikan manfaat dorongan sosial kepada para pembaca serta dapat mendorong perubahan sosial dan lain-lain.
Hal ini sangatlah benar, sebab bagi seorang penulis yang jujur dan berintegritas itu biasanya berprinsip dan berperilaku serta bertindak jujur dalam menulis, mulai darı pikirannya, hingga dalam proses menulis dan menyelesaikan dengan orisinal. Ya, ketika ingin menulis, di kala mencari ide atau gagasan menulis, ia dengan pertimbangan etika, tidak mencuri ide atau gagasan orang lain untuk ditulis. Dalam proses menulis pun iatidak melakukan tindakan-tindakan culas dengan umelakukan tindakan menjiplak, menggunakan data yang tidak valid, atau juga menggunakan pendapat orang lain, tanpa menyebutkan sumbernya apalagi plagiasi. Karena prinsip menulis dengan jujur adalah menulis yang mengedepankan prinsip etis dalam menyampaikan gagasan secara autentik, tanpa plagiat,
Tentu berbeda dengan orang atau kelompok yang menulis karena motivasi ekstrinsik (dorongan dari luar). Mereka tidak punya keingainan dan kebutuhan menulis, tetapi lebih didorong oleh sebuah keterpaksaan yang datang dari luar diri. Ya, mereka didorong oleh motivasi ekstrinsik. Sehingga tidak ada kekuatan dari dalam diri dan bukan karena kebutuhan. Oleh sebab itu biasanya kelompok ini melakukan kegiatan menulis karena ada dorongan atau kondisi yang yang membuat atau memaksa mereka menulis. Di satu sisi, mereka membutuhkan sebuah tulisan atau artikel, maupun skripsi, tetapi tidak terdoroing untuk menulis sendiri, karena berbagai alsan klasik. Artinya, kelompok ini membutuhkan tulisan, tapi tidak mau menulis, namun terpaksa menulis. Misalnya karena mendapat tugas menulis, atau sebagai sebuah syarat untuk mendapatkan sesuatu. Selain itu, juga karena tujuan untuk mendapatkan pengakuan atau validasi yang mereka butuhkan. Jadi, bukan proses menulis, tetapihasil langsung berupa sebuah tulisan yang akandisodorkan sebagai persyaratan.
Maka, tidak mengherankan kalua dalam realitas sosial, di dunia Pendidikan dan dunia kerja, bagi kelompok ini, kegiatan menulis bukanlah sebuah hobi, apalagi kebutuhan, tetapi sekadar memenuhi persyaratan administrasi dan validasi. Sehingga dalam praktik kehidupan, kelompok ini dalam mencapai tujuan untuk memiliki sebuah tulisan, mereka bisa berbuat tidak jujur dalam menulis. Ya, mereka tidak melahirkan sebuah tulisan dengan jujur. Pendek kata, mereka tidak menulis dengan jujur, tidak memikirkan , apalagi memiliki integritas dalam menulis. Sehingga, bukan hanya sekadar melakukan manipulatif dengan berbagai cara menulis, seperti melakukan plagiasi minor, maupun mayor, bahkan mereka mau membayar orang lain untuk menulis. Yang penting mereka mempunyai tulisan, walau tulisan itu adalah tulisan yang dibeli atau dibayar orang lain untuk menulis, lalu menyatakan sebagai hasil karya sendiri.
Sayangnya praktik ketidakjujuran dalam menulis ini sering terjadi dalam dunia Pendidikan kita, di sekolah dan bahkan di universitas. Pelakuknya juga bukan hanya dari kalangan pelajar atau siswa dan mahasiswa, tetapi juga tidak sedikit dari kalangan pendidik, seperti guru mau pun dosen. Celakanya lagi, selevel akademisi yang sudah Doktor dan malah Profesor, banyak yang terjebak dalam praktik ketidakjujuran dalam menulis. Mereka tanpa malu melakukan praktik plagiarism, atau malah membayar atau membeli karya orang lain, demi sebuah ambisi atau mendapat validasi maupun gelar-gelar akademik yang seharusnya diperoleh dengan penuh kejujuran.
Disadari atau tidak, sesungguhnya menulis dengan tidak jujur, juga membawa petaka bagi penulisnya. Misalnya, kehilangan kepercayaan. Penulisnya akan kehilangan kepercayaan dari para pembaca ketika pembaca bisa menemukan hal-hal yang janggal atau kesan plagiasi atau manipulasi dalam tulisan itu. Apalagi ketika terbongkar kedok, kalau tulisan tersebut bukan tulisan yang orisinal, para pembaca pasti akan meninggalkan tulisan itu dan dianggap sampah. Kedua, ada akibat buruk bagi penulis yang menulis dengan cara tidak jujur. Biasanya penulis yang tidak jujur akan sering merasa cemas dengan tulisannya.
Ada rasa takut terbongkar kalau tulisan tersebut adalah hasil manipulasi, sehingga sering dihantui rasa takut atau malu. Selain itu, menulis dengan tidak jujur akan mendorong penulisnya terbiasa dalam tabiat berbohong. Tentu masih banyak lagi kerugian dari menulis dengantidak jujur tersebut.
Oleh sebab itu, agar kegiatan menulis menjadi kegiatan yang membahagiakan, kegiatan yang membangun citradiri secara positif, hendaknya haruslah dilalui atau dilakukan secara jujur dan berintegritas, karena dengan cara ini, penulis juga lebih dipercaya dan tulisan-tulisannya bisa menjadi referensi atau rujukan bagi penulis-penulis lain yang melakukan aktivitas menulis. Apalagi bila menulis dilakukan dengan jujur, bisa mencapai yang namanya kepuasan batin, maka inilah kepuasaan yang hakiki yang ingin dicapai oleh seorang penulis. Maka, jangan pernah melakukan tindakan manipulasi dalam menulis dan teruslah menulis dengan jujur. Insya Allah akan memetik banyak hikmah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






