Artikel

Untaian Puisi Mustiar Ar

12 Agustus 2026
Oleh: Mustiar. Ar

BENTENG TERAKHIR

Ketika benteng negeri runtuh oleh zaman,
penyair berdiri dengan pena yang sunyi.
Ia tak membawa senjata atau kekuasaan,
hanya kata yang lahir dari nurani.
Saat sejarah sibuk memuja nama besar,
ia mencatat luka rakyat yang terlupakan.
Saat penguasa pandai menyusun bahasa,
ia menyibak dusta dengan kesunyian.
Sebab kata bisa mati di bibir penguasa,
namun hidup lama di dada pembaca.
Dan bila suatu hari semua benteng roboh,
puisi berkata: aku masih menjaga Indonesia.

Atjeh,09 Agustus 2026

MENIPU LANGIT

Saat pelantikan, sumpah diikrarkan,
kitab suci di ateuh ule.
Rakyat disebut sebagai amanah tertinggi.

Belum lama gema tepuk tangan menghilang,
kursi-kursi dipenuhi wajah yang akrab.
Kolega dirangkul atas nama kepercayaan,
rakyat diminta bersabar atas nama keadaan.
Janji menjulang setinggi langit,
tetapi bayangnya tak sampai ke dapur-dapur.

Nurani tak mengenal tata rias.
Tak ada yang sanggup menipu langit,
karena sejarah selalu menulis tanpa takut.

Meulaboh, 07.08.2026

LAPAR YANG MENGUATKAN

Lapar bukan musuh,
ia guru yang sabar.
Haus bukan hukuman,
ia pesan yang lembut dari langit.
Ramadan memeluk yang rapuh,
menguatkan yang hampir runtuh.
Di tikar sajadah yang tipis,
air mata jatuh tanpa suara.
Puasa menundukkan ego,
membesarkan doa-doa kecil.
Dan pada malam yang panjang,
kita belajar mencintai Tuhan tanpa syarat.

Aceh, 18.02.26

RAMADAN DATANG PELAN-PELAN

Ramadan datang pelan-pelan,
seperti angin menyentuh daun tua.
Ia tak berisik,
tapi mengguncang dada yang lama beku.
Sahur mengetuk jendela sunyi,
azan subuh merambat di lorong waktu.
Perut menahan lapar,
jiwa belajar menahan amarah.
Di antara haus dan sabar,
kita menemukan diri yang hampir hilang.
Puasa bukan sekadar menunggu magrib,
ia perjalanan pulang menuju cahaya.

Aceh, 18.02.26

PUASA DAN JALAN PULANG

Di siang yang terik,
keringat adalah tasbih yang diam-diam berdzikir.
Langkah terasa berat,
tapi hati justru ringan.
Puasa mengajarkan cukup,
pada nasi sederhana dan air seteguk.
Tak semua yang lapar itu lemah,
kadang justru paling kuat menahan dendam.
Ramadan adalah cermin,
memantulkan dosa yang tak sempat kita akui.
Dan saat magrib pecah oleh azan,
kita tahu syukur lebih manis dari gula.

Aceh,18.02.26

RAKYAT MENGGUGAT

Kami datang bukan membawa senjata,
melainkan perut yang terlalu lama diajak berunding.
Bukan obor yang kami angkat,
tetapi nurani yang berkali-kali hendak dipadamkan.

Di negeri yang gemar berpidato,
kebenaran sering kehilangan mikrofon.
Mimbar dipenuhi tepuk tangan,
jalan-jalan dipenuhi keluh yang tak pernah disiarkan.
Ada yang menimbang harga suara rakyat
dengan timbangan emas kekuasaan.
Ada yang menghafal sumpah jabatan,
lalu melupakan maknanya di balik pintu istana.

Kami menggugat!
Karena keadilan tak boleh menjadi barang mewah
yang hanya singgah di ruang-ruang berpendingin udara,
sementara rakyat mengantre nasib di bawah terik matahari.
Jangan ajari kami mencintai negeri
bila negeri terus diajari melupakan kami.
Sebab tanah ini dibangun oleh peluh,
bukan oleh tepuk tangan para penjilat.
Kelak sejarah akan menanggalkan semua topeng.
Takhta akan lapuk, jabatan akan usai,
tetapi satu suara akan tetap bergema
di setiap dada yang menolak tunduk pada kebohongan:
Rakyat tak pernah meminta untuk dipuja.
Rakyat hanya menuntut agar diperlakukan sebagai manusia.

Meulaboh, 06.08.2026

PRESIDEN KU LANSIA

Negeriku dihuni tikus dan kecoak,
tetapi juga lintah dan drakula
yang menjadikan keringat rakyat
sebagai santapan paling lezat.
Lalu meja-meja kuasa,
dipoles hingga berkilau,
sementara dapur-dapur rakyat
masih mengeja asap dan lapar.
Barangkali sebelah jiwanya
masih ingin menghadiahkan senyum.
Namun lehernya telah dijerat oligarki
dan sindikat kekuasaan yang tak berhenti mengisap.
Maka setiap langkahnya
sering terdengar sebagai gema
dari suara-suara yang bukan miliknya.

Atjeh, 15 April 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Mustiar. Ar
Biodata ku:
Mustiar Ar adalah penyair asal Meulaboh, Aceh Barat, yang karya puisinya telah dimuat dalam berbagai antologi bersama sastrawan Aceh, nasional, hingga internasional. Karyanya antara lain tergabung dalam kumpulan puisi Bebas Melata, edisi Singapura, 2018. Selain aktif menulis puisi, Mustiar Ar juga berkecimpung dalam dunia teater. Baginya, puisi dan teater merupakan ruang untuk menyuarakan kegelisahan, merekam kehidupan, serta merawat ingatan dan kebudayaan melalui kata, panggung, dan suara akar rumput

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir