Artikel · Potret Online

Menyiapkan Generasi Aceh yang Tangguh

Penulis Basri A Bakar
Agustus 3, 2026
5 menit baca 20
1ac1ab2a-4900-4776-a5ce-7c0684775a90
Foto / IlustrasiMenyiapkan Generasi Aceh yang Tangguh

Oleh Basri A. Bakar

Suasana warung kopi di Aceh hampir tidak pernah sepi. Dari pagi hingga larut malam, meja-meja dipenuhi anak-anak muda yang berbincang, bermain game, menonton pertandingan sepakbola, atau sekadar menghabiskan waktu dengan secangkir kopi.Fenomena ini menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Aceh .

Warung kopi memang memiliki nilai positif sebagai ruang silaturahmi, diskusi, bahkan tempat lahirnya berbagai gagasan.

Namun, di balik itu tersimpan sebuah pertanyaan besar. Berapa banyak waktu produktif yang hilang? Berapa banyak generasi muda yang lebih akrab dengan layar telepon genggam dari  pada Al-Qur’an, lebih mengenal tren media sosial daripada sejarah para ulama, dan lebih sering berdiskusi tentang hiburan daripada masa depan umat?

Pertanyaan inilah yang sesungguhnya telah dijawab Allah SWT lebih dari empat belas abad lalu melalui firman-Nya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9).

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan generasi yang lemah bukan hanya lemah secara fisik atau ekonomi, tetapi juga lemah akidah, ibadah, ilmu, dan kemandirian ekonomi. Inilah peringatan yang sangat relevan bagi kondisi masyarakat saat ini.

Generasi penerus tidak hanya berarti anak kandung, tetapi juga para murid, mahasiswa, dan seluruh pemuda Islam yang kelakakan memimpin masyarakat. Jika akidah mereka rapuh, mereka akan mudah terombang-ambing oleh arus materialisme, hedonisme, dan berbagai paham yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam.

Karena itulah Luqman Al-Hakim menempatkan pendidikan tauhid sebagai nasihat pertama kepada putranya seperti firman. Allah yang artinya :

Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya saat dia menasihatinya. “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).

Tauhid adalah fondasi. Di atas fondasi itulah dibangun akhlak, ilmu, tanggung jawab sosial, dan semangat berkarya. Tanpa fondasi tersebut, kecerdasan sekalipun tidak akan mampu mengantarkan seseorang kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Di sisi lain, Islam juga menegaskan bahwa menjaga keluarga merupakan kewajiban yang tidak dapat dialihkan kepada siapapun.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini mengingatkan bahwa pendidikan anak bukan semata-mata tanggung jawab sekolah, dayah, atau guru agama. 

Orang tua tetap menjadi madrasah pertama dan utama. Mereka harus mengetahui bagaimana anak menggunakan waktunya, siapa teman bergaulnya, apa yang ditonton, apa yang dibaca, dan lingkungan seperti apa yang membentuk kepribadiannya.

Dakwah idak hanya di Masjijd

Fenomena budaya nongkrong yang semakin kuat di Aceh seharusnya menjadi perhatian bersama. 

Tidak semua aktivitas di warung kopi berdampak negatif. Banyak ide besar justru lahir dari ruang-ruang diskusi. Akan tetapi, ketika sebagian besar waktu hanya dihabiskan untuk aktivitas yang tidak menghasilkan karya, tidak meningkatkan ilmu, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah, maka kebiasaan tersebut perlahan menggerus produktivitas generasi muda.

Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah. Julukan ini bukan hanya simbol sejarah, tetapi amanah untuk melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, berakhlak mulia, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. 

Generasi Aceh seharusnya tidak hanya menjadi penikmat kopi, tetapi juga pencipta inovasi, pengusaha muda, peneliti, ulama, teknokrat, dan pemimpin masa depan.

Karena itu, pendekatan dakwah pun perlu mengikuti perkembangan zaman. Dakwah tidak cukup hanya berlangsung di mimbar masjid. Pemerintah Aceh bersama para ulama, akademisi, organisasi kepemudaan, dan pengelola masjid perlu menghadirkan dakwah yang menjangkau ruang-ruang tempat generasi muda berkumpul.

Warung kopi, taman kota, pusat olahraga, kawasan rekreasi, hingga ruang-ruang kreatif dapat menjadi media dakwah yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Kajian singkat, diskusi inspiratif, pelatihan kewirausahaan berbasis syariah, mentoring pemuda, serta dialog santai bersama tokoh agama dapat menjadi cara baru menyampaikan nilai-nilai Islam tanpa kehilangan substansinya.

Gerakan Magrib Mengaji

Di samping itu, sudah saatnya budaya mengaji selepas Magrib dihidupkan kembali. Dahulu, setiap meunasah bahkan hampir setiap rumah tangga di Aceh dipenuhi suara anak-anak membaca Al-Qur’an selepas shalat Magrib. Orang tua merasa gelisah apabila anaknya belum berada di tempat mengaji. Tradisi inilah yang membentuk karakter religius masyarakat Aceh selama puluhan tahun.

Kini, suasana itu mulai memudar, tergantikan oleh televisi, gawai, permainan daring, dan aktivitas lain yang menyita perhatian anak-anak. Menghidupkan kembali gerakan mengaji ba’da Magrib bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi membangun benteng moral bagi generasi masa depan. 

Program ini memerlukan dukungan pemerintah melalui kebijakan yang berpihak pada pendidikan Al-Qur’an, penguatan TPA dan TPQ, peningkatan kesejahteraan guru mengaji, serta penyediaan sarana belajar yang memadai di setiap gampong.

Kisah para nabi mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dariorang tua yang saleh dan pendidikan yang benar. Nabi Ibrahim dikaruniai Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub memiliki Nabi Yusuf, Nabi Daud memiliki Nabi Sulaiman, dan Nabi Zakaria memiliki Nabi Yahya. 

Menjelang wafatnya pun, Nabi Ya’qub masih memastikan akidah anak-anaknya tetap terjaga sebagaimana diabadikan dalam QS. Al-Baqarah ayat 133. Hal itu menunjukkan bahwa warisan terbesar bukanlah harta, melainkan keimanan.

Masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran pembangunan, megahnya infrastruktur, atau melimpahnya sumber daya alam. Masa depan Aceh sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Jika hari ini kita berhasil melahirkan generasi yang kuat akidahnya, rajin beribadah, berilmu, produktif, dan mandiri secara ekonomi, maka Aceh akan memiliki masa depan yang kokoh.

Sebaliknya, jika kita membiarkan mereka larut dalam budaya yang tidak produktif tanpa arah dan pembinaan, maka kita sedang meninggalkan generasi yang lemah sebagaimana diperingatkan Allah SWT. Mempersiapkan generasi tangguh bukanlah tugas satu keluarga, satu sekolah, atau satu lembaga. Ia adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat agar Aceh tetap menjadi Serambi Makkah yang melahirkan generasi beriman, berilmu, berkarya, dan memberi manfaat bagi umat.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Basri A Bakar
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...