Opini · Potret Online

KESOMBONGAN MORAL: Ketika Kita Sibuk Menghakimi, tetapi Gagal Berkaca

Juli 16, 2026
6 menit baca 10
e47c1878-c2b8-46a7-b34e-86d1309ee599
Foto / IlustrasiKESOMBONGAN MORAL: Ketika Kita Sibuk Menghakimi, tetapi Gagal Berkaca

OPINI

Oleh: Teuku Muhammad Jamil

Ilmuwan Politik dan Akademisi USK, Aceh

Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

Berita yang dimuat ModusAceh.co mengenai ditemukannya sejumlah kasus HIV di rumah-rumah kos sekitar kawasan kampus di Kota Banda Aceh dengan kelompok usia terbanyak 21–30 tahun semestinya menjadi peringatan serius bagi kita semua pihak dan elemen masyarakat. 

Berdasarkan keterangan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, kasus-kasus tersebut ditemukan melalui proses skrining dan pelayanan kesehatan, yang menunjukkan bahwa persoalan ini nyata dan membutuhkan perhatian bersama, bukan sekadar menjadi bahan gunjingan atau cacian dan hujatan masyarakat.

Namun, sebagaimana sering terjadi, yang lebih cepat menyebar daripada informasi adalah penghakiman. Sebelum masyarakat memahami akar persoalan, sebelum para ahli kesehatan menjelaskan faktor-faktor penyebabnya, sebelum keluarga dan lembaga pendidikan melakukan refleksi, media sosial telah berubah menjadi ruang sidang. *Semua merasa berhak menjadi hakim.* Semua merasa paling suci. *Semua merasa memiliki standar moral untuk mengukur kehidupan orang lain.* Anehnya lagi, kondisi seperti ini, justeru terjadi di sekitar kampus dan lembaga pendidikan kebanggaan masyarakat setempat. 

*Di sinilah letak persoalan terbesar kita.*

Kasus HIV hanyalah sebuah fakta kesehatan. Akan tetapi, respons masyarakat terhadap fakta itu justru membuka penyakit sosial yang jauh lebih dalam, yakni *kesombongan moral.*

Ironisnya, penyakit ini tidak tercatat dalam statistik Dinas Kesehatan. Tidak dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Namun dampaknya sangat besar. Ia melahirkan stigma, kebencian, kemunafikan, dan hilangnya empati.

Hari ini kita begitu mudah menyebut orang lain tidak bermoral. Padahal, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: *siapa sebenarnya yang bermoral?*

_Apakah moral hanya diukur dari satu jenis dosa?_

_Bagaimana dengan korupsi yang menghabiskan uang rakyat?_

_*Bagaimana dengan fitnah yang menghancurkan kehormatan seseorang?*_

_Bagaimana dengan kebohongan yang dilakukan demi jabatan?_

_Bagaimana dengan penyalahgunaan kekuasaan?_

_Bagaimana dengan pengkhianatan terhadap amanah publik?_

_Bukankah semua itu juga merupakan persoalan moral?_

_*Mengapa sebagian masyarakat begitu keras mengutuk kesalahan yang tampak di mata, tetapi begitu lunak terhadap kejahatan yang dilakukan oleh dirinya sendiri atau kelompoknya?*_

Sebagai ahli ilmu sosial, saya sangat memahami itu. Dalam ilmu sosiologi, *Erving Goffman* menjelaskan bahwa stigma merupakan bentuk pelabelan sosial yang membuat seseorang kehilangan keberanian untuk tampil apa adanya. Ketika penyakit tertentu dilekatkan dengan penghinaan moral, orang yang mengalaminya justru akan takut mencari pertolongan. Mereka memilih diam, menyembunyikan diri, bahkan datang berobat ketika kondisinya telah terlambat.

Artinya, masyarakat yang gemar menghakimi justru dapat memperparah persoalan kesehatan masyarakat.

Lebih jauh lagi, *Émile Durkheim* menjelaskan bahwa penyimpangan sosial bukan hanya kegagalan individu, tetapi juga indikator adanya disfungsi dalam sistem sosial. Ketika keluarga melemah, pendidikan karakter kehilangan makna, lingkungan permisif terhadap berbagai penyimpangan, dan ruang dialog semakin sempit, maka masalah sosial akan terus bermunculan.

Karena itu, sangat keliru apabila seluruh beban kesalahan hanya dipikul oleh individu. *Masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, bahkan para tokoh masyarakat juga harus berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Jangan hanya cerdas menyalahkan orang lain, sementara diri sendiri lebih rusak dan bahkan merusak lagi. Begitu juga mahasiswa (tentu tidak semua) hanya dengan cerdas menuntut orang lain, sementara dirinya sendiri tak bermoral.

Itulah realitas hari ini. Yang paling mengkhawatirkan justru adalah budaya merasa diri paling benar.

Dalam psikologi sosial, *Leon Festinger* menjelaskan konsep cognitive dissonance, yaitu kecenderungan manusia mempertahankan citra bahwa dirinya adalah orang baik, sehingga lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada mengakui kekurangan dirinya sendiri.

*Inilah yang setiap hari kita saksikan.*

Orang yang gemar mencela orang lain belum tentu bersih.

Orang yang paling keras berbicara tentang moral belum tentu paling bermoral.

Orang yang paling rajin menghakimi belum tentu paling jujur.

Bahkan sejarah menunjukkan, banyak kerusakan besar dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya selalu benar.

*Islam memberikan pelajaran yang sangat mendalam mengenai hal ini.*

Dosa pertama dalam sejarah bukanlah zina, bukan pula pembunuhan.

*Dosa pertama adalah kesombongan.*

Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud sebagai penghormatan kepada Nabi Adam AS, *Iblis menolak.* Alasannya bukan karena tidak mengenal Allah, melainkan karena merasa dirinya lebih mulia. Kesombongan itulah yang menjatuhkannya.

*Pelajaran ini sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini.* Sering kali seseorang tidak sadar bahwa ketika ia merasa paling suci, paling benar, paling bermoral, sesungguhnya ia sedang berjalan di jalan yang sama dengan kesombongan yang dahulu menghancurkan Iblis.

*Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarrah.*

Pesan ini bukan sekadar peringatan teologis, tetapi juga kritik terhadap perilaku sosial manusia. Moralitas sejati tidak lahir dari kebiasaan menghakimi orang lain. Moralitas lahir dari kejujuran terhadap diri sendiri. Moralitas lahir dari kerendahan hati. Moralitas lahir dari keberanian mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

*Karena itu, berita tentang kasus HIV di Banda Aceh hendaknya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi bersama.* Jangan sampai kita lebih sibuk mencari *”kambing hitam”* daripada mencari jalan *”kotak hitam”* dan keluar. Jangan sampai kita lebih senang mempermalukan sesama daripada menyelamatkan mereka.

Masyarakat yang benar-benar bermoral bukanlah masyarakat yang paling lantang berkata, *”Kami paling suci.”*

Melainkan masyarakat yang berani berkata, *”Kami semua memiliki kelemahan dan harus terus memperbaiki diri.”*

Aceh tidak membutuhkan lebih banyak hakim media sosial. Aceh membutuhkan lebih banyak pendidik. Lebih banyak orang tua yang hadir. Lebih banyak dosen yang membimbing. Lebih banyak ulama yang merangkul. Lebih banyak pemerintah yang bekerja dengan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Dan lebih banyak manusia yang rendah hati.

Sebab, pada akhirnya, ukuran moral seseorang bukanlah seberapa keras ia menghukum kesalahan orang lain, tetapi seberapa sungguh-sungguh ia menjaga amanah, kejujuran, kasih sayang, dan integritas dalam hidupnya sendiri.

*Mari kita berhenti membangun panggung keshalehan yang penuh tepuk tangan, tetapi miskin keteladanan. *Sudah saatnya kita membangun masyarakat dan genenerasi muda yang tidak hanya pandai berbicara tentang moral, melainkan benar-benar hidup dengan moral.*

Karena sejarah membuktikan, sebuah peradaban tidak hancur hanya oleh dosa-dosa yang tampak. *Ia lebih sering runtuh oleh kemunafikan orang-orang yang merasa dirinya paling suci.* Camkanlah ….

*Sekilas tentang Penulis*

Teuku Muhammad Jamil adalah Ilmuwan Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh. Ia menjabat sebagai Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh serta aktif menulis dan mengkaji isu-isu politik, kebijakan publik, pendidikan tinggi, tata kelola pemerintahan, demokrasi, serta dinamika sosial-keagamaan. Berbagai opininya telah dipublikasikan di media lokal maupun nasional dengan karakter tulisan yang kritis, tajam, akademis, filosofis, dan selalu berorientasi pada penguatan integritas, keadilan sosial, serta pembangunan bangsa.  Hanya orang cerdas, berakal sehat, berjiwa pahlawan dan bangsa bermoral yang bisa menghargai karya dan pemikiran orang lain.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Artikel ini merupakan tulisan opini. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi Redaksi Potret Online.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...