Koperasi Sekolah: Menanam Nilai, Memanen Kesejahteraan

Oleh : Dra. Tisara, M.S.
Sebuah kelaziman, setiap tanggal 12 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Koperasi Nasional. Namun, *bagi saya yang sehari-hari mengabdi sebagai guru, pernah dipercaya memimpin koperasi guru dan sekolah, serta hingga kini masih diberi amanah sebagai Bendahara Koperasi Syariah di lingkungan sekolah, Hari Koperasi bukan sekadar peringatan seremonial.* Ia adalah ruang refleksi untuk menilai sejauh mana koperasi masih hidup sebagai gerakan pendidikan, gerakan ekonomi rakyat, dan gerakan membangun karakter bangsa.
Pengalaman mendampingi koperasi sekolah mengajarkan satu pelajaran penting : koperasi tidak dibangun pertama-tama oleh modal yang besar atau gedung yang megah, tetapi oleh kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan.
Nilai-nilai inilah yang semestinya ditanamkan sejak usia sekolah agar koperasi tidak sekadar menjadi lembaga ekonomi, melainkan menjadi budaya hidup generasi Indonesia. Saatnya membangun koperasi sekolah untuk memanen kesejahteraan di masa depan.
Sebagai alumni Pendidikan Ekonomi Koperasi, FKIP, Universitas Syiah Kuala, saya meyakini bahwa koperasi sekolah adalah *laboratorium terbaik untuk melahirkan generasi yang memahami makna demokrasi ekonomi sebagaimana dicita-citakan Bung Hatta.*
Di dalam koperasi sekolah, peserta didik tidak hanya belajar berdagang atau menyusun laporan keuangan, tetapi juga belajar bermusyawarah, memimpin, bertanggung jawab, membangun kepercayaan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Sayangnya, semangat tersebut mulai memudar. Di banyak sekolah, koperasi hanya dipandang sebagai unit usaha yang menjual perlengkapan belajar. *Bahkan tidak sedikit koperasi sekolah yang vakum atau sekadar memenuhi persyaratan administrasi.*
Padahal, jika dikelola secara profesional, koperasi sekolah dapat menjadi ruang belajar yang membentuk jiwa kewirausahaan, kepemimpinan, dan gotong royong peserta didik.
Di sisi lain, *pemerintah sedang membangun ribuan koperasi melalui Program Koperasi Desa/Gampong/Kemukiman/Kecamatan Merah Putih. Kebijakan ini patut diapresiasi sebagai ikhtiar memperkuat ekonomi kerakyatan.*
Namun, keberhasilan koperasi tidak cukup diukur dari banyaknya koperasi yang dibentuk atau gedung yang diresmikan. Keberhasilan sejati terletak pada tumbuhnya kepercayaan anggota, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, serta lahirnya kader-kader koperasi yang berintegritas.
Karena itu, membangun koperasi tidak boleh dimulai dari bangunan, tetapi dari manusianya. Dan tempat terbaik membangun manusia adalah sekolah.
*Bung Hatta pernah menegaskan bahwa koperasi merupakan usaha bersama yang berlandaskan asas kekeluargaan.* Amanat itu sejalan dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan koperasi sebagai pengejawantahan demokrasi ekonomi. Amanat konstitusi tersebut hanya akan tetap hidup apabila diwariskan melalui pendidikan kepada generasi muda.
Sekolah memiliki tanggung jawab strategis untuk menghidupkan kembali koperasi sebagai bagian dari proses pembelajaran. *Koperasi sekolah harus menjadi ruang lahirnya inovasi, literasi keuangan, kewirausahaan sosial, dan kepemimpinan peserta didik.* Sudah saatnya koperasi sekolah memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan keadilan yang menjadi jati dirinya.
Indonesia sedang menyiapkan Generasi Emas 2045. *Namun, generasi unggul tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik. Mereka juga memerlukan karakter, integritas, kemampuan bekerja sama, kepedulian sosial, dan kemandirian ekonomi.* Semua nilai tersebut dapat ditumbuhkan melalui koperasi sekolah apabila dikelola secara sungguh-sungguh.
*Sebagai guru,* saya percaya bahwa pendidikan terbaik bukan hanya mengajarkan bagaimana mencari keuntungan, *tetapi juga bagaimana berbagi manfaat.* Sebagai *alumni* Pendidikan Ekonomi Koperasi, saya meyakini bahwa koperasi adalah instrumen pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya. *
Sebagai insan koperasi yang hingga hari ini masih dipercaya mengelola koperasi di sekolah,* saya semakin yakin bahwa masa depan koperasi Indonesia sangat ditentukan oleh keberhasilan kita menanamkan nilai-nilai koperasi kepada generasi muda.
*Selamat Hari Koperasi Nasional Ke-79.*
Mari kita hidupkan kembali koperasi sekolah, bukan semata-mata untuk memperkuat unit usaha sekolah, *melainkan untuk melahirkan generasi yang jujur, mandiri, kreatif, demokratis, dan berjiwa gotong royong.*
Sebab, apabila koperasi tumbuh di sekolah, maka harapan akan lahirnya Indonesia yang adil, sejahtera, dan berkeadaban bukanlah sekadar cita-cita, melainkan sebuah keniscayaan untuk membangun masa depan bangsa.












