Nobar Piala Dunia di Global Selatan: Antara Gaya Hidup, Solidaritas, dan Kopi yang Tidak Pernah Dingin

Oleh : Ahmad Humam Hamid*
Setiap empat tahun sekali, dunia mengalami semacam “demam massal” yang tidak masuk katalog penyakit WHO, tetapi gejalanya sangat jelas: orang rela menggeser rutinitas paginya demi sepak bola, warung penuh tanpa promosi, dan obrolan yang mendadak berubah dari harga kebutuhan pokok menjadi analisis taktik pressing tinggi. Gejala itu bernama Piala Dunia FIFA.
Namun ada satu hal yang menarik: demam ini tidak merata cara menikmatinya. Di negara-negara yang sering disebut sebagai global selatan – Asia, Afrika, dan Amerika Latin – Piala Dunia tidak sekadar tontonan. Ia adalah peristiwa sosial, bahkan kadang seperti upacara tidak resmi yang tidak pernah tercatat dalam kalender negara.
Di banyak tempat, dari warung kopi kecil di Aceh hingga kios pinggir jalan di Lagos atau kedai sederhana di Rio de Janeiro, layar televisi menjadi pusat gravitasi baru. Orang-orang berkumpul bukan karena undangan, bukan karena poster, tetapi karena ada sesuatu yang sudah “dipahami bersama”: pagi ini kita nonton bola.
Dan di situlah gaya hidup itu mulai terbentuk, tanpa diumumkan.
Di global selatan, nonton bola jarang dilakukan dalam kesunyian. Ia hampir selalu kolektif. Ada kursi plastik, ada gorengan, ada kopi yang entah kenapa tidak pernah habis dipesan. Di Aceh, misalnya, warung kopi bukan hanya tempat minum, tetapi semacam ruang publik tempat demokrasi kecil berlangsung setiap kali pertandingan digelar. Tidak ada mikrofon, tidak ada moderator, tetapi semua orang merasa sah menjadi komentator.
Seorang lelaki yang beberapa jam sebelumnya masih sibuk dengan pekerjaan rutinnya, di depan layar televisi bisa berubah menjadi analis taktik yang menyebut-nyebut formasi seolah ia baru saja berdiskusi dengan Pep Guardiola. Tidak ada yang mempertanyakan kredensial. Di dunia nobar, kredibilitas diukur dari seberapa yakin suara terdengar.
Yang menarik, solidaritas dalam momen seperti ini tidak selalu lahir dari kesamaan pandangan. Justru sering lahir dari perbedaan. Satu meja bisa terbelah antara pendukung Brasil yang percaya pada “seni bermain”, dan pendukung Jerman yang percaya pada “keteraturan hidup”. Di sudut lain, ada yang memilih Argentina karena alasan yang tidak perlu dijelaskan panjang: “memang dari dulu begitu saja.”
Namun, di balik perbedaan itu, ada satu kesepakatan tak tertulis: semua orang datang untuk merasa hidup bersama.
Fenomena ini juga memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam tentang global selatan. Di banyak negara, ruang publik formal tidak selalu menjadi tempat utama interaksi sosial. Maka warung kopi, kedai kecil, atau ruang nonton bersama mengambil alih peran itu. Ia menjadi tempat di mana orang bertemu tanpa struktur, tanpa hierarki yang kaku, tanpa seragam jabatan.
Di sana, seorang ayah bisa berdebat dengan anaknya tentang siapa yang lebih hebat antara Diego Maradona dan Lionel Messi, dan keduanya sama-sama merasa benar. Bahkan mungkin sama-sama tidak mau mengalah sampai peluit akhir berbunyi, dan kadang sampai setelahnya.
Ada juga dimensi lain yang sering luput: Piala Dunia di global selatan adalah ruang untuk menegosiasikan posisi dunia. Banyak penonton secara emosional tidak selalu memihak negara-negara kuat Eropa seperti Prancis, Inggris, atau Spanyol. Bukan karena kebencian, tetapi karena ada kecenderungan alami untuk bersimpati pada yang tidak selalu dominan.
Maka lahirlah solidaritas spontan pada tim-tim yang dianggap “tidak terlalu besar”, atau pada negara-negara yang secara historis punya pengalaman serupa sebagai bagian dari dunia pinggiran. Di sini, sepak bola tidak hanya soal siapa yang menang, tetapi juga siapa yang “terasa dekat”.
Menariknya, globalisasi justru memperkuat paradoks ini. Semakin Eropa menjadi pusat liga dan industri sepak bola, semakin kuat pula rasa keterhubungan emosional penonton global selatan terhadap narasi “yang lain” – baik itu Afrika, Amerika Latin, atau bahkan tim kecil yang tiba-tiba muncul sebagai kejutan.
Di tengah semua itu, ekonomi kecil juga ikut bergerak tanpa banyak teori. Warung kopi yang biasanya mulai ramai setelah Subuh, mendadak semakin penuh pada pagi hari setiap kali pertandingan besar berlangsung. Penjual gorengan merasa seperti bagian dari rantai pasok industri hiburan global. Tidak ada yang menyebutnya “ekonomi kreatif”, tetapi kopi yang diseduh tepat waktu sering kali lebih menentukan suasana hati publik daripada pidato panjang.
Namun jika semua ini dirangkum, pertanyaan lama kembali muncul: apakah ini gaya hidup atau sekadar hiburan?
Jawabannya di global selatan tidak pernah tegas, dan mungkin memang tidak perlu tegas. Karena di sini, gaya hidup tidak selalu berbentuk kebiasaan harian yang rapi. Ia bisa muncul musiman, lalu menghilang, lalu kembali lagi dengan intensitas yang sama.
Seperti Piala Dunia itu sendiri.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya skor pertandingan atau siapa yang mengangkat trofi. Yang tersisa adalah ingatan kolektif tentang pagi-pagi yang dimulai lebih awal dari biasanya, kopi yang terlalu banyak, debat yang tidak selesai, dan tawa yang muncul tanpa alasan yang terlalu serius.
Dan mungkin, di situlah gaya hidup itu sebenarnya berada: bukan pada rutinitas, tetapi pada momen ketika orang-orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri – meski hanya selama 90 menit, atau sedikit lebih lama jika ada perpanjangan waktu.
* Sosiolog, Mantan Guru Besar USK













