Esai · Potret Online

Mengintip Tradisi Peusijuk di Minhajussalam: Saat Air Mata Orang Tua Menjadi Doa di Batas Aceh

Juli 6, 2026
4 menit baca 6
341c0a78-0848-4d21-807c-cafc536e0ddd
Foto / IlustrasiMengintip Tradisi Peusijuk di Minhajussalam: Saat Air Mata Orang Tua Menjadi Doa di Batas Aceh

Oleh Tgk.Ilham Misal, MA

Minggu sore, 5 Juli 2026, di Subulussalam, di halaman Mushala Utama Dayah Perbatasan Minhajussalam Kotamadya Subulussalam mendadak hening setelah berjam-jam diramaikan oleh hilir mudik ratusan orang. Di sudut-sudut selasar, tampak pemandangan yang menggetarkan hati: pelukan erat yang enggan dilepas, bisikan doa di telinga anak, dan air mata yang mengalir deras dari kelopak mata para orang tua.

Hari itu, sebanyak 225 santri baru secara resmi diserahkan oleh orang tua mereka untuk memulai kehidupan mandiri demi menempuh tahun ajaran baru 2026-2027. Sebuah momen transisi yang bagi sebagian besar anak merupakan kali pertama mereka harus jauh dari kehangatan pelukan ayah dan ibu.

Peusijuk: Mengetuk Pintu Langit untuk Keberkahan Penuntut Ilmu.

Menandai langkah awal yang sakral ini, Dayah Perbatasan Minhajussalam menggelar tradisi peusijuk (tepung tawar). Bagi masyarakat Serambi Mekah, peusijuk bukanlah ritual pelengkap tanpa makna. Ini adalah warisan kultural Islam-Aceh yang dipenuhi simbol rasa syukur, pemuliaan terhadap ilmu, serta permohonan keselamatan dan keberkahan langsung kepada Allah SWT.

Suasana khidmat kian terasa saat Mushala Utama bergetar oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an dan syahdunya selawat badar. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis yang diwakili oleh Tgk. Jakfar selaku perwakilan wali murid kepada pihak dayah. Penyerahan ini mengunci sebuah komitmen besar: penyerahan belahan jiwa secara ikhlas untuk ditempa menjadi benteng akidah.

Pesan Kolaborasi: “Rumah Kita Bersama“.

Menyambut penyerahan tersebut, Rais ‘Am Dayah Perbatasan Minhajussalam, Abu Tgk. Syafruddin Alyusufy, menyampaikan pidato pengenalan yang tidak biasa. Alih-alih membawakan pidato formal yang kaku, Abu justru mencairkan suasana haru dengan kelakar dan humor segar yang memancing tawa ratusan hadirin.

Abu melaporkan bahwa tahun ini antusiasme masyarakat sangat luar biasa hingga membeludak di atas 300 pendaftar, meski kuota ideal hanya berkisar 200-an. Alhasil, demi kenyamanan istirahat santri, pihak dayah terpaksa mengalihfungsikan sebagian ruang belajar menjadi asrama darurat.

“Jadi bapak ibu para wali santri jangan heran ya nanti kalau sesekali melihat anak-anak kita belajar di teras masjid atau lapangan,” canda Abu yang disambut tawa riuh.

Namun di balik candaan itu, Abu menyelipkan pesan kemitraan yang sangat menohok. Beliau menegaskan bahwa wali murid kini adalah bagian dari keluarga besar lembaga ini.

“Atas kekurangan dayah, jangan dikeluhkan ke luar, tapi mari bersama kita perbaiki. Ada sampah jangan dikritisi atau difoto, tapi langsung diambil dan dibersihkan. Mengapa? Karena ini tempat kita bersama, rumah kita bersama,” tutur Abu mengingatkan pentingnya gotong royong mendidik anak, bukan sekadar menitipkan secara pasif.

“Denda Menangis” dan Misi Besar BIRATA.

Ketegasan mental juga ditekankan oleh pimpinan dayah kepada para santri baru. Proses adaptasi memang berat, namun pesantren bukan tempat untuk mengeluh.

“Kalau mau menangis karena rindu rumah, Abu cuma kasih waktu satu minggu saja di awal. Selebihnya tidak ada waktu lagi. Kalau lewat seminggu masih kedapatan ada yang menangis, hukumannya adalah didenda untuk disuruh menangis lebih keras lagi!” seloroh Abu, memotivasi mental santri agar tangguh dan mandiri.

Sebagai salah satu dari lima dayah perbatasan strategis yang berada di bawah binaan Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh, Minhajussalam yang kini berusia 16 tahun memang memikul tanggung jawab besar. Dengan total 773 santri aktif dan rujukan dokumen internal institusi, dayah ini bergerak di bawah payung besar “MISI BIRATA” (Bekal hari tua, Intelektual muslim yang handal, Rahmat dalam lingkungan hidupnya, Amanah, Takwa sebagai jati diri, Anak yang shalih).

Napas pendidikan ini diselaraskan dengan motto yang sangat menyentuh hati: “Kukejar citaku, Bersama cintamu”. Komitmen ini bukanlah slogan kosong; rekam jejak santri Minhajussalam telah teruji membawa harum nama Aceh di pentas nasional hingga internasional melalui berbagai kejuaraan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) dan MTQ.

Langkah Awal Menuju Generasi Emas.

Ketika azan Ashar berkumandang dan shalat berjamaah selesai dilaksanakan, waktu perpisahan yang sesungguhnya pun tiba. Ratusan orang tua melangkah gontai keluar dari gerbang pesantren, meninggalkan anak-anak mereka yang mulai berjalan beriringan menuju barak asrama.

Air mata yang tumpah di tanah Subulussalam sore itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud cinta terdalam. Di balik tangis haru yang merebak, ada sejuta harapan yang membubung tinggi ke langit, berharap agar kelak dari bilik-bilik kamar dayah ini, lahir generasi emas penyejuk hati orang tua, pengabdi agama, dan pelayan bangsa. Selamat berjuang di tapal batas, para santri baru!

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...