Artikel · Potret Online

Menjaga Istiqamah Beraqidah dan Beribadah di Tengah Modernitas

Penulis Dr. Mochamad Taufik, M.Pd
Juli 5, 2026
6 menit baca 7
573d1c2f-67ac-4afb-9ab6-06bf4d45c2ab
Foto / IlustrasiMenjaga Istiqamah Beraqidah dan Beribadah di Tengah Modernitas
Disunting Oleh

Oleh Dr. Mochamad Taufik, M.Pd.

Modernitas telah menghadirkan kemudahan yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi melampaui batas negara, dan teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. 

Namun, di balik segala kemajuan itu, tersimpan tantangan besar yang tidak selalu tampak oleh mata. Krisis identitas, melemahnya spiritualitas, lunturnya adab, hingga kaburnya batas antara yang hak dan yang batil menjadi fenomena yang semakin sering kita saksikan.

Di tengah derasnya arus perubahan itu, pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan adalah: bagaimana seorang Muslim dapat tetap istiqamah dalam beraqidah dan beribadah?

Islam memberikan jawaban yang sangat mendasar. Keteguhan iman tidak lahir hanya dari kecerdasan intelektual atau kuatnya kemauan pribadi. Ia tumbuh dari ekosistem yang sehat, yaitu keluarga yang mendidik dengan iman, lingkungan yang menguatkan nilai-nilai kebaikan, dan sahabat yang saling mengingatkan menuju jalan Allah.

Allah Swt. menegaskan pentingnya peran keluarga dalam firman-Nya:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَأَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِيذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Masa mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Hingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun, dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham agar tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).

Menarik dicermati bahwa ayat ini tidak berhenti pada perintah berbakti kepada orang tua. Di penghujung ayat, Allah mengabadikan doa seorang mukmin yang telah mencapai kedewasaan spiritual. Ia tidak hanya memohon kemampuan untuk bersyukur dan beramal saleh, tetapi juga berdoa, “Wa ashlih lī fī dzurriyyatī”—”Ya Allah, perbaikilah keturunanku.” Inilah visi pendidikan Islam yang melampaui kepentingan individu. Kesalehan tidak boleh berhenti pada satu generasi, tetapi harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa doa tersebut merupakan cerminan kasih sayang seorang mukmin terhadap anak-anaknya. Orang tua yang benar-benar memahami hakikat iman tidak cukup merasa saleh untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha agar anak cucunya tetap berada di atas jalan Allah.

Senada dengan itu, Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini menjadi dasar pentingnya pendidikan keluarga. Kesalehan anak bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis, tetapi merupakan hasil dari doa, keteladanan, pendidikan yang benar, dan pertolongan Allah Swt. Karena itu, keluarga adalah benteng pertama yang menjaga akidah di tengah perubahan zaman.

Sementara itu, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah memandang ayat ini sebagai gambaran kesinambungan antargenerasi. Seorang mukmin yang matang tidak hanya memikirkan keberhasilan hidupnya, tetapi juga mempersiapkan generasi penerus agar tetap hidup dalam cahaya iman. Di sinilah letak makna pendidikan Islam sebagai investasi peradaban.

Namun, keluarga bukanlah satu-satunya faktor pembentuk karakter. Setelah rumah, manusia akan dibentuk oleh lingkungan dan sahabatnya. Tidak mengherankan jika Rasulullah  memberikan perhatian besar terhadap pentingnya memilih teman.

Beliau bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi akan memberikan keharuman kepadamu, sedangkan pandai besi dapat membuat pakaianmu terbakar atau setidaknya meninggalkan bau yang tidak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengandung pesan pendidikan yang sangat mendalam. Manusia adalah makhluk sosial. Cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara memandang kehidupan sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang setiap hari berada di sekitarnya. Karena itu, kualitas persahabatan sering kali menjadi penentu kualitas keimanan seseorang.

Dalam hadis lain Rasulullah  bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang mengikuti agama atau jalan hidup sahabat dekatnya. Maka hendaklah setiap orang memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan meniru orang yang dicintai dan dikaguminya. Karena itu, memilih teman sejatinya adalah memilih masa depan. 

Persahabatan bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga jalan yang perlahan membentuk keyakinan, kebiasaan, bahkan karakter seseorang.

Fenomena ini semakin nyata pada era digital. Hari ini, “teman” tidak hanya mereka yang duduk bersama di ruang kelas atau kantor. Algoritma media sosial pun dapat menjadi “teman” yang membentuk cara berpikir. Konten yang terus-menerus kita lihat akan memengaruhi cara kita memandang kehidupan. Apa yang kita tonton setiap hari lambat laun akan menjadi apa yang kita anggap benar. Di sinilah tantangan modernitas yang sesungguhnya. 

Pertarungan bukan lagi sekadar pada ruang fisik, melainkan juga pada ruang digital yang setiap detik memasuki pikiran manusia.

Karena itu, menjaga istiqamah pada zaman ini tidak cukup hanya mengandalkan semangat sesaat. Ia memerlukan sistem pendukung yang kuat. Rumah harus menjadi tempat bertumbuhnya iman, sekolah menjadi ruang pembiasaan akhlak, masjid menjadi pusat pembinaan ruhani, dan media digital harus digunakan sebagai sarana menyebarkan ilmu serta kebaikan.

Pemikiran ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Menurut beliau, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan manusia yang cerdas, melainkan manusia yang beradab (insan adabi), yaitu pribadi yang mengenal Tuhannya, memahami kedudukannya di hadapan Allah, serta mampu menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Tanpa adab, ilmu justru dapat melahirkan kerusakan yang lebih besar.

Pandangan serupa juga disampaikan almarhum Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Beliau menegaskan bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada banyaknya ilmu, tetapi pada keberkahan ilmu yang lahir dari keikhlasan, adab kepada guru, dan kesinambungan pendidikan iman dalam keluarga. 

Modernitas boleh berkembang, tetapi hati tetap harus terpaut kepada Allah.

Pada akhirnya, istiqamah bukanlah perjalanan yang ditempuh sendirian. Ia merupakan hasil dari sinergi keluarga yang saleh, lingkungan yang baik, sahabat yang mengingatkan kepada Allah, serta kesungguhan pribadi dalam memohon pertolongan-Nya. Sebab, sebesar apa pun tantangan zaman, Allah telah mengajarkan doa yang selalu relevan untuk setiap generasi:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَوَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Doa itu bukan sekadar untaian kata, melainkan visi besar pendidikan Islam: membangun manusia yang bersyukur, beramal saleh, dan mewariskan generasi yang tetap istiqamah dalam iman serta ibadah, sekalipun hidup di tengah dunia yang terus berubah.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dr. Mochamad Taufik, M.Pd
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...