Artikel · Potret Online

Usia Adalah Amanah, Akhirat Adalah Tujuan

Penulis Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Juli 1, 2026
4 menit baca 8
0f5c05f6-da93-4345-9a09-37d3c5380629
Foto / IlustrasiUsia Adalah Amanah, Akhirat Adalah Tujuan
Disunting Oleh

Oleh : Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

Setiap pertambahan usia adalah amanah dari Allah Swt, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Bertambahnya umur bukan sekadar bertambahnya angka, melainkan berkurangnya kesempatan hidup di dunia untuk beramal saleh. 

Seiring berjalannya waktu, tenaga mulai melemah, rambut memutih, dan usia semakin mendekat pada perjumpaan dengan Sang Pencipta. Karena itu, setiap momen hendaknya menjadi sarana untuk bermuhasabah, memperbanyak syukur, memperbaiki diri, memohon ampun atas segala dosa, serta mengisi sisa kehidupan dengan amal yang bermanfaat. 

Sebab, tujuan akhir seorang mukmin bukanlah panjangnya usia atau gemerlapnya dunia, melainkan meraih ridha Allah Swt. dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Usia Bertambah, Jatah Hidup Berkurang

Setiap kali Allah mempertemukan kita dengan usia yang baru, sesungguhnya bukan hanya angka yang bertambah, tetapi jatah kehidupan di dunia yang semakin berkurang. Waktu terus berjalan tanpa pernah berhenti menunggu siapa pun. Masa muda perlahan berganti, tenaga mulai melemah, dan kemampuan tidak lagi sekuat dahulu. Inilah sunnatullah yang pasti dialami setiap manusia.

Banyak orang merayakan hari lahir dengan penuh kegembiraan, tetapi seorang mukmin hendaknya menjadikannya sebagai momentum untuk bermuhasabah. Pertanyaannya bukan sekadar “bertambah berapa usia kita”, melainkan “berapa banyak bekal yang telah dipersiapkan untuk kembali kepada Allah.” Kesadaran inilah yang akan melahirkan rasa syukur sekaligus kehati-hatian dalam menjalani kehidupan.

Allah Swt. berfirman:

“Dan Dia-lah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Al-Anbiya’: 33).

Pergantian waktu mengajarkan bahwa hidup tidak pernah berhenti. Hari demi hari adalah kesempatan yang Allah berikan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan meninggalkan jejak kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain.

Mengakui Dosa dan Memohon Ampunan

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula kesalahan yang mungkin telah dilakukan. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Lisan yang terkadang kasar, hati yang lalai, sikap yang menyakiti orang lain, maupun ibadah yang masih jauh dari sempurna menjadi alasan untuk terus memohon ampun kepada Allah.

Muhasabah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati masih hidup. Orang yang merasa dirinya selalu benar akan sulit memperbaiki diri. Sebaliknya, mereka yang menyadari kekurangannya akan senantiasa membuka pintu taubat dan berharap pada kasih sayang Allah Yang Maha Pengampun.

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53).

Lisan adalah amanah. Banyak perselisihan, luka hati, bahkan putusnya silaturahmi bermula dari ucapan yang tidak dijaga. Karena itu, menjaga lisan adalah bagian dari akhlak seorang mukmin.

“Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, keluargaku, dan saudara-saudaraku. Bersihkan hati, lembutkan lisanku, serta jadikan aku hamba yang senantiasa bertaubat kepada-Mu.” Aamiin.

Hidup yang Bernilai Adalah Hidup yang Bermanfaat

Hakikat kehidupan bukan terletak pada banyaknya harta, jabatan, ataupun popularitas. Nilai seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, sedangkan di tengah masyarakat diukur dari manfaat yang mampu ia berikan. Karena itu, setiap kesempatan yang Allah berikan hendaknya dimanfaatkan untuk menebar kebaikan.

Ilmu yang diajarkan, nasihat yang disampaikan, bantuan yang diberikan, bahkan senyuman yang tulus dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah. Tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk berbuat baik. Kebaikan sekecil apa pun akan dicatat oleh Allah sebagai amal yang tidak akan sia-sia.

Rasulullah  bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Semakin bertambah usia, hendaknya semakin besar pula keinginan untuk meninggalkan warisan amal yang terus mengalir, sehingga ketika usia berakhir, pahala tetap mengalir melalui manfaat yang telah diberikan kepada sesama.

“Ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan umat. Karuniakan keikhlasan dalam setiap amal, serta terimalah setiap kebaikan yang aku lakukan hanya karena mengharap ridha-Mu.” Aamiin.

Ridha Allah adalah Tujuan Terbesar

Pada akhirnya, semua yang dimiliki akan ditinggalkan. Harta, kedudukan, dan pujian manusia tidak akan menemani di alam kubur. Yang akan menjadi bekal hanyalah iman, amal saleh, serta rahmat Allah. Oleh karena itu, tujuan terbesar seorang mukmin bukanlah memperoleh pengakuan manusia, melainkan meraih ridha Allah Swt.

Ketika usia terus berkurang, yang paling penting bukanlah seberapa lama hidup, tetapi bagaimana akhir kehidupan itu ditutup. Husnul khatimah adalah impian setiap orang beriman. Karena itu, setiap hari hendaknya diisi dengan memperbaiki niat, memperbanyak istighfar, dan menjaga keistiqamahan dalam beribadah.

Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Semoga setiap pertambahan usia semakin mendekatkan kita kepada Allah, bukan justru melalaikan kita. Sebab keberhasilan hidup bukan diukur dari panjangnya usia, melainkan dari keberkahan umur dan akhir kehidupan yang diridhai oleh Allah Swt.

“Ya Allah, aku tidak mengharap pujian manusia, tetapi hanya mengharap ridha-Mu. Terimalah amal-amalku yang sedikit, ampunilah dosa-dosaku yang banyak, tetapkan aku dalam iman hingga akhir hayat, dan wafatkan aku dalam keadaan husnul khatimah.” Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA Tapaktuan, Aceh Selatan
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...