Benarkah “SCOPUS” Penjaga Gerbang Ilmu?

Teuku Johar Gunawan
Setelah Hamdalah dan Shalawat.
Bayangkan di sebuah negeri, seorang peneliti yang brilian yang sudah bertahun meneliti tentang suatu permasalahan yang penting dan berusaha mencari solusinya, ditolak untuk dipromosikan karena hasil penelitiannya tidak diterbitkan di jurnal terindex Scopus (Scopus-indexed). Padahal penelitian lain yang sebenarnya biasa saja, karena terbit di jurnal terindex Scopus, mendapat insentif.
Realita hari ini, pemerintah menjadikan jurnal terindex Scopus sebagai standar tempat penerbitan hasil penelitian dan memberikan insentif untuk itu. Dan kampus diharuskan mengikuti itu. Kritik telah banyak disampaikan juga oleh para akademisi, namun sampai hari ini sistem itu tetap berjalan.
Hasil penelitian di journal terindex Scopus seolah telah menjadi jaminan mutu dan kualitas hasil penelitian. Tapi benarkah Scopus menjadi “jaminan mutu dan kualitas” dan seolah menjadi “gerbang” penjaga ilmu?
Jadi apa masalah sebenarnya soal index Scopus ini?
Salah satu akar masalahnya adalah keyakinan yang keliru tentang index Scopus sendiri. Keyakinan yang keliru itu adalah bahwa pengindeksian Scopus sama dengan kualitas ilmiah.
Keyakinan demikian bukanlah kebenaran objektif. Hal itu merupakan kesalahpahaman yang lahir dari sistem yang dibentuk dan adanya suatu keadaan “paksaan” baik dari negara atau lingkungan kampus (yang juga dipaksa oleh negara).
Scopus pada dasarnya hanyalah sebuah basis data (database), bukan penjaga gerbang pengetahuan, dan bahwa bergantung padanya sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan dapat menciptakan apa yang sering disebut oleh pakar psikologi sebagai disonansi kognitif (cognitive dissonance) yang berbahaya.
Dalam konteks ini para akademisi dipaksa menginternalisasi sistem yang secara aktif merugikan proses penemuan atau penelitian yang sebenarnya. Sistem “paksaan” harus menulis di jurnal terindex Scopus dengan tingkatan tertentu (Q1,Q2, dst) pada awalnya tentu menjadi beban tersendiri dan dipertanyakan keabsahannya.
Namun seiring berjalannya waktu, himbauan berubah jadi peraturan, kemudian berubah jadi persyaratan, lalu menjadi sistem penilaian. Selanjutnya persyaratan dan penilaian ini perlahan menjadi keyakinan baru yang merubah sikap dan pendekatan dalam melihat penelitian dan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Mereka dipaksa mengalami konflik antara pemahaman internal mereka mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan yang baik (misalnya, memecahkan masalah lokal yang nyata, kerja bertahap yang cermat, dll) dan tuntutan eksternal untuk mengejar indikator kinerja.
Preseden Sejarah: Pemenang Nobel dan Publikasi di Jurnal “Sederhana”
Padahal sejarah membuktikan bahwa hasil-hasil besar dan kemajuan ilmu pengetahuan hampir tidak pernah datang dari nama besar jurnal, dan sistem index semacam Scopus. Sebagian para pemenang hadiah Nobel, yang penelitiannya memberi kontribusi mendasar terhadap ilmu pengetahuan, menerbitkan hasil penelitiannya bahkan di jurnal yang tergolong “sederhana”,kurang ternama pada zamannya. Dan melakukannya secara bertahap.
Pernah ada yang mencoba jurnal ternama lalu tulisan mereka ditunda lama, bahkan ditolak. Hasil penelitian mereka awalnya ada yang mendapat ejekan, kritik dan tidak dipercaya. Fakta sejarah ini bisa ditemukan dengan mudah hari ini.
Misalnya, Melvin Calvin seorang ahli biokimia yang kemudian menjadi penerima hadiah Nobel Kimia tahun 1961, karena penemuannya tentang adanya siklus dan jalur atom karbon di dalam proses fotosintesa yang disebut Siklus Calvin (Calvin Cycle).
Ia tidak menunggu agar hasil penelitiannya bisa diterbitkan di jurnal bergengsi atau jurnal ternama. Ia dan timnya di Universitas California, Berkeley menerbitkan hasil penelitiannya secara berkala sesuai dengan kemajuan penelitiannya yang memakan waktu sekitar 10 tahunan.
Ia dan AA.Benson misalnya menerbitkan The Path of Carbon in Photosynthesis: VII. Respiration and Photosynthesis di Journal of Experimental Botany yang pada masa itu (1950) merupakan jurnal yang dianggap terlalu spesialis dan “regional” dibandingkan jurnal Nature atau Science.
Bahkan jika kita melihat di dalam artikel itu, mereka banyak mengutip hasil penelitian mereka sebelumnya (self citation). Sesuatu yang sudah agak jarang kita lihat di hasil-hasil penelitian hari-hari ini.Hal ini menunjukkan bahwa tulisan itu merupakan laporan kemajuan (progress) dari penelitian mereka.
Hans Adolf Krebs, diberitakan malah ditolak ketika berusaha menyerahkan penemuannya yaitu Citric Acid Cycle (Siklus Asam Sitrat) kepada sebuah jurnal ternama. Bukan karena alasan adanya kesalahan di dalam penelitiannya, tapi alasan editor: bahwa sudah cukup banyak artikel sampai berminggu-minggu ke depan.
Akhirnya ia menerbitkan artikelnya di jurnal Enzymologia – sebuah jurnal Belanda yang pada saat belum begitu dikenal. Meskipun jurnal tempat karya tersebut diterbitkan kurang terkenal, karya tersebut cukup mendasar sehingga membuatnya meraih hadiah Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1953.
Pelajarannya: jurnal “papan atas” pada masa itu kehilangan kesempatan menghargai dan menerbitkan penemuan besar pada masanya karena administratif yang kaku dari editor dan timnya. Hal ini menunjukkan bahwa “gengsi” (prestise) tempat penerbitan tidak sama dengan wawasan dan kualitas ilmiah.
Barry Marshall dan Robin Warren, 2 orang dokter peneliti asal Australia menemukan sesuatu yang pada awalnya banyak diejek di kalangan komunitas medis. Mereka menyatakan bahwa tukak lambung disebabkan oleh bakteri bernama Helicobacter pylori, bukan oleh keasaman lambung yang berlebihan.
Penerbitannya ditunda lama oleh Lancet karena banyak kritik, walau akhirnya diterbitkan. Ia penerima hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran tahun 2005.
Pada tahun 1970-an, Randy Schekman meneliti sel ragi yang mengalami gangguan pada sistem transportasinya dan dan menjelaskan bagaimana gen-gen yang berbeda mengatur berbagai aspek proses transportasi tersebut.
Ia menunjukkan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh kelainan genetik. Ia diberi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran 2013–bersama 2 orang lainnya.
Randy melemparkan kritik secara terbuka kepada jurnal “bergengsi” seperti Nature dan Cell, lewat tulisannya di Guardian (edisi 9 Desember 2013). Tulisannya berjudul: How journals like Nature, Cell and Science are damaging science (Bagaimana jurnal-jurnal seperti Nature, Cell, dan Science justru merusak dunia sains).
Dengarlah kritiknya soal jurnal papan atasdan impact factor yang dinilainya sebagai sebuah “gimmick” (trik) saja.
“These journals aggressively curate their brands, in ways more conducive to selling subscriptions than to stimulating the most important research. Like fashion designers who create limited-edition handbags or suits, they know scarcity stokes demand, so they artificially restrict the number of papers they accept.
The exclusive brands are then marketed with a gimmick called “impact factor” – a score for each journal, measuring the number of times its papers are cited by subsequent research. Better papers, the theory goes, are cited more often, so better journals boast higher scores. Yet it is a deeply flawed measure, pursuing which has become an end in itself – and is as damaging to science as the bonus culture is to banking.”
(Jurnal-jurnal ini secara agresif mengelola citra merek mereka, dengan cara-cara yang lebih mengutamakan penjualan langganan-subscription- daripada mendorong penelitian yang paling penting. Layaknya perancang busana yang menciptakan tas tangan atau setelan edisi terbatas, mereka tahu bahwa kelangkaan memicu permintaan, sehingga mereka secara artifisial membatasi jumlah artikel yang mereka terima.
Merek-merek eksklusif tersebut kemudian dipasarkan dengan trik yang disebut “impact factor” atau “faktor dampak” – sebuah skor untuk setiap jurnal, yang mengukur seberapa sering artikel-artikelnya dikutip (sitasi) oleh penelitian-penelitian selanjutnya.
Menurut teori tersebut, artikel yang lebih baik akan lebih sering dikutip, sehingga jurnal yang lebih baik memiliki skor yang lebih tinggi. Namun, ini adalah ukuran yang sangat cacat,yang pengejarannya telah menjadi tujuan itu sendiri – dan sama merusaknya bagi ilmu pengetahuan seperti budaya bonus bagi perbankan).
Pelajarannya: Bahkan para pemenang dalam sistem ini pun mengakui bahwa sistem tersebut merupakan sebuah “tirani” yang mengutamakan penampilan daripada substansi.
Fakta-fakta itu juga memperlihatkan dan mengungkapkan adanya kesalahan logis yang tersembunyi bahwa merek dan status jurnal seolah selalu sama dengan kualitas artikel.Padahal kenyataannya tidak demikian.
Sebuah artikel di jurnal Q1 bisa saja bersifat sepele; sebaliknya, artikel di jurnal lokal bisa saja bersifat transformatif. Namun sayangnya dengan sistem yang ada, kampus dan pikiran akademis bahkan telah dipaksa dan dilatih untuk mengabaikan kenyataan ini
Mendefinisikan Ulang Dampak Akademik
Jika bersatu hati dan suara, kampus akan memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari cengkraman psikologis dan sistem yang “sakit” tersebut. Karena jika tidak akibatnya, orientasi penelitian bergeser dari mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendasar menjadi mengoptimalkan metrik publikasi.
Untuk mengatasi pergeseran ini, dunia akademis harus mengevaluasi kembali cara mendefinisikan dan menghargai kontribusi ilmiah. Meskipun Scopus menyediakan alat yang berguna untuk meningkatkan visibilitas, platform ini tidak boleh menjadi satu-satunya penentu nilai penelitian.
Kampus bisa mendorong penggunaan repositori akses terbuka, preprint, termasuk keterlibatan dan diskusi dengan masyarakat non-akademis. Hal ini membantu mengembalikan fokus pada penerapan di dunia nyata dan penyebaran pengetahuan di luar jurnal terindex Scopus, termasuk ruang media publik lainnya.
Dengan membuat beberapa kriteria evaluasi lainnya di luar indeks jurnal, kampus sebagai institusi dapat menumbuhkan lingkungan di mana keingintahuan intelektual dan penyelidikan ilmiah lebih dihargai daripada optimasi metrik.
Hal demikian akhirnya dapat mendukung tujuan yang lebih luas dalam kemajuan ilmiah dan keilmuan.
Jadi kembali ke pertanyaan kita di awal: Benarkah “Scopus” Penjaga Gerbang Ilmu? Jawabannya tentu saja: tidak benar!











