Artikel · Potret Online

Scopusisasi Kampus dan Matinya Nalar Akademik : Ketika Universitas Kehilangan Jiwanya

Juli 1, 2026
4 menit baca 19
8e8aeb77-0b60-4436-b2a3-989b911a716d
Foto / IlustrasiScopusisasi Kampus dan Matinya Nalar Akademik : Ketika Universitas Kehilangan Jiwanya
Disunting Oleh

Oleh : Teuku Muhammad Jamil


Akademisi dan Guru pada Sekolah Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala, Aceh.
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Ac
eh.

Perdebatan mengenai posisi Scopus sesungguhnya bukan lagi persoalan indeksasi jurnal. Perdebatan ini telah berubah menjadi pertarungan paradigma tentang bagaimana universitas memaknai ilmu pengetahuan.

Saya berpandangan bahwa Scopus bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah Scopusisasi kampus—sebuah keadaan ketika seluruh aktivitas akademik direduksi menjadi logika angka, sitasi, indeks-H, kuartil jurnal, dan berbagai indikator bibliometrik yang diperlakukan seolah-olah identik dengan mutu ilmu pengetahuan.

Inilah yang oleh para sosiolog ilmu disebut sebagai metric fixation atau obsesi terhadap metrik. Dalam literatur mutakhir tentang evaluasi sains, kecenderungan ini telah banyak dikritik karena melahirkan perilaku akademik yang mengejar indikator, bukan substansi. Ketika indikator berubah menjadi tujuan, kualitas ilmu justru mengalami distorsi.

Fenomena tersebut sejalan dengan Goodhart’s Law : “When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure.” Ketika jumlah publikasi dan sitasi dijadikan target utama karier akademik, maka keduanya kehilangan fungsi sebagai alat ukur kualitas. Yang tumbuh bukan tradisi berpikir, melainkan industri produksi artikel.

Dalam perspektif filsafat ilmu, ilmu berkembang melalui perubahan paradigma yang lahir dari keberanian mempertanyakan kemapanan. Paradigma baru tidak pernah muncul karena kepatuhan terhadap indikator administratif, tetapi karena keberanian intelektual membaca anomali yang diabaikan oleh arus utama.

Ironisnya, birokrasi akademik kita justru lebih menghargai kepatuhan daripada keberanian.

Akibatnya, dosen didorong menjadi teknisi publikasi, bukan pemikir. Mereka semakin mahir memilih jurnal Q1, tetapi semakin jarang melahirkan teori yang lahir dari realitas Indonesia.

Dalam perspektif, ilmu pengetahuan dibangun di atas norma communalism, universalism, disinterestedness, dan organized skepticism. Norma terakhir—skeptisisme terorganisasi—menuntut ilmuwan untuk selalu mempertanyakan, menguji, bahkan meragukan kemapanan.

Namun budaya akademik kita justru bergerak ke arah sebaliknya. Yang berkembang adalah budaya kepatuhan terhadap prosedur administrasi publikasi. Skeptisisme digantikan oleh birokrasi.

Lebih jauh lagi, kita sedang menyaksikan apa yang oleh disebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan oleh rasionalitas instrumental. Rasionalitas akademik tidak lagi diarahkan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memenuhi target administratif. Kampus tidak lagi bertanya, “Apakah penelitian ini penting bagi masyarakat?” tetapi “Apakah penelitian ini bisa diterbitkan di jurnal Q1?”

Pertanyaan kedua akhirnya mengalahkan pertanyaan pertama.

Akibatnya sangat nyata.
Tridharma Perguruan Tinggi mengalami deformasi. Pendidikan menjadi pelengkap administrasi. Pengabdian masyarakat menjadi formalitas. Penelitian berubah menjadi perlombaan mengejar sitasi.

Universitas perlahan kehilangan fungsi sebagai ruang pembentukan peradaban dan berubah menjadi pabrik produksi artikel ilmiah.

Paradoks inilah yang harus dikoreksi.

Di berbagai negara maju, evaluasi universitas mulai bergerak menuju paradigma Responsible Research Assessment dan Open Science, yang menekankan kualitas, keterbukaan, kolaborasi, integritas, serta dampak sosial penelitian, bukan semata-mata indikator bibliometrik. Bahkan banyak lembaga riset internasional telah mengingatkan agar metrik tidak dijadikan satu-satunya dasar menilai mutu ilmuwan.

Indonesia justru masih terjebak pada birokratisasi angka.

Akibatnya lahirlah paradoks yang menyedihkan.

Artikel bertambah.
Sitasi meningkat.
Profesor semakin banyak.

Tetapi kemiskinan konseptual, krisis kepemimpinan intelektual, dan ketergantungan terhadap teori-teori impor justru semakin terasa.

Kita rajin mengutip ilmuwan luar negeri, tetapi malas membangun teori dari pengalaman bangsa sendiri.

Kita bangga menjadi konsumen teori, tetapi belum percaya diri menjadi produsen teori.

Padahal universitas tidak didirikan untuk mencetak pemburu indeks. Universitas didirikan untuk melahirkan manusia yang berpikir merdeka.

Kampus yang besar bukanlah kampus yang memiliki ribuan artikel Scopus.

Kampus yang besar adalah kampus yang melahirkan satu gagasan yang mampu mengubah arah sejarah.

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak akademisi yang sekadar pandai mengisi template jurnal.

Bangsa ini membutuhkan intelektual yang memiliki keberanian moral untuk mengoreksi kekuasaan, menawarkan jalan keluar atas berbagai krisis kebangsaan, dan membangun teori yang berangkat dari realitas Indonesia sendiri.

Scopus tetap penting. Publikasi internasional tetap harus didorong. Namun Scopus harus ditempatkan sebagai instrumen, bukan ideologi.

Sebab ukuran sejati ilmu pengetahuan bukanlah berapa kali sebuah artikel dikutip, melainkan sejauh mana ilmu tersebut mengubah cara manusia memahami dunia dan memperbaiki kehidupan.

Apabila universitas terus terjebak dalam penyembahan terhadap metrik, maka kita mungkin akan menghasilkan ribuan artikel setiap tahun, tetapi kehilangan satu hal yang paling mendasar : keberanian untuk berpikir.

Dan menurut saya : ketika keberanian berpikir telah hilang, sesungguhnya yang mati bukan hanya universitas, melainkan masa depan peradaban bangsa.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...