Koruptor Spesies Baru, Menyamar Jadi Pendeta Nilep Rp4,5 Miliar

Oleh Rosadi Jamani
Di negeri yang kabarnya “serba MBG” (Makin Bingung Generasinya), muncul satu spesies baru yang Darwin kalau hidup lagi mungkin langsung minta pensiun dini, koruptor mode rohaniwan aktif.
Biasanya, begitu status “tersangka” berubah jadi “terpidana”, manusia langsung masuk mode survival. Kabur ke luar negeri, sembunyi di pulau tak terdaftar, atau minimal hilang macam Harun Masiku dan Silperster. Tapi tidak dengan Liem Susilowati. Ia memilih jalur yang lebih spiritual, lebih damai, lebih… dramatis, menyamar jadi pendeta.
Ya. Pendeta. Kalau ini game RPG, mungkin class-nya, “Corrupt Priest Build: Stealth + Sermon + Accounting Skill (illicit)”. Qiqiqiq..
Kasusnya sendiri bukan kaleng-kaleng. Liem terseret perkara kredit fiktif di salah satu bank pelat merah senilai Rp4,5 miliar. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya sudah lama mengetok palu. Bersalah, vonis 8 tahun penjara, dan statusnya berubah jadi buronan sejak 2022. Tapi Liem seperti punya filosofi hidup, “kalau dunia menolakmu, jadilah orang suci.”
Benar saja, selama empat tahun ia bertransformasi. Dari nama di berkas perkara, menjadi sosok berjubah di tempat ibadah di Surabaya. Ia berkhotbah, menyapa jemaat, dan mungkin sesekali menyisipkan pesan moral yang ironisnya terdengar seperti, “Jangan mencuri… kecuali kalau sudah terlanjur jago.”
Di sinilah absurditas mencapai level maksimal. Karena menurut keterangan dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Liem tidak sekadar bersembunyi, ia hidup sebagai pendeta penuh waktu. Sampeyan bayangkan, di satu sisi dicari aparat hukum, di sisi lain dipercaya jemaat sebagai pembimbing spiritual. Ini bukan double life lagi, ini triple combo, koruptor, buronan, rohaniwan.
Kalau ini sinetron, ratingnya mungkin sudah pecah kaca televisi nasional. Namun cerita ini tidak berlangsung selamanya. Plot twist datang bukan dari intelijen canggih, tapi dari drama keluarga. Adik kandungnya, Liauw Inggarwati, bersama anaknya Bastian Widjaja, lebih dulu tertangkap oleh Tim Tangkap Buron dari Kejaksaan Negeri Surabaya pada 2 Juni 2026.
Di titik itu, kekuatan “ketenangan spiritual” Liem runtuh seperti wifi di hujan deras.
Menurut keterangan aparat, begitu mendengar keluarga dekatnya tertangkap, Liem tidak lagi mampu mempertahankan vibe suci-nya. Tidur tak nyenyak, hati gelisah, mungkin khotbahnya mulai terdengar seperti curhat, “Saudara-saudara, ada beban dosa yang… eh… cukup berat akhir-akhir ini.”
Akhirnya, pada Jumat 19 Juni 2026, pukul 16.30 WIB, Liem menyerahkan diri. Bukan ditangkap dramatis dengan kejar-kejaran, bukan pula digerebek saat sedang berkhotbah. Ia datang sendiri. Seperti orang yang akhirnya sadar, jadi pendeta itu berat, tapi jadi buronan sambil jadi pendeta lebih berat lagi.
Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya sebelumnya telah menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dalam sidang in absentia. Kini, babak pelarian resmi tamat. Tidak ada lagi mimbar, tidak ada lagi jubah rohani. Yang tersisa hanya seragam tahanan dan realita yang tidak bisa dikhotbahi.
Liem kemudian langsung dibawa ke Lapas Perempuan Surabaya Porong. Ya, tempat di mana semua “transformasi spiritual dadakan” biasanya berakhir dengan satu kesimpulan sederhana, hukum tetap hukum, meski dibungkus jubah paling suci sekalipun.
Di sebuah tempat ibadah di Surabaya, kini ada satu bangku kosong. Bangku yang dulu mungkin mendengar khotbah, doa, dan kalimat-kalimat penuh hikmah yang ternyata disampaikan oleh seseorang dengan masa lalu sedang bersembunyi dari dirinya sendiri.
Di negeri ini, kadang yang paling sulit dicari bukanlah koruptor. Tapi batas antara pertobatan… dan strategi bertahan hidup. Semoga yang dikejar KPK dan Kejaksaan segera nyerahkan diri juga. Berhenti nyamar dari CEO.
“Duh, koruptor nyamar jadi pendeta. Saya geleng-geleng kepala, Bang.”
“Esok koruptor jenis apa lagi yang ditangkap. Mudahan bukan yang lagi seruput Koptagul, wak.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












