Esai · Potret Online

Surat Terbuka kepada Pimpinan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Dompet Dhuafa

Penulis  Novita Sari Yahya
Juni 30, 2026
2 menit baca 10
IMG_1897
Foto / IlustrasiSurat Terbuka kepada Pimpinan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Dompet Dhuafa

Oleh Novita Sari Yahya 

Kejujuran Harus Menjadi Prioritas Utama Pendidikan Kader Bangsa

Kepada Yth. Pimpinan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Dompet Dhuafa,

Saya menyampaikan surat terbuka ini dengan penuh rasa hormat sekaligus keprihatinan. Menurut pandangan saya, persoalan terbesar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini bukan semata-mata ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan krisis kejujuran dan integritas.

Kejujuran adalah fondasi dari kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tidak akan ada kepemimpinan yang kuat, lembaga yang sehat, maupun pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Sebaliknya, kebiasaan mencari-cari alasan, membolak-balik fakta, dan menghindari tanggung jawab perlahan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap berbagai institusi.

Oleh karena itu, saya berharap NU, Muhammadiyah, dan Dompet Dhuafa menjadikan pendidikan kejujuran sebagai prioritas utama dalam pembinaan kader serta seluruh lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan masing-masing. Kejujuran tidak cukup diajarkan sebagai teori, tetapi harus dibentuk sebagai karakter dan budaya organisasi.

Saya juga ingin menyampaikan dengan terbuka bahwa berbagai program yang telah kami rancang, termasuk rencana pendanaan dan pengembangan Baitul Maal wa Tamwil ( BMT ) sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat, hanya akan dilanjutkan apabila terdapat komitmen yang nyata untuk menempatkan kejujuran sebagai inti pembentukan karakter kader. Sebab, membangun ekonomi tanpa membangun integritas hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh.

Menurut pandangan saya, Indonesia juga menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali kepercayaan, baik di mata masyarakat maupun dunia usaha dan para investor. Kepercayaan tidak dapat dibangun melalui slogan, tetapi melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan. 

Apabila kepercayaan terus melemah, maka tekanan terhadap ekonomi nasional dapat semakin berat. Karena itu, membangun karakter jujur bukan hanya agenda moral, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan bangsa.

Bung Hatta pernah menekankan pentingnya watak dan integritas dalam membangun bangsa. Semangat inilah yang perlu kita hidupkan kembali. Indonesia membutuhkan generasi yang berani berkata benar, mengakui kesalahan, menepati janji, dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya.

Saya percaya bahwa NU, Muhammadiyah, dan Dompet Dhuafa memiliki sejarah panjang dalam membangun umat dan bangsa. Karena itu, saya berharap ketiga organisasi ini dapat menjadi pelopor gerakan nasional pendidikan kejujuran. 

Jika kejujuran benar-benar menjadi budaya organisasi, saya yakin kepercayaan masyarakat akan tumbuh kembali, dan dari sana Indonesia dapat membangun masa depan yang lebih kuat, adil, dan bermartabat.

Membangun Indonesia dimulai dari kejujuran. Tanpa kejujuran, tidak ada kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tidak ada masa depan bangsa yang kokoh.

Hormat saya,

Novita Sari Yahya

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...