Esai · Potret Online

Tumpeng Maut: Ketika Tawa Menjadi Pisau, Logika Jadi Perang

Penulis  Yani Andoko
Juni 29, 2026
7 menit baca 8
IMG_1868
Foto / IlustrasiTumpeng Maut: Ketika Tawa Menjadi Pisau, Logika Jadi Perang
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko

Lebih Dari Sekadar Lawak Kampung

Pernahkah Anda melihat sesuatu yang membuat Anda tertawa terbahak-bahak, tapi diam-diam Anda juga merasakan ada sesuatu yang nyesek di dada? Itulah yang dirasakan penonton ludruk ketika menyaksikan Tumpeng Maut. Satu episode yang bagi generasi 80-an mungkin langsung memicu ingatan tentang suara khas Kartolo, kidungan jula-juli, dan adegan di mana Pak Basman lurah kampung yang kaya raya, tapi pelit duduk lesu tak berkutik setelah sadar dirinya ikut memakan ayam curiannya sendiri.

Tapi tunggu dulu. Apa benar ini cuma lawakan kampung? Di balik tawa pecah dan plesetan khas Suroboyoan, Tumpeng Maut menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah pisau bermata dua yang di satu sisi menghibur, tapi di sisi lain menikam kesadaran penontonnya. 

Ini adalah kritik sosial yang disamarkan sebagai dagelan, perlawanan yang dibungkus tawa, dan logika yang disajikan dengan bumbu canda.

Kidungan Jula Juli, bentuk sastra lisan yang dibawakan Kartolo, merupakan pranata sosial yang mengarahkan serta mengingatkan masyarakat untuk menyikapi permasalahan kehidupan dengan bijak, sesuai dengan norma-norma yang berlaku. 

Di balik kidungan dan dagelan itu, sebagaimana ditulis Sindhunata, tersimpan “ilmu ngglethek”  semacam sumeleh batin ala Prabu Minohek.

Anatomi Sebuah “Pembunuhan” Halus

Lakon Sederhana, Makna Menggunung

Ceritanya sederhana. Suatu malam, Kartolo dan kawan-kawannya yang kelaparan “mengambil” dua ekor ayam milik Pak Basman, orang terkaya di kampung. Mereka memasaknya menjadi tumpeng dan pesta makan besar. Ketika Pak Basman terbangun karena keributan, Kartolo justru mengundangnya ikut menyantap hidangan tersebut. Dengan lahap, Pak Basman ikut “lekoh” istilah Surabaya untuk makan dengan nikmat menikmati ayam goreng dan sambal. 

Pesta usai. Semua senang dan kenyang.

Keesokan paginya, Pak Basman kaget ayam piaraannya hilang dua ekor. Ia mencurigai Kartolo dan melabraknya. Tapi Kartolo, dengan tenang, mengakui bahwa dialah pencurinya. Namun kemudian ia mengingatkan satu fakta: Pak Basman sendiri ikut memakan ayam curian itu. 

Malah Basman makan lahap dua potong paha ayam yang ternyata ayamnya sendiri. Kartolo tertawa, Pak Basman mati kutu. Sadar bahwa dirinya, sang orang kaya yang sok suci, ternyata ikut menikmati hasil curian. Episode itu diberi judul Tumpeng Maut, mungkin maksudnya jurus maut untuk menundukkan Pak Basman yang terkenal sebagai orang paling kaya di kampung.

Tiga Lapis Kritik yang Membunuh Diam-diam

Pertama: Sindiran atas Kesenjangan Sosial. Pak Basman adalah personifikasi orang kaya yang pelit. Ia punya banyak harta, tapi tak peduli pada tetangga yang kelaparan. Kartolo Cs mewakili rakyat kecil yang terpaksa mengambil jalan pintas karena perut keroncongan. 

Potret kehidupan masyarakat kecil dengan mengandung muatan kritik sosial serta pesan moral menjadi ciri khas dari kidungan ludruk yang dipopulerkan Kartolo. Kidungan Jula Juli dalam fungsinya memang merupakan pranata sosial yang mengarahkan serta mengingatkan masyarakat untuk menyikapi permasalahan kehidupan dengan bijak.

Kedua: Kritik atas Kemunafikan Elit. 

Inilah tusukan paling mematikan. Pak Basman yang rajin sembahyang dan dihormati sebagai pemuka agama, dengan lahap menyantap makanan tanpa bertanya asal-usulnya. Ini metafora sempurna untuk para pejabat dan konglomerat yang ikut menikmati “kue korupsi” selama menguntungkan mereka. 

Keesokan paginya, mereka pura-pura bersih dan marah-marah, padahal semalam ikut “mengunyah” hasil curiannya.

Ketiga: Kekuatan Logika Rakyat Kecil

Kartolo tidak melawan dengan emosi atau kekerasan. Ia menggunakan akal sehat dan menjebak Basman dengan kesadarannya sendiri. Inilah yang disebut Sindhunata sebagai “ilmu ngglethek” bukan dengan pongah dan penuh nafsu. Ilmu ngglethek adalah kesimpulan Sindhunata setelah menafsir gagasan dan banyolan Kartolo Cs, baik atas pencermatan lakon yang dipentaskan maupun dari jula-juli yang didendangkan. 

Rakyat kecil mungkin tidak punya uang, tapi mereka punya logika yang tidak bisa dibeli.

Dari Panggung ke Realitas: Ketika Tumpeng Maut Menjadi Kenyataan

Hebatnya, kritik dalam Tumpeng Maut tidak basi oleh zaman. Ia terus relevan karena realitas yang disindir masih terjadi.

Kasus Korupsi Bansos COVID-19. Ketika kasus korupsi bansos COVID-19 menyeret Menteri Sosial Juliari Batubara, publik langsung mengaitkannya dengan Tumpeng Maut. “Tumpeng maut bansos jadi bancakan mantan Menteri Sosial Juliari Batubara bersama kroninya di DPR dan madame bansos,” tulis seorang kolumnis. Cak Kartolo memainkan ludruk Tumpeng Maut di atas panggung, sementara di Jakarta ada korupsi bansos yang membuat rakyat sakaratul maut. 

Para pejabat dan kroni “makan bersama” uang rakyat, sementara rakyat sendiri yang dibuat menderita.

Kasus “Nebeng” Jet Pribadi Kaesang. 

Kasus kontroversi Kaesang Pangarep putra Presiden Jokowi yang “nebeng” pesawat jet pribadi ke Amerika Serikat juga disindir dengan istilah yang sama. “Nebeng” versi rakyat kecil adalah menumpang kendaraan teman karena tak punya uang. 

Tapi “nebeng” versi Kaesang adalah menumpang pesawat pribadi sebuah ironi yang persis seperti Tumpeng Maut: orang-orang berkuasa ikut menikmati fasilitas mewah secara cuma-cuma, lalu berkilah seolah-olah itu hal biasa. 

Kaesang sendiri mengaku “numpang atau bahasa bekennya nebeng lah, nebeng pesawatnya teman saya”. Publik pun menertawakan dan di balik tawa itu, ada kepahitan yang sama seperti ketika Pak Basman ikut makan ayam curiannya.

Kasus “Tumpeng APBD.” Mantan Wali Kota Blitar, Samanhudi Anwar, yang tersandung kasus suap proyek APBD, juga sering dianalogikan dengan Tumpeng Maut. Ada kemiripan yang absurd antara kisah tumpeng maut dengan kisah persaingan politik para pejabat yang memperebutkan “tumpeng APBD” mereka makan bersama-sama, dan ketika ketahuan, mereka saling tunjuk dan saling mengelak, persis seperti Pak Basman.

Kartolo: Maestro Yang Tak Pernah Pensiun

Kartolo bukan sekadar pelawak. Ia adalah seorang pelakon guyonan atau kidungan ludruk yang lahir di Watu Agung, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Sejak kecil, ia terbiasa dan sampai ketagihan menonton ludruk. Meski cuma mengecap bangku sekolah rakyat (kini setingkat SD), bakat seninya sangat kuat. Ia aktif dalam rombongan karawitan dan menikmati honor yang diperolehnya setiap kali nabuh. 

Dalam usia 14 tahun, Kartolo muda masuk dalam rombongan ludruk, dan sejak itu ia sering pindah, berganti-ganti kelompok ludruk. Dari sanalah ia terus mengasah bakat seninya. Seniman yang pintar ngendang dan ngremo ini boleh dibilang sudah mencoba berbagai peran panggung.

Menurut catatan Sindhunata, ada sekitar 85 kaset “Jula-juli Guyonan Kartolo” yang beredar di pasar. Kebanyakan kaset diproduksi pada periode 1980-an, setelah ia keluar dari ludruk RRI tahun 1974. 

Nama Kartolo dan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, dikenal hampir di seluruh Jawa Timur. Bahasa tutur yang sederhana dan logika yang tak berbelit-belit menjadikan kidung dan lawakannya mudah diterima masyarakat kebanyakan.

Di usianya yang kini menginjak 80 tahun, Cak Kartolo masih aktif berkarya dalam berbagai acara seni dan budaya. Pada November 2023, misalnya, ia tampil dalam Tumpeng Maut Reborn di Dies Natalies ke-63 ITS, berkolaborasi dengan Cak Lontong dan Ludruk Tjap Tugu Pahlawan. Kartolo berperan menjadi lurah, sementara istrinya Kastini menjadi stafnya, dan mereka membuka pementasan dengan jula-juli khas mereka.

Atas dedikasinya pada ludruk, pada tahun 2024 ia mendapat penghargaan Maestro Seni Tradisi dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia. Penghargaan ini diberikan kepada individu berusia di atas 60 tahun yang secara tekun dan gigih mengabdikan diri lebih dari 35 tahun pada jenis seni yang langka atau nyaris punah serta mewariskan keahliannya kepada generasi muda. 

Kartolo dinobatkan sebagai salah satu dari lima penerima kategori Maestro Seni Tradisi, bersama Temu Misti (Gandrung Banyuwangi), Rusini (seni tari), Tatang Setiadi (seni tradisi Sunda), dan Baiya (pedendang nyanyian panjang).

Tapi warisan terbesar Kartolo bukanlah rekaman atau penghargaan. Warisan terbesarnya adalah ilmu ngglethek cara melawan ketidakadilan tanpa mengangkat senjata, cara menyampaikan kritik tanpa membuat penguasa bisa membungkamnya. 

Buku Ilmu Ngglethek Jula Juli Kartolo yang ditulis Sindhunata memaparkan arti tertawa dan menunjukkan bagaimana kita bisa tertawa, serta memberi alasan mengapa kita perlu tertawa. Buku ini membantu kita untuk melihat hidup dari sisi tertawanya. Sindhunata sendiri mencermati betapa ludruk dan jula-juli bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan juga sastra dan filsafat perlawanan rakyat.

Tawa Yang Tak Pernah Padam

Tumpeng Maut mengajarkan satu hal fundamental: kekuasaan tidak selalu diukur dari siapa yang lebih kuat secara fisik atau lebih kaya secara materi. Kekuasaan sejati adalah siapa yang bisa mengendalikan narasi. Dan Kartolo, dari panggung ludruk, mengendalikan narasi dengan canda.

Ilmu ngglethek adalah senjata rakyat kecil yang tak pernah usang. Selama masih ada “Pak Basman” yang memakan hak rakyat, selama masih ada pejabat yang ikut “nebeng” fasilitas negara, selama itu pula Tumpeng Maut akan terus diputar, didengarkan, dan dikenang. 

Kidungan Jula Juli akan terus menjadi pranata sosial yang mengingatkan kita untuk menyikapi persoalan hidup dengan bijak.

Kartolo, sang Prabu Minohek, masih hidup dan terus berkarya hingga hari ini. Tawanya dan pisau logika yang disembunyikan di balik tawa itu akan terus menikam para penikmat “tumpeng” haram. Menikam tanpa pisau. Menang tanpa berang. Itulah mahakarya sejati yang diwariskan Kartolo kepada kita semua.

                       Batu, 30 Mei 2026 now

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...