Kala Profesor Dalam Lingkaran Setan Sistem KUM dan Insentif Menulis

Oleh Tabrani Yunis
Pagi ini, Senin 29 Juni 2026, usai melakukan briefing dengan pramuniaga di POTRET Gallery, penulis menikmati segelas kopi Arabica di Gerobak Arabica Gayo, dekat POTRET Gallery di Jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya, Banda Aceh.
Sembari menyeruput kopi, naluri menulis mengajak pikiran mencari ide menulis. Sebab sudah menjadi kebiasaan setiap kali duduk menyeruput kopi, selalu ada waktu mengajak diri menjadi kreatif dan produktif. Satu jalan yang selalu menjadi cara berkreasi dan berlaku produktif adalah dengan cara menulis.
Nah, pagi ini, ide itu muncul seketika, karena sebuah ingatan menerawang pada sebuah kegiatan yang juga sangat produktif penulis alami. Ingatan menerawang ke sebuah acara yang diselenggarakan oleh HAKA di hotel Ayani, Peunayong Banda Aceh, pada tanggal 25 Juni 2026. Penulis menjadi undangan untuk membedah sebuah buku tentang Rawa Singkil.
Nah, ketika melakukan kegiatan bedah buku berjudul “Rawa Singkil Adalah Kehidupan Kami” yang ditulis oleh Ahmady, putera kelahiran Singkil tersebut, penulis memberikan komentar tantangan dari buku yang ditulis hampir 300 halaman ini. Satu di antara sekian banyak hal yang dikritisi, tersentil tentang persoalan literasi, budaya menulis di kalangan Profesor.
Apa yang terjadi di kalangan profesor adalah langkanya kita menemukan tulisan atau artikel berupa opini atau artikel ilmiah para profesor di ruang media mainstream, seperti surat kabar atau di media online yang jumlahnya sangat banyak di era digital ini.
Ungkapan itu ternyata seperti menggugat dan menyentil kehadiran seorang profesor dalam ruangan itu. Ya, kebetulan pula pada acara tersebut hadir ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Prof. Dr. Drs. Yusri Yusuf, M.Pd.
Sehingga, pernyataan penulis mendapat respon dari Prof. Yusri Yusuf pada akhir pendapatnya kala memberikan pendapat tentang buku Rawa Singkil Adalah Kehidupan Kami, tersebut. Pernyataan atau respon Prof. Yusri Yusuf bermaksud meluruskan pernyataan penulis tentang enggannya profesor menulis artikel di media masa. Menurut beliau saat itu, bahwa Profesor tidak menulis di media masa, karena para profesor menulis karya-karya ilmiah akademis yang harus dipublikasikan di jurnal yang bereputasi internasional seperti Scopus.
Bila kita pahami pernyataan itu artinya, para profesor punya kewajiban dan tanggung jawab menulis untuk kepentingan jurnal internasional, bukan untuk menulis di media masa, atau media online, seperti halnya di Potretonline.com.
Mendengar pernyataan itu,ingatan penulis terbawa pada sebuah tulisan tanggapan yang dituliskan oleh Profesor. Dr. Jarjani Usman, Ph.D di Potretonline.com, edisi 3 Juni 2026 dengan judul “ Profesor Enggan Menulis di Surat Kabar?”
Ini adalah sebuah tulisan yang sangat menarik dan memberikan pemahaman yang sangat jelas tentang posisi Profesor dalam kegiatan menulis artikel di media cetak, seperti surat kabar atau media online yang sangat banyak tersedia saat ini.
Dalam tulisan itu Prof. Dr. Jarjani Usman, Ph. D memberikan bedah anatomi yang sangat realistis, jujur, dan komprehensif mengenai fenomena “menaranya” para profesor dari ruang publik (khususnya surat kabar). Prof. Jarjani berhasil memetakan mengapa fenomena ini terjadi secara sistemis, bukan sekadar masalah “peduli atau tidak peduli”.
Fenomena dan realitas enggannya profesor menulis di media publik seperti surat kabar atau media online lainnya yang selama ini semakin banyak tersedia, salah satu sebabnya adalah karena para profesor selama ini banyak diseret ke lingkaran setan sistem KUM dan insentif.
Ya, selama ini para profesor ternyata berada di lingkaran setan sistem KUM dan insentif yang berorientasi pada stimulus dan reward. Motivasi profesor menulis hanya untuk kepentingan kenaikan pangkat, jabatan dan uang. Maka, umumnya para profesor tertarik menulis disebabkan kewajiban menulis di jurnal yang bereputasi seperti Scopus yang memberikan stimulus dan reward yang jauh lebih besar dibandingkan menulis di media mainstream, termasuk media online yang saat ini cukup banyak jumlahnya.
Jadi dengan demikian , jelas lah bahwa keengganan atau minimnya profesor yang menulis di media masa seperti surat kabar dan media online, berakar pada masalah yang paling pragmatis, urusan, pangkat, jabatan dan cuan. Hal ini juga karena sistem birokrasi pendidikan tinggi kita menciptakan ekosistem di mana tulisan populer di surat kabar dianggap “hampir tidak bernilai” secara administratif.
Pilihan yang tepat bagi profesor adalah jurnal Scopus/Bereputasi, menjanjikan reward yang lebih besar. Ya mendapat hingga 40 poin KUM, insentif finansial hingga puluhan juta rupiah, dan menjadi syarat mutlak mempertahankan atau menaikkan jabatan fungsional. Jadi ini disebut sebagai faktor apresiasi yang diperoleh oleh seorang profesor.
Tentu sangat kita pahami, bahwa setiap orang lebih memilih mana yang paling banyak memberi penghargaan dan income dari kegiatan menulis tersebut. Maka, sekali lagi benar bahwa motivasi dan orientasi menulis para profesor lebih untuk kepentingan administrasi dan income.
Namun demikian, ternyata ada faktor lain yang juga terungkap dari analisis Prof. Jarjani Usman adalah faktor risiko. para profesor banyak yang merasa takut menulis di media masa seperti koran atau surat kabar dan media digital karena dihadapkan pada risiko sosial dan risiko hukum.
Misalnya takut dihujat dan dibully bila tidak sejalan dengan pemikiran atau pendapat publik. Bahkan juga dihantui oleh takut dengan konsekuensi hukum bila harus berhubungan dengan hukum.
Selain itu, terbukti pula dalam
Penjelasan Prof. Jarjani Usman, ironisnya banyak Profesor yang tidak memiliki kemampuan dan kebiasaan menulis tulisan-tulisan popular sebagaimana yang dilakukan oleh para penulis lepas ( freelance) di media masa.
Nah, sekali lagi, memang sangat wajar dan beralasan bila selama ini sangat sedikit dan enggannya para profesor menulis di media media masa, baik cetak maupun digital, seperti media online , karena alasan-alasan yang sangat pragmatis, dan terasa mengalami disorientasi.
Dikatakan demikian, karena sesungguhnya profesor juga memiliki tanggung jawab moral untuk mencerdaskan masyarakat di luar kampus dengan menghadirkan ilmu, pandangan kritis, dan solusi berbasis penelitian ke ruang publik.
Peran ini tentu bukan sekadar akademik, tetapi juga etis profesor wajib menjadi suara yang jernih, mencerahkan, dan bertanggung jawab di tengah arus informasi yang sering membingungkan.
Apalagi di tengah gersang dan keringnya kemampuan literasi anak negeri karena layunya minat membaca dan menulis di semua kalangan, peran profesor tentu sangat dibutuhkan, termasuk profesor yang berada di menara gading. Dalam kondisi semacam ini masyarakat menuntut tanggung jawab moral profesor untuk menyebarkan ilmu lewat tulisan populer di media publik, tidak hanya di media akademik seperti jurnal -jurnal internasional yang berbau scopus atau paling kurang berlabel Sinta. Sementara media publik diabaikan.
Tak dapat dimungkiri bahwa masyarakat sebenarnya juga paham bahwa kehidupan para profesor masih belum sejahtera sekali dan mereka terbungkam dalam realitas struktural dan akademik yang justru menarik mereka ke arah yang berlawanan dengan harapan masyarakat. Sehingga, mereka tidak tertarik untuk mencerdaskan dan mencerahkan rakyat lewat media masa yang menjadi bacaan masyarakat dengan artikel pendek dan tidak ilmiah, seperti tulisan jurnal bereputasi Internasional.
Masyarakat juga sadar bahwa selama negara dan kampus hanya menghargai profesor berdasarkan metrik angka di Scopus atau Google Scholar, maka “menara gading” itu akan tetap kokoh dan semakin jauh dari harapan masyarakat yang membutuhkan peran profesor secara optimal.
Padahal seharusnya para profesor juga sadar bahwa para profesor punya tanggung jawab moral untuk melakukan pencerahan publik. Tanggung jawab moral ini mengharuskan profesor aktif menulis opini, berbicara di media, dan hadir dalam diskusi publik untuk memperkuat nalar kritis masyarakat.
Bukan hanya itu, tetapi juga tanggung jawab pengabdian yang harus diemban. Sebab, tidak cukup hanya mengajar di kelas atau menulis jurnal akademik. Profesor perlu menjangkau masyarakat luas dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami. Konon lagi di era banjir informasi ini, profesor diharapkan lebih aktif berperan memastikan data, argumentasi, dan refleksi yang disampaikan ke publik memiliki kedalaman, ketepatan, dan tanggung jawab etis.
Jadi, bila para profesor enggan menulis di media masa seperti surat kabar atau media online, pertanyaan kita di mana letak idealisme para profesor dengan kekayaan ilmu dan pengetahuan mereka yang lebih dibandingkan dengan para penulis lepas yang tidak bergelar profesor? Mengapa para penulis lepas malah lebih mau dan berani berhadapan dengan segala risiko dari kegiatan menulis di media masa, yang secara apresiasi sangat rendah, tanpa KUM dan bahkan tanpa honor?
Jadi secara faktual, kita melihat memang sangat berbeda antara profesor dengan para penulis dari kalangan non profesor yang selama ini seperti tidak ada beban menulis.
Bagi para penulis lepas, sejauh bisa berbagi pengetahuan dan berbagi pengalaman tanpa menghitung berapa jumlah KUM dan honor yang diterima, mereka banyak menulis di media masa. Bahkan banyak sekali penulis yang hidupnya Senin-Kamis, tidak punya pendapatan tetap, namun karena niatnya berbagi ilmu dan kebaikan, ingin ikut mencerahkan dan mencerdaskan, mereka menulis tanpa berharap reward dan stimulus dalam bentuk materi, seperti halnya para profesor. Ya, mengapa mereka mau menulis di media masa seperti surat kabar dan media online, sementara mereka tidak mendapat stimulus dan reward?
Idealnya, para profesor yang memiliki kapasitas yang lebih dibandingkan para penulis lepas yang bahkan hanya tamat SMA tapi rajin mengisi ruang publik di media masa. Mereka selalu menyediakan waktu untuk menulis dengan niat untuk berkontribusi memberikan pencerahan kepada publik, tanpa ada apresiasi yang besar dan bahkan tanpa honor sama sekali.
Oleh sebab itu, ketika profesor hanya mengejar kepentingan KUM dan stimulus serta reward yang besar dan enggan menulis di media masa yang banyak diakses oleh masyarakat umum adalah sebuah bentuk disorientasi yang terjadi dalam kehidupan para profesor?











