Artikel · Potret Online

Ruwatan: Zaman yang Kehilangan Cermin

Juni 28, 2026
3 menit baca 5
642018f2-bff7-4b1a-916a-4fe313c1a699
Foto / IlustrasiRuwatan: Zaman yang Kehilangan Cermin
Disunting Oleh

Oleh Fileski W Tanjung

Di zaman yang mengukur keberhasilan melalui kecepatan, manusia perlahan kehilangan kemampuan paling purba: berhenti dan bercermin. Kita membangun kecerdasan buatan, tetapi lupa merawat kesadaran alami. Kita mengabadikan setiap momen dengan kamera, tetapi semakin sulit mengenali wajah sendiri. Di titik itulah, saya memandang ruwatan bukan sebagai ritual untuk mengusir nasib buruk, melainkan sebagai keberanian untuk mengoreksi diri sebelum waktu menghakimi.

Gelar Budaya Ruwatan Bersama RRI Madiun menghadirkan pembacaan dramatic reading naskah Abu dalam Bejana, tetralogi Jerami dalam Cermin yang saya tulis, dibawakan bersama Dian Widiyawati dan Ismi Ismiati, serta berkolaborasi dengan lukisan langsung karya Dwi Kartika Rahayu berjudul Aku Berhadapan Dengan Waktu. Pertemuan sastra, teater, musik, dan seni rupa itu bukan sekadar kolaborasi antardisiplin. Ia adalah upaya mempertemukan berbagai bahasa kebudayaan untuk membicarakan satu persoalan yang sama: manusia.

Sering kali ruwatan dipahami sebagai upacara spiritual yang bertujuan membebaskan seseorang dari kutukan. Tafsir itu tentu memiliki akar budaya yang panjang. Namun, saya melihat kemungkinan lain. Yang sesungguhnya perlu diruwat hari ini bukanlah individu, melainkan cara berpikir kita. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi mengalami kekeringan makna. Kita dipenuhi opini, tetapi miskin perenungan. Barangkali yang membawa sial bukan takdir, melainkan kebiasaan kita sendiri yang terus mengulang kesalahan.

Filsuf Carl Gustav Jung pernah berkata, “Siapa yang melihat ke luar akan bermimpi, tetapi siapa yang melihat ke dalam akan terbangun.” Kalimat itu terasa semakin relevan ketika dramatic reading tidak hanya membacakan dialog, melainkan membacakan kegelisahan zaman. Abu dalam Bejana berbicara tentang sisa-sisa kemanusiaan yang perlahan mengendap setelah dibakar oleh keserakahan, kekuasaan, dan lupa diri. Abu bukan akhir kehidupan, melainkan jejak dari sesuatu yang pernah menyala. Pertanyaannya, apakah yang tersisa dari peradaban kita kelak hanyalah abu, atau justru kebijaksanaan?

Di panggung yang sama, lukisan ‘Aku Berhadapan Dengan Waktu’ menghadirkan tafsir visual yang tidak kalah menggugah. “Aku” dalam lukisan itu bukan seorang individu, melainkan seluruh umat manusia yang sedang berdialog dengan waktu. Narasinya mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berpihak; ia hanya bekerja. Yang menentukan keselamatan adalah kualitas kesadaran kita. Di sini seni rupa tidak menjadi ilustrasi pertunjukan, melainkan argumen lain yang berbicara melalui warna, garis, dan ruang.

Albert Camus pernah menulis, “Di tengah musim dingin yang paling pekat, akhirnya aku menemukan bahwa di dalam diriku terdapat musim panas yang tak terkalahkan.” Kutipan itu mengajarkan bahwa harapan bukanlah hadiah dari keadaan, melainkan keputusan batin. Maka ruwatan sesungguhnya bukan usaha mengubah dunia terlebih dahulu, tetapi keberanian mengubah cara kita hadir di dalamnya.

Barangkali itulah makna terdalam sebuah panggung budaya. Ia tidak sedang menawarkan jawaban, melainkan menciptakan ruang agar setiap orang berani mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri. Ketika dialog selesai, dan lukisan mencapai bentuk akhirnya, pertanyaan itu justru mulai hidup: apakah selama ini kita sedang menjalani waktu, atau diam-diam waktulah yang sedang menjalani kita. (*)

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...