Artikel · Potret Online

Mengunyah Filosofi: Tahu Dan Tempe Sebagai Teks Budaya Yang Hidup

Penulis Yani Andoko
Juni 22, 2026
8 menit baca 8
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko 

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana sepiring tempe goreng di warung pinggir jalan bisa menyimpan lebih banyak cerita dari pada novel setebal seribu halaman? Di balik warna keemasan dan aromanya yang menggugah selera, tersembunyi sejarah panjang, kecerdasan teknologi pangan, serta filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Indonesia, tahu dan tempe bukan sekadar lauk pauk. Ia adalah “teks budaya yang hidup” sebuah naskah yang tidak ditulis di atas kertas lontar, melainkan diukir di atas piring makan dan dilestarikan oleh lidah-lidah rakyat setiap hari. 

Di sinilah kita menemukan fakta menarik: tempe, makanan fermentasi khas Nusantara, bahkan telah diusulkan pemerintah Indonesia untuk masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Tak benda UNESCO pada tahun 2025. Sebuah pengakuan bahwa tempe bukan sekadar makanan, melainkan pengetahuan, budaya, dan teknologi pangan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Lantas, apa yang membuat tahu dan tempe layak disebut sebagai teks budaya? Mari kita “membaca” naskah agung ini bersama-sama.

Babak Pertama: Dua Saudara dari Asal Yang Berbeda

Tahu dan tempe ibarat dua saudara yang lahir dari rahim yang sama kedelai,  namun tumbuh dalam tradisi yang berbeda. Tahu, si sulung, berasal dari daratan Cina. Ia telah dikenal masyarakat Tionghoa sejak 2.200 tahun lalu, tepatnya sejak Dinasti Han berkuasa. Dibawa oleh perantau Tionghoa ke Nusantara pada abad ke-17, tahu kemudian diadaptasi dengan lidah lokal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari dapur Nusantara.

Sementara tempe adalah karya asli putra Jawa. Berdasarkan catatan dalam Serat Centhini kompilasi legenda, tradisi, dan ajaran Indonesia abad ke-17 yang diterbitkan pada tahun 1815 tempe telah menjadi sajian di pedesaan Jawa jauh sebelum masa kolonial. 

Bahkan, kata “kedelai” (kadele) sudah ditemukan dalam Serat Sri Tanjung pada sekitar abad ke-12. Ini membuktikan bahwa tempe telah menemani masyarakat Nusantara selama berabad-abad.

Fakta menarik lainnya: istilah “tempe” sendiri diyakini berasal dari kata dalam bahasa Jawa kuno, “tumpi”, yang merujuk pada makanan berwarna putih selaras dengan warna tempe segar. Pada mulanya, tempe dibuat dari kedelai hitam yang banyak tumbuh di tanah Jawa, dibudidayakan oleh masyarakat desa di wilayah Mataram, Jawa Tengah.

Dua asal-usul yang berbeda ini justru menjadi cermin awal dari sikap akomodatif masyarakat Indonesia: tahu dari Cina dan tempe dari Jawa bisa hidup berdampingan dalam satu piring, saling melengkapi tanpa saling meniadakan. Inilah baris pertama dari teks budaya yang kita baca.

Babak Kedua: Bioteknologi dari Dapur, Bukan Laboratorium

Salah satu alasan mengapa tahu dan tempe disebut sebagai “kecerdasan bertahan hidup” adalah karena di dalamnya tersimpan pengetahuan bioteknologi pangan yang luar biasa. 

Nenek moyang kita tidak memiliki mikroskop, tetapi mereka paham betul cara memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah kedelai mentah menjadi makanan bergizi dan tahan lama.

Tempe adalah produk fermentasi yang memanfaatkan jamur Rhizopus yang secara alami tumbuh pada bungkus daun tertentu. Proses fermentasi ini bukan sekadar mengawetkan, tetapi juga meningkatkan nilai gizi secara drastis. 

Penelitian menunjukkan bahwa fermentasi tempe dapat meningkatkan jumlah protein larut hingga 61,7 persen, meningkatkan serat hingga 48 persen, serta meningkatkan aktivitas antioksidan. 

Kandungan protein tempe sendiri mencapai sekitar 19 gram per 100 gram bahkan lebih tinggi dari tahu yang hanya sekitar 9,4 gram per 100 gram.

Yang lebih menakjubkan: proses fermentasi tempe mampu menghilangkan senyawa anti-nutrisi (seperti asam fitat) yang menghambat penyerapan zat gizi. 

Dengan kata lain, tanpa mengetahui ilmu kimia dan mikrobiologi, masyarakat Jawa zaman dulu berhasil menemukan cara untuk mengubah “musuh” menjadi “kawan” mikroba yang biasanya merusak makanan justru dijinakkan menjadi “tukang masak” yang menyehatkan.

Tahu, di sisi lain, mengandalkan proses koagulasi atau penggumpalan sari kedelai. Meski tidak sekompleks fermentasi tempe, tahu tetap menjadi sumber protein nabati yang andal dan mudah dicerna.

Kecerdasan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga kearifan ekologis. Tempe dapat dibuat tanpa lemari es cukup dibungkus daun dan didiamkan beberapa hari. Di iklim tropis yang panas dan lembab, ini adalah solusi pengawetan pangan yang brilian.

Babak Ketiga: Ekonomi Kerakyatan dan Jaring Pengaman Sosial

Jika Anda bertanya kepada ibu-ibu di pasar tentang pentingnya tahu dan tempe, jawabannya akan sederhana: “Murah, mengenyangkan, dan sehat.” Tapi di balik kesederhanaan itu, tersimpan peran strategis yang tak tergantikan.

Tahu dan tempe adalah “jaring pengaman gizi” bagi kelas pekerja. 

Data menunjukkan bahwa tempe menyumbang sekitar 10 persen dari total asupan protein rakyat Indonesia. Ketika harga daging melonjak, refleks pertama masyarakat adalah beralih ke tahu dan tempe. Ia menjadi “pahlawan deflasi” yang memastikan protein tetap masuk ke tubuh anak-anak meski penghasilan pas-pasan.

Namun, peran tahu dan tempe tidak berhenti di meja makan. Ia juga menjadi tulang punggung ekonomi mikro. Saat ini, terdapat sekitar 150.000 unit usaha tempe yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Dari pedagang gorengan keliling hingga warung tenda, semuanya bermodal tahu dan tempe.

Ketika harga kedelai dunia naik atau nilai tukar rupiah melemah, dampaknya langsung terasa di dapur rakyat. Sebagai contoh, pelaku usaha tahu skala kecil yang mengolah sekitar 400 kilogram kedelai per hari harus menanggung tambahan biaya hingga Rp480 ribu per hari hanya dari kenaikan harga kedelai. 

Inilah mengapa “jatuh bangunnya harga kedelai” selalu menjadi isu nasional karena menyentuh langsung kehidupan puluhan juta rumah tangga.

Dalam konteks inilah tahu dan tempe menjadi “isi rakyat kecil” bukan sekadar makanan pengganti, melainkan fondasi ketahanan pangan dan ekonomi yang lahir dari dapur paling bawah.

Babak Keempat: Filosofi yang Dikunyah Setiap Hari

Namun, lapisan paling dalam dari teks budaya ini adalah filosofi yang melekat pada tahu dan tempe terutama dalam tradisi Jawa.

Para peneliti dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa tempe memiliki kiasan dan filosofi tersendiri. Dalam masyarakat Jawa terdapat ungkapan: “Yen atine becik, tempene apik” artinya, tempe yang baik hanya bisa dibuat oleh orang-orang yang hatinya baik. Ini bukan sekadar mitos, melainkan cerminan dari proses pembuatan tempe yang membutuhkan kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarga.

Zaman dahulu, proses merebus dan mengupas kedelai dilakukan kaum laki-laki, sementara proses pemberian ragi (usar) dan pembungkusan dilakukan oleh perempuan yang harus dalam keadaan bersih. Membuat tempe di rumah merupakan pekerjaan kebersamaan suami dan istri, sehingga tempe menyimbolkan kehidupan yang harmonis antar gender dalam rumah tangga orang Jawa.

Lebih dari itu, tempe juga mengajarkan tentang kesederhanaan dan gotong royong. Dalam acara hajatan, kenduri, hingga sajian harian, tempe bacem menjadi menu wajib yang melambangkan ketulusan dan kerendahan hati.

Lalu ada filosofi “nrimo aktif” menerima kenyataan dengan lapang dada, namun menggerakkan seluruh daya cipta untuk mengubah realitas itu menjadi berkah. Dalam konteks tahu dan tempe, ini berarti: “Saya menerima bahwa saya tidak punya daging sapi dan tidak punya lemari es, MAKA saya akan mengubah jamur yang biasanya merusak makanan menjadi ‘tukang masak’ yang justru mengawetkan dan menyehatkan.”

Inilah mengapa tahu dan tempe bukan sekadar makanan. Ia adalah teks budaya yang terus dibaca dan ditafsirkan ulang oleh setiap generasi. Dari tangan para perajin di Klaten hingga kafe-kafe kekinian yang menyajikan burger tempe dan steak tahu teks ini tetap hidup, tetap berdialog dengan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya.

Babak Kelima: Menuju Pengakuan Dunia

Kekayaan budaya ini kini mulai mendapatkan pengakuan global. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kebudayaan, telah secara resmi mengajukan “Budaya Tempe” untuk masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO pada tahun 2025. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa pengajuan ini adalah langkah besar dalam mendukung tempe sebagai bagian dari identitas budaya nasional.

Jika berhasil diinskripsi pada tahun 2026, tempe akan menyusul warisan budaya Indonesia lainnya seperti keris, wayang, batik, angklung, gamelan, hingga jamu yang telah terlebih dahulu diakui UNESCO.

Pengakuan ini bukan sekadar prestise. Ia adalah bentuk penegasan bahwa tempe dengan segala kearifan lokal, nilai gizi, dan filosofi hidup yang dikandungnya adalah warisan kemanusiaan yang layak dilestarikan.

Mengunyah Filosofi, Mencerna Kehidupan

Kembali ke pertanyaan awal: apa yang membuat tahu dan tempe layak disebut sebagai teks budaya yang hidup?

Jawabannya ada pada setiap gigitan. Ketika kita menggigit tempe goreng, kita sedang “mengunyah” sejarah panjang nenek moyang yang menemukan bioteknologi dari dapur. 

Kita sedang “mencicipi” kecerdasan bertahan hidup yang mengubah keterbatasan menjadi keunggulan. Kita sedang “menelan” filosofi nrimo aktif yang mengajarkan kita untuk tetap tegar, tetap kreatif, dan tetap bersyukur di tengah segala kekurangan.

Tahu dan tempe adalah naskah lisan yang terbuat dari kedelai. Ia tidak ditulis di atas kertas lontar, tetapi diukir di atas piring makan dan dilestarikan oleh lidah-lidah rakyat. Setiap kali seorang ibu menggoreng tempe di dapur sederhana, setiap kali seorang pedagang menjajakan tahu goreng di pinggir jalan, setiap kali seorang anak kecil menyantapnya dengan nasi hangat mereka sedang membaca dan meneruskan teks budaya yang telah berusia berabad-abad.

Di tengah gempuran makanan instan dan gaya hidup serba cepat, tahu dan tempe mengingatkan kita akan satu hal: kebijaksanaan sejati tidak selalu datang dari buku tebal atau laboratorium canggih. Kadang, ia datang dari dapur, dari warung, dan dari piring-piring sederhana yang setiap hari kita nikmati.

Jadi, lain kali Anda menyantap sepiring tempe goreng, berhentilah sejenak. Rasakan bukan hanya rasanya, tetapi juga filosofi yang terkandung di dalamnya. Karena di situlah letak kekayaan sejati bangsa ini bukan di gedung megah atau kemewahan semu, melainkan di kearifan lokal yang terus hidup dan berkembang di tengah keseharian rakyatnya.

Selamat menikmati, selamat “mengunyah” filosofi hidup.

                  Batu, 19  Mei 2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...