Pengajaran Sastra di Sekolah Menengah
Hambatan, Tantangan dan Harapan
Oleh Bussiri D. Nyak Diwa
SEBELUM BERANGKAT
Pagi-pagi kubuka jendela berdebu
mentari kusam
kabut bergelut di kaca
gerimis bercanda
senyumkan lara
dan aku buru-buru berbenah
secarik kertas
setitik tinta
sepotong doa
kubungkus dalam sejadah
jika senja menjemput
aku siap berangkat.
Geucue Komplek Banda Aceh, September 1985
I. Mukaddimah
Saya awali tulisan ini dengan sebuah puisi yang saya tulis 40 tahun lalu, tepatnya bulan September 1985. Puisi ini setahun kemudian saya kirim ke Harian Waspada, Medan dan dimuat dalam ruang Abrakadabra yang diasuh oleh seorang Sastrawan bernama As Atmadi.
Saya tak pernah mengenal langsung As Atmadi, tetapi setiap saya menulis puisi dan mengirimkannya ke Waspada, puisi-puisi saya selalu dimuat. Dan itulah awal mulanya saya tertarik menulis puisi.
Menurut Lizawati & Uli (2018:141), karya sastra secara umum mengungkap sisi dari tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam menciptakan karya sastra seseorang tentu harus menghayati makna kehidupan dalam masyarakatnya, baik kehidupan secara individu maupun secara berkelompok.
Itulah sebabnya karya sastra tidak dapat dipisahkan dari sisi kehidupan seseorang, baik itu menyangkut sisi lahiriah maupun dari sisi batiniah. Karya sastra selalu berbicara tentang hakekat kehidupan yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pencipta karya sastra itu sendiri.
Puisi adalah bagian dari karya sastra. Sebagaimana karya sastra lainnya seperti cerpen, novel, roman, drama, essai, biografi, dan lain-lain, puisi memiliki ciri khas tersendiri.Bagi sebagian orang menulis puisi sangat mudah dibandingkan dengan menulis genre sastra lain.
Tapi sebagian orang lainnya menulis puisi sangat sulit, sehingga butuh waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk melahirkan sebuah puisi. Bahkan mungkin tak jadi-jadi. Sebaliknya bagi sebagian orang, ada pula yang begitu mudah melahirkan sebuah cerpen. Mungkin dalam sehari dapat menghasilkan beberapa cerpen sekaligus.
Proses kreatif menghasilkan karya sastra memang sangat dipengaruhi oleh suasana batin seorang penulis (sastrawan) itu. Pengalaman, suasana, inspirasi, dorongan, mood, dan sebagainya sangat memengaruhi lahirnya sebuah karya sastra.
Terlepas dari mudah atau sulitnya menulis karya sastra bagi seseorang sebagaimana saya sebutkan di atas, seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia seyogianya ‘harus mampu’ membahas, menjelaskan, menguraikan, mendiskusikan, menganalisis, membandingkan bahkan mampu menulis karya sastra itu sendiri. Tentu dalam rangka penerapan pembelajaran kepada anak didiknya di sekolah.
II. Beberapa Hambatan
Berdasarkan pengalaman penulis selama bertahun-tahun mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah menengah, ada beberapa hambatan yang sangat fundamental yang penulis rasakan.
Pertama, kurangnya minat siswa dalam belajar sastra.Kedua, metode pembelajaran sastra yang monoton. Ketiga, kurang memadainya sarana dan prasarana. Keempat, sering terjadi pergantian kurikulum, dan Kelima, kurangnya kompetensi guru di bidang sastra.
1. Kurangnya Minat Siswa Terhadap Sastra
Tak dapat dipungkiri bahwa kurangnya minat siswa terhadap sastra merupakan penyebab pertama yang menjadi hambatan pengajaran sastra di sekolah-sekolah. Kurangnya minat siswa ini disebabkan pula oleh beberapa faktor, di antaranya karena minat membaca siswa yang rendah, kurangnya dorongan dari orang tua, dan lingkungan yang tidak mendukung.
Kurangnya minat menyebabkan siswa tidak bersemangat ketika guru mengajarkan materi sastra. Alih-alih menyimak dengan baik dan serius, siswa malah banyak yang mengantuk bahkan tidur saat pembelajaran sedang berlangsung.
2. Metode Pembelajaran yang Monoton
Sering kali guru mengajar hanya dengan menggunakan satu metode saja, misalnya motode ceramah. Siswa dipaksa untuk menjadi pendengar budiman. Sementara guru tak henti-hentinya bicara sambil bercerita dari A hingga Z. Terkadang guru melawak di depan kelas sehingga siswa tertawa terbahak-bahak, bahkan ada siswa yang cuit-cuitan tak karuan membuat kelas menjadi gaduh.
Lain kali guru hanya sekadar mendikte hal-hal penting dari buku-buku paket atau buku petunjuk guru. Mungkin bagi siswa yang tingkat kemauan belajarnya skala bawah atau terbatas, hal ini akan cepat membosankan. Apalagi bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keadaan ini juga akan menjadikan pembelajaran sastra akan terkendala mencapai tujuannya.
3. Sarana dan Prasarana yang Tidak Memadai
Pernah suatu ketika, penulis memberi materi tentang bahasa yang digunakan oleh para pengarang dalam roman-roman Angkatan Balai Poestaka seperti Salah Asoehan, Siti Noerbaya, Merantau ke Deli, Tenggelamnya Kapal Vanderwijk, dan lain-lain.
Namun saat penulis menugaskan siswa ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan yang berkenaan dengan materi tersebut, siswa mengeluh karena buku-buku dimaksud tidak tersedia di perpustakaan.Bayangkan saja, kita ingin memperkenalkan bahasa atau gaya yang digunakan pengarang dalam karya sastra, tetapi buku-buku yang dibutuhkan tidak ada. Akhirnya penulis dan siswa hanya memanfaatkan fasilitas internet yang ada, namun itu pun tidak memadai karena jangkauan internet yang tersedia sangat terbatas.
Dalam pembelajaran sastra juga diperlukan laboratorium bahasa dan sastra, di mana siswa dan guru dapat memanfaatkan langsung fasilitas yang tersedia di sekolah.Sekolah juga semestinya dapat menyediakan sarana seperti OHP, Tipe Recorder, TV pembelajaran, LCD, VCD, dan lain sebagainya.
4. Kurikulum yang Sering Berganti
Mungkin Pemerintah menganggap bahwa pergantian kurikulum merupakan salah satu inovasi untuk memajukan pendidikan. Jika ditinjau dari tujuan jangka pendek, anggapan Pemerintah itu ada benarnya. Tetapi nampaknya Pemerintah kurang mengkaji dampak jangka panjangnya.
Paling tidak pengaruh kultur budaya Indonesia yang tidak sama dengan negera-negara maju di dunia merupakan hambatan yang sangat signifikan bagi kemajuan pendidikan Bangsa Indonesia. Mestinya kurikulum yang kita kembangkan harus sesuai dengan akar budaya Indonesia yang beragam. Akar budaya itu tentu berpusat kepada etika dan estetika, bukan kepada kebebasan yang keblabasan.
Salah satu contoh adalah hilangnya salah satu tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam materi sastra yaitu siswa mengenal para sastrawan Indonesia dan karya-karyanya, siswa dapat menyebutkan perbedaan karya sastra sesuai angkatannya, dan siswa mampu menyebutkan ciri-ciri khas hasil sastra Indonesia sesuai angkatannya.
Bersebab hilangnya beberapa tujuan pembelajaran sastra dalam kurikulum tersebut, telah mengakibatkan siswa tidak lagi mengenal sejarah dan perkembangan kesusastraan Indonesia dari masa ke masa. Dan dengan demikian pelan-pelan, tapi pasti, sejarah sastra Indonesia itu sendiri akan tercerabut dari akar pemikiran anak bangsa.
Para generasi bangsa kelak tidak ada lagi yang mengenal siapa Abdoel Moeis, Hamka, A.A. Navis, H.B. Yassin, Khairil Anwar, Motinggo Busye, dan beratus-ratus bahkan beribu nama lainnya yang telah mengubah wajah kesusastraan Indonesia.
Siswa juga tidak mengenal lagi aliran-aliran, angkatan-angkatan, dan gaya dalam masing-masing angkatan kesusastraan Indonesia. Jika demikian adanya, lalu apa yang bakal dapat kita harapkan dari generasi Indonesia di masa yang akan datang khususnya di dunia kesusastraan?
Hal di atas adalah secuil contoh persoalan yang dapat menghambat pengajaran sastra dari sudut kurikulum.Sebenarnya banyak hal lain yang ikut menghambat kurikulum kita tidak berkembang sesuai tradisi ke-Indonesia-an. Apalagi kurikulum terakhir yang digadang-gadang dengan Kurikulum Merdeka, yang ternyata justru kurikulum yang belum benar-benar merdeka karena masih banyak sekali tetek bengek yang membuat guru tidak merdeka.
5. Kurangnya Kompetensi Guru di Bidang Sastra
Nah, ini saya pikir salah satu persoalan yang dapat menghambat pembelajaran sastra paling urgen dewasa ini.Seorang guru sastra seharusnya tidak hanya sekadar menghafal teori-teori sastra, tetapi juga dapat dan mampu menulis karya-karya sastra.
Sesekali menulis puisi, cerpen, essai, bahkan novel, lalu dikirim ke media atau ke penerbit.Hal ini tentu, di samping memberi motivasi kepada anak didik, sang guru juga dapat memberikan bukti nyata bahwa dirinya mempunyai kompetensi di bidang sastra.
Lain kali juga dapat mengikuti lomba-lomba atau even-even menulis karya sastra. Apakah itu menulis puisi, cerpen, atau esai dalam bentuk antologi bersama misalnya. Hal ini tentu dapat mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam menghasilkan karya-karya sastra itu.
Terlepas apakah karya kita bermutu atau tidak, itu adalah hal lain. Jika yang kita ikuti adalah lomba, tentu di samping kita dapat mengukur kualitas karya kita, jika menang, kita juga akan memperoleh hasil finansial yakni berupa hadiah dan fasilitas lainnya.
Selain dapat menulis karya sastra untuk konsumsi media dan lomba, guru juga dapat memberikan contoh langsung kepada siswa tentang teknik menulis puisi. Misalnya, memparafrasekan puisi, membuat pencitraan, termasuk memperkenalkan teknik-teknik membaca puisi hingga mempraktikkannya di depan kelas.
Apalagi yang dicontohkan adalah karya guru sendiri. Dengan sendirinya tentu akanmempermudah guru dalam menyampaikan materi pelajaran sastra, baik teori maupun praktiknya sekaligus.
Jadi, kompetensi guru dapat diukur secara langsung melalui kemampuan menyampikan teori dan sekaligus mempraktikkannya di media dan di depan kelas. Hal ini tentu akan memberikan jalan mudah dan memangkas salah satu hambatan pembelajaran sastra di masa yang akan datang.
Hal ini dipertegas dengan pendapat para ahli, yang mengatakan bahwa belajar sastra harus memiliki kriteria yang jelas ke arah prakmatik dan mendukung masa depan peserta didik. “Pemilihan bahan ajar sangat penting dan harus sesuai dengan dunia kerja atau masa depan peserta didik agar pendidikan tidak sia-sia”, (Gani, 1988:49).
Dengan demikian diharapkan para siswa kelak dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan dapat menjamin kelangsungan hidupnya yang lebih baik.
III. Tantangan dan Harapan
1. Tantangan
Ada banyak tantangan yang dihadapi guru dalam pembelajaran sastra saat ini dan di masa yang akan datang. Tantangan itu beraneka ragam banyaknya, baik berasal dari luar maupun dari dalam diri guru itu sendiri.
Salah satu tantangan yang dihadapi guru dari luar dirinya adalah pengaruh teknologi yang semakin canggih. Guru semakin ditantang untuk dapat memanfaatkan berbagai macam teknologi di dunia pendidikan.
Artinya guru harus melek teknologi. Hari ini, teknologi AI (Artificial Intellegence) misalnya, sudah dapat mengubah dunia yang semula terbatas, menjadi tak terbatas. Dan dunia sastra ikut terpengaruh oleh perkembangan teknologi AI ini.
Jika para guru sastra tidak menguasai teknologi, bisa jadi sang guru akan selalu ketinggalan informasi dari murid-muridnya. Dan bahkan kemungkinan para siswa dapat memanipulasi segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu yang dipelajari dan dipraktikkannya.
Contoh yang sangat mudah adalah dalam hal penciptaan karya sastra, apakah itu puisi, cerpen, atau esai. Siswa, jika menguasai teknologi ini, dengan sangat mudah menciptakan puisi, cerpen, dan sebagainya melalui bantuan teknologi AI. Apabila guru tidak menguasai teknologi AI ini, maka sang guru akan terkecoh.
Oleh karena itu tantangan ini harus dapat diatasi oleh guru dengan menguasai berbagai teknologi baik yang menyangkut langsung dengan dunia pendidikan maupun tidak.
Banyak tantangan lain yang dihadapi oleh guru, yang tak mungkin penulis sebutkan dan uraikan satu persatu dalam tulisan ini. Intinya seberapa pun beratnya tantangan guru (sastra) kini dan di masa yang akan datang, apabila dapat disiasati dengan bijaksana akan dapat diatasi.
Kuncinya guru harus selalu mau belajar; belajar dan belajar. Belajar yang dimaksud di sini tidak mesti dalam pengertia formal. Guru juga dapat belajar secara otodidak; belajar secara mandiri.
Banyak fasilitas teknologi yang tersedia untuk meningkatkan terus pembelajaran sastra. Demikian juga dengan buku-buku, majalah, dan tabloid yang menyajikan materi sastra. Baik materi yang menyangkut pembelajaran sastra, maupun yang bersifat terori sastra.
Guru hanya tinggal meningkatkan semangat dan motivasinya untuk belajar. Belajar sepanjang hayat adalah peribahasa yang tepat untuk diterapkan dalam kehidupan seorang guru. Seorang guru tidak hanya menunggu, tetapi harus terus bergerak mencari, menggali, dan mengapresiasi setiap informasi dan ilmu yang diperolehnya.
2. Harapan
Kita semua, baik akademisi, praktisi, guru, calon guru, mahasiswa sastra, pekerja sastra, penikmat sastra, dan terutama pemerintah tentu punya harapan yang sama. Tak lain harapan kita adalah agar anak-cucu kita kelak dapat terus menikmati, menjaga, menumbuhkan, mengembangkan, dan melestarikan sastra sebagai warisan yang tak ternilai harganya.
Sastra Indonesia sebagai salah satu warisan dari kesusastran dunia harus terus dapat kita jaga, kita pelihara, dan kita lindungi dari unsur-unsur yang dapat merendahkan bahkan merusak tatanan kehidupan kita sebagai bangsa yang berbudaya.
Sebagai upaya untuk terus dapat menjaga warisan sastra sebagai bagian dari budaya bangsa, tentu dibutuhkan berbagai regulasi dari pemerintah. Termasuk di dalamnya penyusunan kurikulum yang meliputi seluruh aspek materi sastra.
Jika mungkin, kurikulum sastra tidak hanya sekadar ‘nebeng’ pada Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah menengah.Alangkah baiknya, jika para sastrawan di luar dunia pendidikan juga dilibatkan baik dalam penyusunan kurikulum, regulasi, maupun praktik pengajaran sastra di ruang-ruang kelas.
Ada beberapa harapan untuk perkembangan sastra Indonesia di masa depan khusunnya di dunia pendidikan adalah semakin banyaknya karya sastra yang berkualitas terutama yang ditulis oleh para guru, meningkatnya minat baca di kalaangan siswa dan guru, dapat memperkaya khasanah budaya Indonesia dan menjadi wadah untuk menyampaikan kritik sosial dalam rangka pembangunan budaya Indonesia seutuhnya.
Secara khusus, berikut adalah beberapa harapan untuk pengembangan sastra di dunia pendidikan: 1) meningkatnya kualitas dan relevansi karya satra, 2) meningkatnya minat baca siswa dan guru, 3) meningkatnya apresiasi di kalangan siswa, 4) dapat memperkuat identitas nasional, 5) dapat memperkaya keragaman budaya, 6) menjadi sarana penggunaan bahasa yang dinamis, dan 7) menjadi media pengembangan budaya baik di daerah, regional, nasional maupun internasional.
IV. Penutup
Demikian sekelumit gambaran pengajaran sastra di sekolah menengah, baik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun di Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA) yang penulis tuangkan dalam bentuk tulisan.
Gambaran ini merupakan pengalaman penulis menjadi seorang guru di beberapa sekolah selama kurang lebih 30 tahun. Mungkin pengalaman sesungguhnya terlalu ringkas untuk diungkapkan dalam tulisan ini. Namun demikian, meskipun ringkas, mungkin dapat dijadikan sebagai gambaran, paling kurang sebagai potret hitam putih terhadap berbagai persoalan pengajaran sastra di ruang-ruang kelas.
Mungkin juga tulisan ini dapat mewakili pengalaman para guru yang selama ini mengabdi dengan sepenuh hati mengajar materi sastra sebagai bagian dari Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia baik di Sekolah Menengah Pertama maupun di Sekolah Menengah Atas.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis ingin menutupnya dengan sebuah puisi yang penulis ciptakan empat tahun lalu.
TAPAL TAK BERNAMA
Bussairi D. Nyak Diwa
seperti kata cinta yang pernah kau toreh
di bibir pantai tiga puluh tahun lalu
begitulah,
kini engkau mengais-ngais kenangan di bibirmu
sebelum kutahu di manakah takdirku berlabuh
waktu itu
mestinya tak perlu lagi
kau buka catatan buram itu
di mana kau torehkan masa lalu kita
tanpa warna
sebab seperti katamu
kita hanya musafir yang berkelana dari sahara ke sahara
dan akhirnya aku kautinggalkan sendiri
di tapal tak bernama
jadi, seperti kata cinta yang kau toreh
di bibir pantai tiga puluh tahun lalu itu
lupakan saja dan anggaplah
seakan-akan kita tak pernah bertemu.
PBSI FKIP USK, 27 April 2022
Demikian semoga bermanfaat.











