Dinamika Lada Hitam dan Amerika Serikat di Barsela

(Part 1)
Oleh Assauti Wahid S. Hum., MA
Wakil Ketua Forum Alumni Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Hubungan antara Amerika Serikat dengan perang merupakan topik yang sangat penting dalam sejarah modern. Sejak awal dibentuk, angkatan bersenjata Amerika Serikat telah ikut dalam berbagai perang, baik yang terjadi di dalam negara maupun di luar negeri. Hal ini yang membuat saya untuk menulis melihat dinamika lada hitam dan Amerika Serikat di Barsela, apa terjadi dalam dinamika itu sendiri, dan bagaimana sejarahnya…?
Pulau Sumatra sudah lama terkenal sebagai penghasil lada yang berkualitas, sehingga menarik minat para pedagang asing dari berbagai negara untuk datang berdagang. Bagian utara pulau, kurang dari 10 derajat dari garis khatulistiwa, terdapat Aceh, daerah yang menghasilkan lada dengan kualitas sangat baik. Sejak akhir tahun 1790-an, kapal dagang dari New England secara rutin berlabuh di sepanjang pantai barat Aceh, melakukan pertukaran antara perak Spanyol dengan rempah-rempah.
Mereka tiba untuk mengumpulkan lada yang kemudian dikirim ke Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok. Jumlahnya kadang-kadang mencapai 42.000 pikul Aurang, yang setara lebih dari 3.000 ton dalam setahun. Lada pada masa itu sangat dibutuhkan, bukan hanya sebagai bumbu dan pengawet makanan, tetapi juga sebagai komoditas penting dalam perdagangan lintas Atlantik yang memberi keuntungan bagi Eropa utara.
Sumber sejarah menyebutkan bahwa kapal-kapal dari Amerika Serikat mulai melakukan perdagangan dalam jumlah besar di wilayah Asia pada tahun 1780-an. Kapal-kapal 15 yang terdokumentasi pertama kali berkunjung ke Padang dan Bengkulu pada tahun 1789. Kemudian, pada tahun 1795, kapal-kapal itu mulai menggunakan rute pelayaran baru menuju pusat perkebunan lada hitam.
Kawasan yang luas dan baru berada di pesisir barat daya Aceh, tepatnya antara Susoh dan Trumon. Jauh sebelum tibanya bangsa Amerika dan Eropa, budidaya lada di wilayah barat Sumatra sudah berlangsung. Dalam catatan para pelaut Amerika disebutkan bahwa di Aceh, penanaman lada baru mulai berkembang beberapa tahun sebelum kapal dagang Amerika pertama kali singgah. Tak lama setelah Amerika Serikat merdeka (4 Juli 1777).
Perdagangan lada di Pantai Barat Aceh dengan pedagang lokal, regional dan Internasional termasuk Amerika dan negara-negara Eropa mencapai puncaknya pada tahun 1800 sampai 1830-an. Sebagian besar pembeli lada saat itu adalah para pedagang Amerika. Kedua belah pihak memperoleh keuntungan dengan kemajuan perdagangan tersebut. Ekonomi di pantai Barat Sumatra, atau pantai Barat Aceh khususnya meningkat saat itu, terbukti banyak kapal-kapal asing yang berdagang berbagai macam barang di pantai-pantai tersebut di kurun itu.
Demikian juga dengan para pedagang Amerika memperoleh keuntungan yang sangat besar dari perdagangan lada yang diambil dari para petani dan pengepul di pantai Barat Aceh. Banyak di antaranya menjadi saudagar yang kaya di tempat asalnya, Amerika karena keuntungan perdagangan tersebut. Karena saat itu Amerika menjadi pemasok utama lada bagi Eropa. Ketegangan pernah muncul antara Kerajaan Aceh dan Amerika Serikat. Pada tahun 1832, armada laut Amerika menyerang pelabuhan Kuala Batu sebagai bentuk balasan atas serangan yang dialami kapal dagang mereka sekitar setahun sebelumnya.
Dalam peta navigasi yang digunakan oleh kapal-kapal Amerika pada masa itu, seluruh wilayah Sumatra telah ditandai sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Belanda, kecuali daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh. Ini yang tertulis dalam buku sejarah penulis baca.
Kemudian sejak abad ke-17. Aceh merupakan salah satu pusat perdagangan lada terbesar di wilayah Asia Tenggara. Berdasarkan rekonstruksi data dari Bulbeck, Reid, Tan, dan Wu (1998), pada masa 1600 hingga 1620, Aceh menghasilkan dan mengexport sekitar 5.500 ton lada setiap tahunnya, dengan harga rata-rata hanya 5 hingga 6 dolar Spanyol per pikul (sekitar 60 kg). Jumlah tersebut membuat Aceh menjadi pelabuhan yang strategis dan menjadi incaran VOC Belanda serta para pedagang Inggris.
Memasuki pada abad ke-18, ekspor lada dari Aceh mulai mengalami penurunan. Pada masa 1750 hingga 1770, volume ekspor lada hanya sekitar 3.500 ton setiap tahun.Meskipun harga lada mengalami kenaikan hingga 11 dollar Spanyol per pikul, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dan meningkatnya permintaan di pasar global, khususnya di Amsterdam dan London.
Situasi tidak bertahan lama, dan terjadi perubahan drastis pada awal abad ke-19. Catatan Bulbeck dan kawan-kawan. Menunjukkan bahwa antara tahun 1800 hingga 1820, harga lada di Aceh mengalami kenaikan tajam hingga mencapai sekitar 16 dolar Spanyol per pikul, sedangkan jumlah ekspor mengalami penurunan menjadi 3.000 ton per tahun. Lonjakan harga ini terjadi bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Amerika, khususnya dari Salem dan Boston, yang membuat Aceh menjadi “pelabuhan lada” atau pelabuhan penting untuk lada dalam jalur perdagangan internasional.
Namun, setelah kejadian Friendship pada tahun 1831 dan ekspedisi militer Amerika Serikat menggunakan kapal frigat Potomac pada tahun 1832, perdagangan lada dari Aceh mulai mengalami gangguan. Pada tahun 1830 hingga 1850, volume ekspor turun menjadi sekitar 2.500 ton per tahun, dengan harga sedikit menurun hingga mencapai kisaran 14 dolar Spanyol per piku. Yang tertulis dalam buku karangan Bulbeck, D. Reid, A., Tan, L. C. & Wu, Y (1998). Southeast Asian Exports since the 14th Century Cloves. Pepper, Coffee, and Sugar Leiden: KITEV Pres.
Pada akhir abad ke-19, pengaruh langsung dari perdagangan yang mendominasi berdampak signifikan terhadap perekonomian Aceh. Pesisir Barat Aceh, yang biasa disebut PelabuhanLada, terdiri dari berbagai negeri kecil yang secara mengakui kekuasaan Kesultanan Aceh, namun memiliki tingkat otonomi yang tinggi. Kondisi menciptakan ruang bagi praktik yang kemudian dikenal sebagai “gunboat diplomacy” dalam literatur Barat, yaitu kebijakan luar negeri yang menggunakan pameran atau ancaman kekuatan angkatan laut secara terang-terangan untuk memaksa negara lain agar menuruti tuntutan politik, tanpa harus benar-benar meletus menjadi perang terbuka.
Dalam catatan-catatan kolonial disebutkan bahwa para kapten yang mampu menjaga hubungan yang baik dengan para pedagang Aceh biasanya tidak menghadapi banyak kesulitan, bahkan sering kali mampu menetapkan kesepakatan kredit berdasarkan kepercayaan. Namun, perubahan harga lada yang tajam di pasar yang tidak stabil sering kali memicu konflik yang sulit dikendalikan oleh pihak berwenang, baik yang lokal maupun asing. Jalan keluar yang sering digunakan pihak asing ketika menghadapi serangan biasanya berupa serangan balik dengan menggunakan kapal perang yang dapat merusak desa-desa yang terletak di pesisir.
Kapal perang dari Inggris dan Belanda telah lama menerapkan metode tersebut di wilayah Melayu, termasuk daerah dan pesisir Aceh. Namun, Amerika adalah pihak yang memperkenalkan bentuk hukuman tersebut dalam perdagangan lada di Aceh Barat. Kapal perang Meukek pada tahun 1839, sebagai bentuk balasan atas pembunuhan oleh pasukan Amerika yang menghancurkan pesisir Kuala Batu pada tahun 1832, serta Kapten Endicott dan Wilkins. Setelah kejadian kedua, pada bulan Mei tahun 1839. Kapten Prancis Van Tseghem dari kota Nantes terkena tikaman hingga meninggal dunia dalam pertengkaran dengan seorang pedagang asal Aceh yang kaya raya di lokasi Meukek. Gubernur Bourbon, yang kini merupakan wilayah Prancis, memiliki kekuatan angkatan laut yang kuat, segera mengirimkan kapal La Dordogne untuk membayar Meukek, tepat pada saat kota tersebut mulai memulihkan diri setelah terkena serangan dari Amerika. Disebutkan dalan buku Anthony Reid.












