Artikel · Potret Online

Memorandum Perdamaian di Atas Bara Api Perang

Juni 19, 2026
5 menit baca 32
IMG_1691
Foto / IlustrasiMemorandum Perdamaian di Atas Bara Api Perang
Disunting Oleh

Oleh Ridwan Al-Makassary

Pada hari ke-107 perang Iran, berlokasi di Istana Versailles, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah menandatangani dokumen perdamaian, yaitu Islamabad Memorandum of Understanding, berisi empat belas poin dengan Iran. 

Pada saat yang sama, di Teheran, Presiden Masoud Pezeshkian memegang salinan dokumen yang sama, lengkap dengan bubuhan dua tanda tangan di bagian bawahnya. Singkatnya, dunia telah menyaksikan sebuah pemandangan yang nyaris mustahil dibayangkan akan terjadi tiga bulan sebelumnya.

Beberapa jam berselang, dua kapal tanker raksasa Iran—Diona dan Hero 2—yang membawa sekitar 3,8 juta barel minyak mentah telah melintasi Selat Hormuz yang kembali dibuka setelah dua bulan berada dalam cengkeraman blokade laut Amerika Serikat. 

Pasar global menyahuti dengan perasaan lega. Harga energi mulai stabil. Dan, para pemimpin G7 menyebut kesepakatan itu sebagai “kesempatan bersejarah” guna mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Selama lebih dari tiga bulan, perang ini mengguncang Timur Tengah dan mengirimkan gelombang ketidakpastian kapan perang berakhir ke seantero dunia. 

Sebagai satu akibat, jalur perdagangan terganggu, harga energi berfluktuasi dan ketakutan akan perang regional yang lebih luas menghantui dunia. Selain itu, di wilayah terdampak ribuan nyawa melayang, kota-kota hancur, rumah-rumah roboh dan keluarga-keluarga tercerai-berai.

Semua pihak akhirnya kembali pada instrumen yang paling tua dalam hubungan internasional: negosiasi. Ironisnya, tujuan perang itu sendiri kini tampak semakin kabur. Dalam konferensi pers di Paris setelah penandatanganan perjanjian, Trump membuat pernyataan yang mengejutkan. 

Ia meremehkan pentingnya stok uranium Iran yang selama ini disebut sebagai salah satu alasan utama berperang. Menurutnya, stok tersebut sangat sulit dijangkau dan bahkan dapat diperdebatkan apakah Amerika Serikat perlu mengamankannya.

Pernyataan itu membuka selubung pertanyaan yang tidak nyaman. Jika, ancaman nuklir Iran memang sedemikian serius hingga membenarkan perang selama lebih dari seratus hari, mengapa kini ancaman tersebut dianggap tidak terlalu penting? Dan jika ancaman itu tidak terlalu penting, untuk apa perang ini sebenarnya dilakukan? Di sinilah paradoks perang modern terlihat terang benderang.

Ancaman acap diperbesar ketika mobilisasi diperlukan, lalu diperkecil ketika diplomasi menjadi pilihan yang lebih menguntungkan. Narasi keamanan berubah mengikuti kebutuhan politik. Musuh diciptakan untuk membenarkan penggunaan kekuatan, kemudian dinegosiasikan kembali ketika biaya perang mulai terasa terlalu mahal dan didera kelelahan. 

Tetapi, yang lebih menarik adalah apa yang terjadi beberapa jam setelah perjanjian ditandatangani.

Trump mengumumkan bahwa dokumen tersebut akan dikirim ke Kongres Amerika Serikat untuk ditinjau. 

Pada saat yang sama, dia juga memperingatkan Iran tentang “konsekuensi tertinggi” apabila negara itu memperoleh senjata nuklir di masa depan. Kalimat semacam itu mungkin terdengar biasa dalam bahasa diplomasi. Namun, sesungguhnya ia mengandung pesan yang sangat jelas bahwa perdamaian telah diumumkan, tetapi ancaman perang tetap dipelihara.

Singkatnya, satu tangan menandatangani perjanjian, sedangkan tangan yang lain tetap berada di dekat pelatuk senjata.

Di sinilah letak kerapuhan terbesar kesepakatan hari ke-107. Pada hari yang sama, ketika para pemimpin G7 memuji kerangka perdamaian tersebut sebagai peluang bersejarah bagi stabilitas dunia, Senat Amerika Serikat justru gagal meloloskan resolusi War Powers yang akan mewajibkan persetujuan Kongres untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Dua peristiwa itu terjadi pada hari yang sama. Dunia merayakan perdamaian. Tetapi, pada saat yang sama Washington  mempertahankan hak untuk kembali berperang.Pesan yang muncul sangat jelas bahwa perdamaian ini bukanlah hasil rekonsiliasi mendalam. Ia lebih menyerupai gencatan senjata yang dibangun di atas keseimbangan ketakutan. 

Semua pihak menyadari bahwa biaya perang semakin mahal, tetapi tidak ada yang benar-benar mempercayai pihak lain. Karena itu, hari ke-107 lebih tepat dipahami sebagai jeda daripada akhir.

Selat Hormuz, memang, kembali terbuka dan kapal-kapal tanker kembali berlayar. Investor kembali tersenyum dan diplomasi kembali mendapatkan panggungnya. Tetapi, di balik semua itu, akar konflik yang sesungguhnya belum sepenuhnya terselesaikan. 

Ketegangan mengenai program nuklir Iran masih ada di sana. Ketidakpercayaan antara Teheran dan Washington tetap hidup di rerimbun ingatan dan kekhawatiran keamanan Israel belum hilang. Akhirnya, persaingan geopolitik di Timur Tengah tetap berlangsung, yang tersembunyi di bawah karpet.

Perjanjian, memang, dapat menghentikan tembakan. Tetapi, ia tidak serta-merta menghapus rasa curiga dan menyembuhkan trauma. Mungkin karena itu, pelajaran terbesar dari hari ke-107 bukanlah tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah. 

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa perang selalu menjanjikan solusi cepat, tetapi acap menghasilkan masalah yang lebih panjang, termasuk hancurnya kemanusiaan.

Pada akhirnya, diplomasi yang ditolak pada hari pertama perang justru diterima pada hari ke-107. Hanya saja, selama perjalanan menuju meja perdamaian itu, terlalu banyak darah yang telah tertumpah, dan juga nyawa yang melayang tanpa mereka tahu mengapa mesti berperang. 

Dan, sejarah akan mencatat ironi tersebut dengan sangat baik. Lalu, ketika dunia akhirnya memilih berbicara, ribuan orang sudah tidak lagi bisa mendengarnya.

Perdamaian, memang, telah datang. Namun ia datang terlambat. Walau, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan, bagi mereka yang telah kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan, bahkan perdamaian pun tidak pernah cukup megembalikan semua yang sirna.

Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Centerfor the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Centerfor the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...