Esai · Potret Online

TK Al Hidayah 2: Keliling Dunia dari Sebuah Panggung Seni

Juni 17, 2026
4 menit baca 17
896646a6-43c4-4e4a-bcd3-b6d13ea910ec
Foto / IlustrasiTK Al Hidayah 2: Keliling Dunia dari Sebuah Panggung Seni
Disunting Oleh

Oleh Fileski Walidha Tanjung

Di tengah dunia yang semakin terhubung oleh teknologi, manusia justru menghadapi paradoks yang menarik. Kita dapat melihat berbagai budaya dari layar telepon genggam dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu memahami makna keberagaman yang sesungguhnya. Di sinilah pendidikan menemukan tugasnya yang paling penting: bukan sekadar memperkenalkan informasi tentang dunia, melainkan menumbuhkan kemampuan untuk hidup bersama di dalamnya. Gagasan itu terasa nyata dalam Pentas Seni bertema “Around the World: Keliling Dunia Jelajah Warna-Warni Budaya” yang diselenggarakan oleh TK Al Hidayah 2 Kota Madiun pada Rabu, 17 Juni 2026, di Wisma Haji, Jalan Ringroad Barat, Ngegong, Manguharjo, Kota Madiun.

Sekilas, kegiatan ini tampak seperti acara perpisahan murid taman kanak-kanak pada umumnya. Namun, apabila dicermati lebih dalam, panggung tersebut sesungguhnya merupakan ruang belajar yang sangat penting. Anak-anak tidak hanya menampilkan tarian atau kostum dari berbagai negara, tetapi juga sedang menjalani pengalaman simbolik sebagai warga dunia. Melalui pertunjukan budaya Indonesia, Perancis, Belanda, Jepang, Korea, India, Arab Saudi, dan Amerika, mereka belajar bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan jendela untuk memahami kemanusiaan yang lebih luas.

Selama ini, pendidikan sering dipahami sebagai proses menambah pengetahuan. Padahal, pengetahuan tanpa imajinasi sosial hanya akan melahirkan manusia yang cerdas secara teknis, tetapi miskin empati. Ketika seorang anak mengenakan pakaian tradisional Jepang, menari mengikuti irama Korea, atau memperagakan budaya India, yang sedang dibangun sebenarnya bukan sekadar kemampuan artistik. Yang tumbuh adalah kesadaran bahwa dunia dihuni oleh banyak cara hidup, banyak bahasa, banyak keyakinan, dan banyak tradisi yang semuanya memiliki hak untuk dihormati.

Dalam konteks itu, pentas seni menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah laboratorium peradaban dalam ukuran yang sederhana. Anak-anak belajar bahwa identitas tidak harus dibangun dengan menolak identitas lain. Sebaliknya, semakin mengenal budaya lain, seseorang justru semakin memahami akar budayanya sendiri. Seorang anak yang mengenal dunia tidak akan kehilangan Indonesia; ia justru menemukan Indonesia dalam percakapan yang lebih luas dengan bangsa-bangsa lain.

Pemikiran tersebut mengingatkan saya pada gagasan Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Kutipan itu terasa relevan karena dunia masa depan tidak lagi ditentukan oleh kemampuan menghafal informasi, melainkan oleh kemampuan hidup berdampingan dengan keberagaman. Pendidikan yang hanya menyiapkan anak untuk bersaing akan menghasilkan pemenang dan pecundang. Namun pendidikan yang menyiapkan anak untuk memahami sesama akan melahirkan masyarakat yang beradab.

Karena itu, saya melihat kegiatan ini sebagai bentuk pendidikan yang visioner. Anak-anak diperkenalkan pada dunia bukan melalui ceramah yang panjang, melainkan melalui pengalaman estetik yang menyenangkan. Mereka belajar menggunakan tubuh, gerak, musik, warna, dan ekspresi sebagai bahasa universal. Di usia yang masih sangat muda, mereka sedang menyerap pelajaran penting bahwa manusia dapat berbeda dalam banyak hal, tetapi tetap terhubung oleh rasa ingin tahu, kegembiraan, dan harapan yang sama.

Kepala TK Al Hidayah 2 Kota Madiun, Merdika Proklaniasari, S.Pd., AUD., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya sekolah untuk menanamkan karakter terbuka, percaya diri, dan menghargai keberagaman sejak usia dini. Menurutnya, melalui tema “Around the World”, anak-anak diajak mengenal kekayaan budaya dunia sambil tetap mencintai budaya Indonesia sebagai identitas utama mereka. Ia berharap pengalaman ini menjadi bekal bagi peserta didik untuk tumbuh menjadi generasi yang toleran, kreatif, dan siap berinteraksi dengan masyarakat global.

Pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah perpisahan bukanlah akhir yang ditandainya, melainkan arah yang dibukanya. Panggung di Wisma Haji pada hari itu mungkin akan segera dibongkar. Musik akan berhenti. Lampu-lampu akan dipadamkan. Kostum-kostum akan disimpan kembali. Namun, gagasan yang ditanamkan kepada anak-anak dapat terus hidup jauh melampaui acara tersebut.

Barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: jika anak-anak taman kanak-kanak mampu belajar merayakan perbedaan melalui tarian, lagu, dan budaya dari berbagai penjuru dunia, mengapa orang dewasa sering kali gagal melakukan hal yang sama? Mungkin pendidikan terbaik bukanlah yang membuat seseorang merasa paling benar, melainkan yang membuatnya terus ingin memahami. Sebab dunia yang damai tidak dibangun oleh mereka yang mengetahui segalanya, tetapi oleh mereka yang bersedia belajar dari siapa saja.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...