Renungan Dari Mandela dan Hatta

Oleh Yani Andoko
Sebuah Pertanyaan Yang Mengganggu
Sebuah negeri yang merdeka, benderanya berkibar, lagu kebangsaannya berkumandang. Tapi di balik itu, jalanan desa masih rusak, anak-anak pintar putus sekolah karena biaya, dan rumah sakit kekurangan obat. Merdeka atau hanya sekadar “ganti kulit”? Pertanyaan ini pernah menggema di benak Bung Hatta dan juga terbayang dalam kegelisahan Nelson Mandela.
Dua tokoh dari belahan dunia berbeda ini memiliki satu kesamaan: mereka mengingatkan bahwa musuh terbesar sebuah bangsa bukanlah penjajah dari luar, melainkan “penjahat” dari dalam yang mengatasnamakan kekuasaan.
Mari kita tarik benang merah pemikiran mereka untuk merenung, apakah pemimpin kita hari ini masih menjadi pengembala yang setia, atau justru telah menjadi serigala yang menjual masa depan bangsa.
Dua Suara, Satu Kebenaran
Mandela dengan lantang berkata: “Penjahat tak pernah membangun negara. Mereka hanya memperkaya diri sambil merusak negara”. Ini adalah teguran pedas bagi mereka yang menggunakan jabatan publik sebagai mesin ATM pribadi.
Menurut Mandela, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi tindakan merusak yang merampas sumber daya rakyat dan menghancurkan kemajuan bangsa. Seorang pemimpin sejati, dalam pandangannya, adalah mereka yang bekerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan mengisi rekening sendiri.
Sementara itu, di Indonesia, Bung Hatta yang oleh banyak pihak dijuluki “Bapak Antikorupsi” hidup dengan prinsip yang sama. Baginya, kemerdekaan tanpa keadilan ekonomi dan moral hanyalah sia-sia. Ia memahami betul bahwa korupsi adalah “penyakit sosial, politik dan ekonomi kompleks” yang merusak demokrasi dan merampas hak hidup layak rakyat.
Namun, pemikiran mereka bukanlah utopia kosong. Keduanya adalah praktisi integritas.
Mandela, setelah 27 tahun dipenjara, justru keluar dengan tangan bersih dan fokus membangun negaranya yang baru merdeka dari apartheid. Ia menolak godaan kekuasaan untuk memperkaya diri.
Di sisi lain, Hatta memberikan teladan yang jauh lebih ekstrem dan menyentuh. Sebagai Wakil Presiden pertama RI, ia dikenal sangat sederhana. Ketika tak lagi menjabat, uang pensiunnya hanya Rp1.000 sebulan, nominal yang hanya cukup untuk kebutuhan pokok. Ia bahkan sampai kesulitan membayar tagihan listrik dan air.
Pernah suatu ketika, ia tertarik membeli sepatu Bally dari iklan, tapi karena harganya terlalu tinggi, ia hanya bisa menggunting gambarnya dan menyimpannya di buku harian. Yang paling mengagumkan, saat berkunjung ke Irian Jaya pada 1970 setelah tak lagi menjabat ia diberi amplop tebal berisi uang perjalanan dinas. Dengan tegas ia menolak dan berkata: “Maaf, itu uang rakyat, saya tidak mau terima”.
Kisah Hatta ini membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah halangan untuk berintegritas, justru kekuasaanlah yang sering menjadi ladang keserakahan.
Menjual Masa Depan: Harga Yang Paling Mahal
Lalu, apa akibatnya jika pemimpin kita adalah “penjahat” versi Mandela dan Hatta? Jawabannya adalah menjual masa depan bangsa. Ketika uang negara dikorupsi, bukan hanya angka di laporan keuangan yang hilang. Yang hilang adalah:
Sekolah yang tak jadi dibangun, sehingga anak-anak cerdas di pelosok kehilangan akses pendidikan.
Obat-obatan yang tak sampai ke puskesmas, sehingga ibu-ibu melahirkan dengan risiko tinggi.
Jalanan yang rusak, sehingga petani tak bisa menjual hasil panennya.
Peluang kerja yang tak tercipta, sehingga generasi muda menganggur.
Korupsi bukanlah kejahatan tanpa korban. Korbannya adalah kita semua, terutama anak cucu kita yang akan mewarisi negeri yang rapuh dan penuh ketidakadilan. Data KPK per 16 Oktober 2025 menunjukkan betapa daruratnya keadaan ini: sejak 2002, komisi antirasuah telah menjerat 1.879 orang terkait korupsi, termasuk 201 kepala daerah.
Sungguh ironis, ketika teladan Hatta tentang kesederhanaan dan penolakan terhadap korupsi terus diingatkan, masih saja ada pejabat yang “terjebak” dalam gaya hidup mewah dan korupsi. Bahkan, ada gubernur di Riau yang keempat kalinya secara berurutan tersangkut kasus korupsi.
Kembali Ke Jalan Pengembala
Pemikiran Mandela dan Hatta bukanlah usang. Justru di tengah hiruk-pikuk politik dan godaan kekuasaan saat ini, pesan mereka semakin relevan. Mereka mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah amanah, bukan komoditas. Pemimpin adalah pengembala, bukan penjarah.
Merenungkan Mandela dan Hatta adalah mengingatkan diri pada biaya sesungguhnya dari korupsi: masa depan bangsa. Saat kita melihat seorang pemimpin yang bermewah-mewahan di tengah rakyat yang susah, atau mendengar kabar proyek fiktif dan dana rakyat yang raib, kita sedang menyaksikan babak baru dari “penjahat” yang diwanti-wanti Mandela.
Kita sedang melihat “ganti kulit” yang ditakutkan Hatta terjadi di depan mata.
Sudah saatnya kita tidak hanya diam. Menjadi kritis, mengawasi, dan menuntut pemimpin yang berintegritas adalah bentuk cinta tanah air yang paling nyata.
Karena pada akhirnya, bangsa ini dibangun bukan dengan semen dan baja, tapi dengan kejujuran dan pengorbanan. Seperti yang dilakukan Mandela dan Hatta. Pertanyaannya sekarang: akankah kita membiarkan warisan mereka dijual, atau kita akan menjaga api kesadaran ini tetap menyala?
Batu, 9 Mei 2026












