Artikel · Potret Online

Agama yang Kehilangan Tawa

Penulis Suko Wahyudi
Mei 17, 2026
4 menit baca 42
IMG_1192
Foto / IlustrasiAgama yang Kehilangan Tawa
Disunting Oleh

Oleh: Suko Wahyudi.

Negeri ini aneh. Azan bersahutan seperti lomba estafet langit, pengajian tumbuh lebih cepat daripada warung mi instan, ustaz bermunculan dari mimbar sampai layar TikTok, tetapi wajah umatnya sering tampak seperti baru kalah tender proyek akhirat. Dahi berlipat, mata penuh curiga, mulut ringan menghakimi. Seolah-olah surga itu kompleks elite yang portalnya dijaga satpam bernama prasangka.

Orang sekarang beragama seperti sedang menjadi intelijen moral. Sedikit-sedikit curiga. Tetangga beli motor baru dicurigai hasil riba. Anak muda nongkrong di kafe langsung dituduh lalai agama. Ada orang berbeda pendapat sedikit saja, langsung dibayangkan neraka menyala-nyala seperti kompor warteg. Kita hidup di zaman ketika manusia lebih cepat mengucap “sesat” daripada “apa kabar”.

Celakanya lagi, sebagian orang mengira wajah masam adalah tanda kesalehan. Semakin galak, dianggap semakin dekat dengan Tuhan. Padahal kalau semua ukuran iman diukur dari nada tinggi dan muka tegang, mungkin satpam terminal bisa dianggap wali Allah. Agama akhirnya dipakai seperti pentungan ronda: dipukul ke mana-mana sampai bunyinya lebih keras daripada manfaatnya.

Media sosial menambah keruwetan itu. Dulu orang kalau mau marah harus datang ke balai desa atau mimbar pengajian. Sekarang cukup modal kuota dua giga dan jempol yang lebih aktif daripada otak. Maka lahirlah generasi yang hafal potongan ayat tetapi lupa cara menghormati manusia. Ayat dipakai seperti peluru. Dalil dilempar seperti sandal jepit. Yang penting lawan jatuh, urusan akhlak belakangan.

Padahal Nabi Muhammad SAW bukan manusia pemarah profesional. Beliau bukan mandor neraka yang tiap hari sibuk mendata dosa orang. Nabi justru dikenal murah senyum, ringan memaafkan, dan lebih sering menutupi aib daripada membongkarnya. Tapi sebagian umatnya hari ini malah berubah menjadi detektif maksiat. Hidungnya lebih tajam daripada anjing pelacak bea cukai kalau mencium kesalahan orang lain.

Kita ini kadang lucu. Rajin mendengar ceramah tentang ikhlas, tetapi panas melihat tetangga lebih sukses. Khusyuk bicara ukhuwah, tetapi putus persaudaraan gara-gara pilihan politik dan perbedaan mazhab. Bibir bicara cinta akhirat, tetapi hati penuh iri duniawi. Agama akhirnya cuma jadi kosmetik rohani: tebal di permukaan, tipis di kedalaman.

Di kampung-kampung, di grup WhatsApp keluarga, di media sosial, manusia sekarang lebih suka menjadi hakim daripada sahabat. Orang jatuh sedikit langsung direkam. Orang salah sedikit langsung diviralkan. Tidak ada ruang untuk belajar pelan-pelan. Semua ingin menjadi algojo moral tercepat. Neraka dibicarakan dengan semangat sales promo akhir tahun.

Padahal agama mestinya menjadi tempat manusia beristirahat dari kerasnya hidup. Menjadi pelukan ketika dunia terasa kejam. Menjadi cahaya saat manusia kehilangan arah. Tetapi yang terjadi sekarang, sebagian orang justru takut mendekati agama karena yang mereka lihat hanya kemarahan, ancaman, dan wajah-wajah yang sulit tersenyum. Mimbar kadang terdengar seperti pengeras suara kemarahan massal.

Kita terlalu sibuk mengurus dosa orang lain sampai lupa dosa sendiri numpuk seperti cucian musim hujan. Kita rajin memperdebatkan cadar, celana cingkrang, qunut, tahlilan, sampai lupa ada tetangga lapar yang belum makan. Ribut soal jenggot sunnah, tetapi mudah mencukur habis rasa kasih sayang kepada sesama.

Agama akhirnya kehilangan tawa. Kehilangan kelembutan. Kehilangan wajah teduhnya. Orang pergi ke rumah ibadah bukan untuk mendapatkan ketenangan, tetapi kadang malah pulang membawa rasa takut dan kebencian baru. Tuhan dipersempit menjadi simbol kemarahan, padahal kasih sayang-Nya lebih luas daripada lautan dan langit yang dijahit jadi satu.

Mungkin problem terbesar kita hari ini bukan kurangnya ceramah, melainkan kurangnya kejernihan hati. Kita terlalu banyak bicara surga tetapi sedikit menghadirkan surga kecil dalam kehidupan sehari-hari. Padahal senyum kepada sesama saja dihitung ibadah. Tetapi kita lebih suka memasang wajah seperti petugas penagih utang akhirat.

Sudah waktunya agama dikembalikan menjadi jalan yang membahagiakan manusia. Sebab Tuhan tidak menurunkan agama untuk membuat manusia saling mencurigai seperti maling sandal masjid. Agama datang agar manusia punya hati yang lebih lembut, hidup yang lebih jujur, dan jiwa yang lebih lapang. Kalau setelah bertahun-tahun beragama seseorang masih gemar membenci, mungkin yang berubah baru pakaiannya, belum hatinya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Suko Wahyudi
Pegiat Literasi, Berdomisili di Jogjakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...