Artikel · Potret Online

Tantangan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Video Pendek

Penulis Heri Isnaini
Juni 16, 2026
5 menit baca 53
82f61e7b-8aef-44b1-8d7a-8716712e9adf
Foto / IlustrasiTantangan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Video Pendek
Disunting Oleh

Oleh: Heri Isnaini

Beberapa waktu lalu, saya meminta mahasiswa membaca sebuah artikel populer sepanjang enam halaman. Tidak ada istilah ilmiah yang rumit di dalamnya. Kalimat-kalimatnya relatif pendek. Topiknya pun dekat dengan kehidupan mereka. Namun setelah beberapa menit, sebagian mahasiswa mulai kehilangan fokus. Mereka membaca, tetapi tidak benar-benar menyerap isi bacaan.

Pada hari yang sama, saya melihat mahasiswa yang sama mampu bertahan selama berjam-jam menelusuri TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Mereka dapat mengingat detail video yang ditonton, mengikuti tren yang sedang viral, bahkan menjelaskan berbagai informasi yang mereka peroleh dari media sosial.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa persoalannya mungkin bukan terletak pada kemauan membaca semata. Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Kita sedang menyaksikan perubahan cara manusia berhubungan dengan informasi. Dan perubahan itu memiliki konsekuensi langsung terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia.

Marshall McLuhan, seorang pemikir media asal Kanada, pernah mengemukakan gagasan terkenal. Ia mengatakan “The medium is the message.” Banyak orang memahami kalimat ini secara sederhana seolah-olah medium hanyalah alat penyampai pesan. 

Padahal McLuhan ingin mengatakan sesuatu yang lebih radikal. Menurutnya, medium tidak sekadar membawa pesan. Medium ikut membentuk cara manusia memandang dunia.

Ketika masyarakat hidup dalam budaya lisan, mereka mengingat dunia melalui cerita. Ketika mesin cetak berkembang, manusia belajar berpikir secara linear, runtut, dan sistematis melalui teks. Buku bukan hanya menghasilkan pembaca. Buku membentuk cara berpikir manusia modern.

Jika mengikuti logika McLuhan, maka TikTok dan berbagai platform video pendek tidak dapat dipandang sekadar sebagai sarana hiburan. Medium tersebut sedang membentuk kebiasaan berpikir generasi saat ini. Informasi disajikan dalam potongan-potongan singkat, cepat, visual, dan terus berganti. Perhatian menjadi sesuatu yang harus direbut setiap detik.

Akibatnya, muncul budaya baru yang dapat disebut sebagai budaya fragmentasi. Pengetahuan hadir dalam bentuk serpihan-serpihan informasi. Orang mengetahui banyak hal, tetapi sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk mendalami hubungan antargagasan tersebut. Yang penting bukan lagi kedalaman pemahaman, melainkan kecepatan memperoleh informasi.

Kekhawatiran serupa sebenarnya pernah disampaikan oleh Neil Postman dalam bukunya “Amusing Ourselves toDeath.” Postman menunjukkan bagaimana media hiburan perlahan mengubah cara masyarakat memahami pengetahuan. 

Dalam budaya yang didominasi televisi, informasi harus menarik, cepat, dan menghibur agar dapat diterima publik.

Apa yang dahulu dikatakan Postman tentang televisi tampaknya menemukan bentuk yang lebih ekstrem dalam media sosial kontemporer. Jika televisi telah mengubah diskursus publik menjadi hiburan, video pendek mempercepat proses tersebut melalui algoritma yang terus-menerus menawarkan rangsangan baru.

Dalam situasi seperti ini, membaca teks panjang menjadi aktivitas yang terasa asing. Membaca menuntut kesabaran. Membaca mengharuskan seseorang mengikuti alur gagasan secara bertahap. Membaca meminta perhatian yang berkelanjutan. Sementara budaya video pendek justru melatih perpindahan perhatian secara cepat dari satu informasi ke informasi lain.

Di sinilah tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi semakin kompleks.

Selama ini, pembelajaran Bahasa Indonesia sering dipahami sebagai pengajaran kaidah bahasa, keterampilan membaca, atau kemampuan menulis. Padahal, jika mengikuti pemikiran Halliday dalam Linguistik Sistemik Fungsional, bahasa pada hakikatnya adalah sistem pembentuk makna (meaning-making system). Bahasa tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan pikiran. Bahasa justru menjadi sarana utama manusia membangun realitas sosial.

Halliday memandang bahwa setiap teks merupakan representasi pengalaman manusia. Ketika seseorang membaca sebuah teks, ia tidak hanya mengenali kata-kata. Ia sedang memasuki cara pandang tertentu terhadap dunia. Ia sedang belajar bagaimana pengalaman dikonstruksi melalui bahasa.

Dari perspektif ini, krisis membaca bukan sekadar persoalan menurunnya jumlah buku yang dibaca siswa. Krisis membaca merupakan persoalan berkurangnya kesempatan peserta didik untuk membangun makna secara mendalam melalui bahasa.

Video pendek memang dapat menyampaikan informasi. Namun, struktur makna yang dibangun melalui video pendek berbeda dengan struktur makna yang dibangun melalui teks. Teks memungkinkan pembaca mengikuti hubungan sebab-akibat yang kompleks, memahami argumentasi yang panjang, serta melakukan refleksi terhadap gagasan yang sedang dibaca. Kemampuan inilah yang menjadi fondasi berpikir kritis.

Halliday menjelaskan bahwa bahasa memiliki fungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Ketiga fungsi tersebut berkembang melalui interaksi manusia dengan berbagai jenis teks. Jika peserta didik semakin jarang berhadapan dengan teks yang kompleks, maka kesempatan mereka untuk mengembangkan ketiga fungsi tersebut juga semakin berkurang.

Sebab itu, tantangan terbesar pembelajaran Bahasa Indonesia hari ini bukanlah mengalahkan TikTok atau melarang peserta didik menggunakan media sosial. Tantangannya adalah menciptakan jembatan antara budaya digital dan budaya literasi.

Guru Bahasa Indonesia perlu memahami bahwa peserta didik hidup dalam ekologi media yang berbeda. Mereka lahir dalam dunia visual, algoritmik, dan serba cepat. Alih-alih memusuhi kondisi tersebut, pembelajaran perlu memanfaatkannya sebagai pintu masuk menuju literasi yang lebih mendalam.

Video pendek dapat digunakan untuk membangkitkan rasa ingin tahu. Namun, rasa ingin tahu itu harus diarahkan menuju pembacaan yang lebih serius. Potongan cerita rakyat dapat mengantar siswa membaca teks lengkapnya. 

Cuplikan film dapat menjadi jalan masuk untuk mengkaji cerpen atau novel. Konten media sosial dapat digunakan untuk melatih kemampuan argumentasi, analisis wacana, dan berpikir kritis.

Pada akhirnya, pembelajaran Bahasa Indonesia bukan sekadar upaya mengajarkan keterampilan berbahasa. Ia adalah usaha mempertahankan kemampuan manusia untuk berpikir secara mendalam di tengah budaya yang semakin terburu-buru.

McLuhan mengingatkan bahwa medium membentuk manusia. Postman mengingatkan bahwa hiburan dapat menggantikan pengetahuan. Halliday mengingatkan bahwa bahasa adalah alat pembangun makna. Ketiga pemikiran tersebut bertemu pada satu titik penting, yakni masa depan literasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita baca, tetapi juga oleh medium yang membentuk cara kita membaca.

Dan mungkin pertanyaan paling penting bagi pendidikan hari ini bukanlah apakah generasi muda masih mampu membaca. Pertanyaannya adalah apakah kita masih mampu menciptakan ruang yang memungkinkan mereka membaca dunia secara mendalam?

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Heri Isnaini
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...