Perjalanan ke Tokyo, Jepang

Melelahkan, tetapi Mengesankan
Oleh Saiful Bahri
Kenapa saya menulis judul seperti itu? Karena itu adalah perjalanan yang super singkat. Memang sangat melelahkan, tetapi juga sebuah perjalanan yang sangat mengesankan.
Bagaimana tidak, perjalanan jauh seperti itu seharusnya sangat melelahkan, karena tidak ada waktu untuk istirahat.
Ketika itu, saya diperintah oleh presiden direktur sebuah perusahaan Jepang tempat saya bekerja. Saya harus segera berangkat ke sana bersama dengan pejabat Jepang yang sekaligus atasan kerja saya. Begitu diminta untuk segera berangkat, saya pun bergegas pergi ke sana.
Saya pergi ke sana untuk menjemput salah seorang pekerja operator pabrik yang ditugaskan untuk mengikuti pelatihan (training) ke Jepang. Hal itu sebenarnya sudah sering dilakukan oleh perusahaan untuk mengasah keterampilan (skill) pekerja operator selama beberapa bulan pelatihan di sana.
Lantas, kenapa saya harus menjemput dia tiba-tiba ke sana, padahal masa pelatihannya belum selesai? Hal itu karena orang Jepang di sana menemukan bahwa ijazah yang digunakan oleh yang bersangkutan adalah palsu. Kok bisa?
Hal ini terjadi karena mungkin saat yang bersangkutan masuk kerja, seleksi administrasi di perusahaan belum begitu ketat. Kebetulan, saat itu saya juga belum bekerja di perusahaan tersebut. Memang, syarat minimum bekerja di perusahaan adalah lulusan STM, SMA, atau sederajat, bukan tamatan SMP. Itulah yang membuat pekerja tersebut terpaksa harus dipulangkan segera.
Sesampainya saya di sana, dia memang sudah dipersiapkan oleh orang Jepang di sana untuk menunggu penjemputan dari HRD—dalam hal ini adalah saya yang ditugaskan.
Jadi, sesampainya di sana, saya tidak tidur semalam pun. Begitu bertemu dengan dia, saya langsung balik lagi ke Indonesia dengan membawa pulang karyawan tersebut.
Setelah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, baru saya mengabari dia, “Kamu mulai besok tidak usah lagi datang ke pabrik.” Dia awalnya agak terkejut mendengar penjelasan saya.
Lalu, dia pun pulang ke rumahnya dan saya balik ke pabrik. Luar biasa, bukan? Saya tidak istirahat sama sekali dan tidak menginap semalam pun di hotel, tetapi langsung pulang ke Indonesia. Itulah yang saya sebut dengan perjalanan yang sebenarnya melelahkan. Namun, saya sebut tidak melelahkan karena itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Jepang.
Tentu saja saya senang, walau tidak istirahat sama sekali, hehe. Ya, begitulah kalau hati senang, badan lelah pun tidak terasa.
Setelah peristiwa itu, baru saya pergi lagi dengan tugas yang lain, yaitu mengikuti agenda rapat (meeting) internasional yang diadakan di Jepang sebagai kantor pusat (headquarter).
Kadang saya berada sampai satu minggu di sana sekalian melihat pabrik-pabrik. Begitu juga kunjungan ke Thailand dalam rangka menghadiri rapat dengan beberapa negara yang memiliki pabrik satu grup dengan perusahaan kami, seperti di Malaysia, Vietnam, Thailand, Jepang, bahkan Amerika, Kanada, dan lain sebagainya.
Biasanya kami diundang untuk menghadiri rapat dalam rangka peningkatan (improvement) dan studi komparatif (comparative study).
Pulang dari kunjungan luar negeri, kami langsung diwajibkan membuat laporan tentang apa yang kita lihat di sana untuk diterapkan di pabrik sebagai perbaikan. Kami membuat laporan dan mempresentasikannya di hadapan para manajer serta pejabat pabrik di sana.
Dari sesi berbagi (sharing) itu, kami memilah hal bagus apa saja yang bisa diterapkan di Indonesia. Itulah pengalaman menarik yang saya dapatkan langsung di lapangan. Karena melihat sendiri, kita bisa tahu secara pasti, bukan sekadar mendengar.
Yang terpenting, sebagai praktisi, kita memang dituntut untuk mengetahui hal yang sebenarnya sebagai studi komparatif. Dari situ kita bisa belajar setelah melihat, bukan hanya sekadar mendengar, lalu langsung mengambil kesimpulan.












