Saat Gelar Bertemu Kenyataan: Ada Berapa Profesor di Aceh? Dan Apa Kabar Rakyatnya?

Oleh Saiful Bahri
*Saudaraku … Itulah salah satu pertanyaan dalam sebuah grup diskusi semalam.
Hal itu membuat saya tidak bisa tidur.
“Apa manfaatnya banyak Profesor bagi rakyat Aceh.?”
Saya tidak punya datanya, Saudaraku . Saya hanya punya hati yang malu.
Malu sebagai anak Aceh. Malu sebagai praktisi HRD. Malu sebagai sesama “pewaris Nabi”.
Maka izinkan saya menjawab bukan dengan angka Scopus,
tapi dengan “Tiga Cermin” yang sama kemarin.
1. CERMIN RAKYAT ACEH
Saudaraku bertanya “manfaatnya apa?”. Mari kita jawab pakai fakta yang kita lihat bersama:
– Banjir masih langganan tahunan
– Mahasiswa masih ada yang DO karena bimbingan terbengkalai
– Kemiskinan masih jadi PR panjang
– Anak-anak muda masih banyak yang hijrah ke Medan/Jabodetabek cari kerja
Saya bertanya pelan, Saudaraku: Bukankah keberadaan seorang profesor itu untuk mencerdaskan bangsa?
Lalu kalau jumlah profesor di Aceh bertambah tiap tahun,
kenapa “PR rakyat” ini rasanya tidak berkurang?
2. CERMIN HRD / PERUSAHAAN – PENGALAMAN SAYA
Saya bukan profesor, Saudaraku. Saya HRD di perusahaan otomotif grup Toyota.
KUM saya nol. Tapi KPI saya jelas: Karyawan sejahtera, hidup layak.
Caranya? Survey lapangan, dengar langsung dari karyawan, cek harga bahan pokok di pasar.
Kepedulian ke lingkungan? Kami buktikan lewat CSR.
Tanam mangrove sampai Semarang. Sumbang bangun jalan layang di Jakarta.
Saya ikut saksikan peletakan batu pertamanya, walau Presiden saat itu berhalangan hadir.
Saya tidak pernah bilang “sibuk” saat pimpinan + pemerintah minta turun lapangan. Kami selalu siap.
Karena saya tahu: Gaji saya halal kalau kerja saya nyata.
Lalu bagaimana dengan “gaji” profesor yang sumbernya dari pajak rakyat Aceh, Saudaraku?
Apakah “KPI”-nya juga sejelas itu?
3. CERMIN SOLUSI -&, AJAKAN
Saudaraku, saya yakin 100% para profesor di Aceh itu ilmunya seluas samudra.
Masalahnya bukan di “isi kepala”. Masalahnya di “prioritas utama”.
Saya tahu jadi profesor di Aceh itu berat. Beban dakwah, beban adat, beban ekspektasi rakyat Serambi Mekkah semua ada di pundaknya. Saya menulis ini karena saya sayang. Sayang kalau “gelar setinggi langit” itu tidak dirasakan nikmatnya oleh rakyat di bawah.
Usul saya sama seperti kemarin: “30 menit sehari untuk rakyat Aceh”.
30 menit itu bisa untuk:
1. Turun ke desa dampingi petani – 10 menit
2. Bimbing 1 mahasiswa skripsi – 10 menit
3. Tulis 1 paragraf solusi banjir/kemiskinan di koran – 10 menit
Kalau 572 profesor di Indonesia, apalagi di Aceh yang “Serambi Mekkah”,
masing-masing mau meluangkan waktu 30 menit… Insya Allah “Pertanyaan Saudaraku ” itu akan terjawab sendiri.
*PENUTUP –
Saudaraku … Saya tidak menulis ini untuk menjatuhkan siapa pun.
Saya menulis karena saya cinta Aceh. Cinta pada profesornya, cinta pada rakyatnya, cinta pada mahasiswa yang berjuang untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Maka mari kita jawab pertanyaanmu itu bersama-sama.
Bukan dengan debat di grup WA. Tapi dengan kerja nyata di lapangan.
Allah tidak akan tanya “Berapa jumlah prof di Aceh?”
Allah akan tanya “Apa yang sudah kamu buat untuk Aceh?”
Wallahu a’lam bishshawab.
*TTD: Saiful Bahri – Masyarakat Biasa, Praktisi HRD, Orang Aceh Asli* Berdomisili di Jakarta
—
*












