Tradisi Kenduri Jeurat Gampong Alue Sungai Pinang, Kecamatan Jeumpa, Aceh Barat Daya.

Oleh Assauti Wahid S. Hum., MA
Wakil Ketua Forum Alumni Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Ketua Komunitas Katalis Cendekian Manggeng Raya
Pada dasarnya setiap masyarakat memiliki adat istiadat atau tradisi tersendiri yang biasanya dapat memengaruhi tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari. Adat merupakan kebiasaan yang mencakup segala segi kehidupan yang dalam pelaksananya diikuti serta merta tanpa adanya paksaan dari luar dan tidak jarang pula. Terdapat adat istiadat itu memiliki sangksi atau hukuman tertentu bagi orang yang melanggarnya. Adat semacam ini disebut pula dengan hukum adat. Dalam masyarakat Alue Sungai Pinang bahkan Aceh dan Indonesia. Pada umumnya pemahaman istilah adat dan hukum adat hanya dapat dirasakan dalam pelaksanaan.
Menurut Badruzzaman Ismail bahwa yang dimaksud dengan adat atau tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan yang umum bersifat serimonial atau upacara-upacara yang memberi makna dengan simbol-simbol tertentu untuk mendeskripsikan kondisi dan harapan-harapan dalam bentuk kehidupan yang menjadi tujuan serta harapan mereka. Sebahagian masyarakat dalam berbudaya pada umumnya dipengaruhi oleh adanya kepercayaan-percayaan benar dan harus dilakukan. Sehingga kebiasaan tersebut sangat sukar diubah, meskipun terkadang kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam sebuah masyarakat tersebut tidak dianjurkan dalam agama Islam. Namun, ditambah-tambah hal-hal yang tidak dianjurkan dalam pelaksanaannya yang lebih jauh lagi sampai bertantangan dengan ajaran agamannya.
Adapun bentuk-bentuk adat istiadat dan tradisi ini meliputi upacara perkawinan, upacara adat dan upacara kematian serta masih banyak lainnya. Baik pada saat kelahiran salah seseorang anggota keluarga. Tradisi ini dilaksanakan bukan hanya karena terdapat tujuan tertentu atas pelaksanaanya. Akan tetapi juga memiliki fungsi di dalamnya. Di antaranya, sebagai memperkokoh persatuan dan kesatuan untuk meningkat silahturrahmi dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Dan serta wujud kebanggaan bagi masyarakat bahwa mereka memiliki tata cara adat istiadat yang tidak kalah dengan adat istiadat masyarakat lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi memiliki fungsi terhadap kehidupan sebagai suatu komunitas dan daerah yang telah hidup dalam waktu yang relatif lama. Masyarakat Gampong Alue Sungai Pinang tentu saja memiliki budaya tersendiri yang bisa dilakukan di dalam gampong tersebut. Salah satunya adalah dengan tradisi kenduri yang dilakukan di perkarangan kuburan atau kompleks kuburan oleh masyarakat Alue Sungai Pinang. Kecamatan Jeumpa. Aceh Barat Daya. Tradisi ini dinamai dengan tradisi kenduri jeurat. Tradisi dilakukan sesuai dengan musyawarah atau mufakat.
Tradisi kenduri jeurat yang dilakukan oleh masyarakat Alue Sungai Pinang di perkarangan kuburan atau kompleks kuburan. Biasanya dilakukan setelah lebaran hari raya Idul Adha. Untuk membuat kenduri jeurat atau memperingati kenduri jeurat masyarakat melakukan membersihkan kuburan, tadarus, membaca surat yasin, berdoa, sedekah dan serta makan bersama-sama yang telah dimasak di rumah masing-masing.
Tradisi ini tidak seperti tradisi kenduri yang dilakukan oleh masyarakat lainnya, di mana pada saat dilakukan tradisi kenduri jeurat terdapat di Gampong Alue Sungai Pinang dilakukan oleh seluruh sanak keluarga yang masih hidup dan semua ikut serta dalam kenduri jeurat. Tidak memandang usia dan status sosial. Semua berbaur untuk melaksanakan dan doa bersama kepada arwah-arwah yang telah mendahului mereka. Di tempat lain, dilakukan di rumah masing-masing dan juga tidak melakukan kenduri jeurat tersebut.
Menurut Muhammad Umar di dalam bukunnya tertulis membagikan adat masyarakat Aceh kepada tiga bagian, yaitu adat tullah, adat mahkamat dan adat tunnah. Jadi pembahasan tentang tradisi Gampong Alue Sungai Pinang Kecamatan Jeumpa merupakan adat dalam bentuk terakhir seperti yang dikemukan oleh Muhammad Umar yaitu adat tunnah, yang dimaksud dengan adat tunnah ialah adat yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, bukan adat yang merupakan ketentuan berdasarkan kitabullah dan bukan pula adat yang berdasarkan ketentuan yang dibuat oleh mahkamah rakyat atau yang diputuskan oleh pemerintah secara resmi.
Sesungguhnya atau sebenarnya kenduri jeurat yang terdapat dalam masyarakat Alue Sungai Pinang dapat dikatakan identik dengan resam sebagaimana yang disebutkan oleh Hoetomo di dalam bukunya ialah adat kebiasaan atau aturan-aturan yang menjadi adat. Masyarakat Gampong Alue Sungai Pinang Kecamata Jeumpa sebagai suatu komunitas serta juga yang mempunyai adat istiadat tersendiri terlihat telah memelihara, menjaga dan melestarikan tradisi secara turun-temurun. Salah satu ialah tradisi kenduri jeurat yang dilakukan di Gampong Alue Sungai Pinang tersebut.
Sampai saat sekarang ini tradisi kenduri jeurat masih tetap dilaksanakan dan dilestarikan. Dengan kata lain, tradisi kenduri jeurat atau tradisi kenduri kuburan memiliki makna, filosofi dan tujuan tertentu bagi masyarakat di Gampong Alue Sungai Pinang. Dengan begitu, menjadi daya dorong untuk menulis tentang itu. Dikarenakan saya juga putra dari gampong tersebut dan memiliki kemampuan dalam menulis terkait budaya ataupun tradisi, dan juga pengalaman riset selama ini. Untuk mendapatkan deskripsi mengenai sejarah tradisi kenduri jeurat saya mewawancari Pak Keuchik (Kepala Desa). Menurut Keuchik (Kepala Desa) mengatakan bahwa hal tersebut sudah lama dilaksanakan. Ia mengatakan bahwa pada masa Nabi juga ada dulu hal ini telah sudah ada dilaksanakan apabila melihat sejarahnya. Kenduri jeurat dilaksanakan, menunjukkan bahwa untuk mengenang para arwah-arwah yang di kuburan di Gampong Alue Sungai Pinang. Dengan cara berdoa bersama-sama dan serta makan bersama-sama yang sudah disediakan oleh panitia.
Menurut Sulaiman. Ia Ketua Pemakaman Umum Gampong, sebelum dilakukan kenduri jeurat tersebut mereka membersihkan kuburan-kuburan. Samadiah, yasin membaca Al-Quran malam dan siang. Dalam pelaksanaan rangkaian acaranya ada beberapa hal yang harus diketahui yaitu ketika ingin menyampaikan doa. Maka, dibaca pertama kalimat-kalimat bismillah. Kemudian dikhususkan kepada nama roh yang ada dalam kubur atau dijamakkan. Hal ini dianggap rahmat yang sangat besar bagi doa yang dibaca. Hari pelaksanaan berlangsung sangat meriah, dengan suasana yang ramai juga diiringi dengungan-dengungan ilahi rabbi yang mengagungkan-Nya mencirikan keceriaan tersendiri.
Rasa haru pun dirasakan seakan-akan mereka bisa bertemu langsung dengan sanak keluarganya yang telah mendahuluinya. Kebaktian masyarakat Gampong Alue Sungai Pinang terhadap orang tua yang telah mendahuluinya terealisasi dari pembacaan surat yasin yang berlangsung dibacakan di samping jeurat orang tuanya. Keluarganya serta sanak-famili. Tidak lain mereka hanya mendoakan orang yang telah mendahuluinya terjauhi dari siksaan dan akan mendapatkan kebahagiaan di alam kuburnya. Setelah pembacaan yasin kemudian dilanjutkan dengan menyiram kuburan dengan air dari atas kepala sampai kekaki kubur. Setelah itu untuk anak-anak atau cucunya diharuskan untuk cuci muka di atas kubur sambil mendoakan agar kelak mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Setelah pengajian yang dilaksanakan di rangka selesai. Teungku memimpin samadiah bersama kemudian ditutup dengan doa untuk ahli kubur secara umum dan kemudian setelah berdoa. Acara ditutup dengan makan bersama yang telah disediakan sebelumnya oleh masing-masing keluarga yang berkunjung. Setelah acara makan-makan selesai, maka selesailah acara kenduri jeurat tersebut. Dari hasil wawancara, referensi dan observasi. Dapat simpulkan dan sebagai garis besar dari semua rangkaian yang dilakukan dalam proses tradisi kenduri jeurat. Tujuan daripada kenduri jeurat pada masyarakat di Gampong Alue Sungai Pinang adalah untuk membersihkan kuburan dan mengirimkan doa kepada arwah (roh) keluarga yang telah meninggal dunia agar mendapatkan pahala dan dihapuskan dosa-dosa para arwah sanak family yang berada di alam kubur. Dan menanamkan nilai-nilai gotong-royong sesama mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai dan ajaran yang dapat dipetik dalam kenduri jeurat ialah semua manusia ciptaan Allah SWT, suatu saat akan meninggal atau tidak kekal dalam hidup ini. Maka dengan itu, persiap terus amal dalam hidup di dunia yang fana ini. Prosesi pelaksanaan kenduri jeurat dimulai dengan pembacaan Al-Quran di Balai Kuburan, membaca doa, zikir, sedekah dan ditutup dengan makan bersama. Terakhir adalah semua elemen dalam masyarakat sangat penting tradisi kenduri jeurat tersebut.












