Esai · Potret Online

Air Mendidih Tidak Pernah Memantulkan Bayangan 

Penulis Saiful Bahri
Mei 30, 2026
5 menit baca 26
d2851421-ed8d-490e-93f9-af1231db7d67
Foto / IlustrasiAir Mendidih Tidak Pernah Memantulkan Bayangan 

Oleh Saiful Bahri 

Berdomisili di Jakarta

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh  

Coba anda  perhatikan panci di dapur. Saat air mendidih, gelembungnya naik-turun, permukaannya bergolak. Sedekat apapun anda , bayangan wajah sendiri tak akan pernah kelihatan. Yang ada hanya riak dan kabut. malah muka anda jadi panas karena uap air mendidih. 

Tapi begitu api dimatikan, tunggu sebentar… air jadi tenang. Maka perlahan, bayangan wajah kita muncul sempurna. Jelas. Utuh. Tanpa bohong.

, hati manusia persis seperti itu.

Air Mendidih = Hati yang Marah  

Marah itu api. Sekali dinyalakan, seluruh isi dada bergolak. Pikiran jadi berisik, telinga jadi tuli, mata jadi kabur, hati i jadi tertutup. 

Di saat itu kita “merasa  kita  yang paling benar”. Kita berdebat, memutus, menghakimi. Padahal yang kita lihat bukan kebenaran… tapi bayangan ego kita sendiri yang terpantul di uap kemarahan.

Contoh nyata: Suami istri bertengkar gara-gara handuk basah. Di saat air mendidih, handuk itu terasa seperti “kurangnya rasa hormat selama 10 tahun pernikahan”. Putusan cerai hampir keluar. 

Tapi coba tunggu 2 jam, setelah air tenang… masalahnya balik lagi jadi “handuk basah” yang bisa diselesaikan dengan satu senyum.  Baru sadar itu bukanlah masalah besar, apa lagi dibesar besarkan. 

Kebenaran: Orang marah tidak sedang mencari solusi. Dia sedang mencari pembenaran diri

Air Mendidih = Hati yang Panik  

Ada kabar PHK. Ada chat “Kita perlu bicara”. Ada notifikasi merah dari bank. Seketika dada kita mendidih. Pikiran lari ke mana-mana: “Anak sekolah gimana? Cicilan gimana? Malu sama tetangga gimana?” 

Dalam kondisi  mendidih itu kita bikin keputusan tergesa gesa : jual aset murah, mengambil utang rentenir, ngomong kasar ke atasan. Karena pikiran sudah panik

Kebenaran: 90% keputusan yang kita sesali lahir dari air yang sedang mendidih.

Air Mendidih = Hati yang Iri  

Scroll Instagram 5 menit, lihat teman naik haji, teman beli mobil, teman anaknya juara kelas. Anak tetangga lulus di perguruan tinggi favorite.

Seketika air hati kita mendidih. “Saya kapan? Saya kurang apa? ketika air mendidih kadang Allah pun disalahkan, Allah tidak adil!” 

Di saat mendidih itu kita lupa menengok ke belakang: anak kita sehat, orang tua masih lengkap, rezeki hari ini masih mengalir  lancar. Bayangan nikmat sendiri tidak kelihatan, karena permukaannya sedang bergejolak.

Lalu Kapan Kebenaran Datang?  

Jawabnya sederhana: ketika air tenang.

Tenang bukan berarti masalah hilang,. Tenang artinya kita berhenti menambah kayu bakar ke api. Kita ambil wudhu, duduk, tarik napas, lalu berkata: “Allah, saya tidak  mengerti sekarang. Tunjukkan saya jln yang benar, jalan yang Engkau ridhai, libatkan Allah . Insya  Allah hati akan menjadi tenang 

Saat air tenang, 3 hal akan terjadi:

Bayangan Diri Muncul  

   Kita baru sadar: “Oh, ternyata saya marah karena ego saya tersinggung, bukan karena agama dilecehkan”. Kita jadi jujur pada diri sendiri. Itu langkah pertama menuju dewasa.

Jalan Keluar Terbuka  

 Masalah yang tadi seperti tembok 10 meter, setelah tenang jadi kelihatan celahnya selebar pintu. Solusi yang kemarin buntu, hari ini enteng. Karena Allah berjanji: Inna ma’al ‘usri yusra – bersama kesulitan ada kemudahan. Tapi kemudahan itu hanya kelihatan oleh mata dan hati yang tenang.

Hikmah Disampaikan  

   Air tenang itu bahasa langitnya “sabar”. Dan sabar bukan diam tanpa daya. Sabar itu aktif menanti petunjuk sambil terus berbuat baik. Maka Allah kirim petunjuk lewat orang, lewat kejadian, lewat ayat yang tiba-tiba kita baca.

Kisah Ibu Penjual Jamu  

Di pasar ada Ibu penjual jamu. Anaknya dituduh nyolong mangga tetangga. Seketika air Ibu mendidih. Beliau maki-maki tetangga di depan umum, sumpah serapah keluar semua. Malu anaknya, rusak nama baiknya.

Tiga hari kemudian, anak tetangga mengaku: yang ambil  mangga itu dia, bukan anak Ibu. 

Air Ibu langsung tenang. Lalu beliau datang ke rumah tetangga, bawa jamu + kue, minta maaf. Kata Ibu: “Saya malu Bu… tiga hari saya mendidih, saya tidak lihat bayangan saya sendiri sebagai Ibu yang gagal mengajari anak minta maaf duluan”.

Sejak itu Ibu punya prinsip: “Kalau ada masalah, saya rebus air dulu. Sambil menunggu mendidih, saya istighfar. Kalau sudah mendidih, saya matikan kompor. Baru saya ngomong”. 

MasyaAllah  dagangannya malah makin laris. Karena orang percaya pada Ibu yang “airnya selalu tenang”.

Penutup untuk Kita Semua  

Saudaraku, dunia sekarang ini kompornya nyala terus. Berita, gosip, komentar netizen… semua bahan bakar buat bikin air hati kita mendidih 24 jam.

Tapi kita  punya seandainya : itu ada di dada kita  sendiri. Lebih baik  “diam sejenak, tarik napas, ingat Allah”.

Jangan buru-buru memutuskan saat air mendidih. Jangan buru-buru menilai saat hati bergejolak. Tunggu sampai tenang. Karena kebenaran, seperti bayangan wajah, hanya mau muncul di air yang jernih dan diam.

Maka mulai hari ini, latih diri kita:  

Marah? Tunda jawab 1 jam.  

Panik? Tunda keputusan 1 malam.  

Iri? Tunda scroll 1 hari.

InsyaAllah, saat air sudah tenang… Kita akan melihat 2 hal sekaligus: bayangan diri sendiri yang apa adanya, dan jalan keluar yang selama ini ditutup kabut kemarahan.

Saudaraku, hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan sambil menggenggam bara. Marah itu bara, dendam itu bara, cemas itu bara. Genggam terlalu lama, yang terbakar bukan musuh kita… tapi telapak tangan kita sendiri. 

Maka belajarlah jadi penjaga api, bukan korban api. Matikan kompor saat air mulai bergolak. Duduklah sejenak di tepi kolam sabar. Karena  di sanalah, saat riak sudah diam, kita akan melihat wajah asli kita… dan wajah asli masalah kita. 

Dan percayalah, tidak ada bayangan yang lebih jujur, selain bayangan yang dipantulkan oleh air yang tenang dan hati yang berserah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh  

SB

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...