Artikel · Potret Online

Kampus Terbakar, Kewarasan Publik Terguncang: Membaca Tragedi USK dan Retaknya Otoritas Moral Aceh

Penulis  Dayan Abdurrahman
Mei 26, 2026
5 menit baca 12
IMG_1301
Foto / IlustrasiKampus Terbakar, Kewarasan Publik Terguncang: Membaca Tragedi USK dan Retaknya Otoritas Moral Aceh
Disunting Oleh

Oleh Dayan Abdurrahman

Di banyak kampung di Aceh, terutama di pedalaman dan wilayah yang jauh dari pusat kota, kampus masih dipandang sebagai tempat paling terhormat dalam struktur sosial modern. Orang tua petani, nelayan, buruh harian, bahkan masyarakat di gunung dan pelosok memandang universitas sebagai simbol kewarasan, masa depan, dan harapan mobilitas sosial. Anak yang berhasil masuk universitas dianggap telah memasuki dunia kaum terdidik—dunia yang diyakini lebih tenang, lebih rasional, dan lebih bermoral dibanding kerasnya kehidupan di luar pagar akademik.

Karena itu, ketika publik menyaksikan fasilitas Fakultas Pertanian di Universitas Syiah Kuala terbakar akibat konflik antarmahasiswa, masyarakat tidak sekadar melihat gedung yang hangus. Mereka menyaksikan sesuatu yang lebih dalam: retaknya simbol kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi.

Insiden tersebut bukan kerusakan biasa. Polisi menyebut kerugian sementara mencapai sekitar Rp20 miliar. Laboratorium, ruang riset, kendaraan, dan fasilitas akademik hancur. Bahkan sejumlah hasil penelitian mahasiswa ikut musnah terbakar. Namun angka kerugian material sesungguhnya belum menggambarkan dampak psikologis dan simbolik yang jauh lebih besar: hilangnya legitimasi moral kampus sebagai pusat pembentukan peradaban.

Aceh adalah wilayah dengan pengalaman sejarah yang unik. Setelah puluhan tahun konflik bersenjata, Aceh memasuki era damai melalui proses panjang rekonsiliasi sosial-politik. Perdamaian itu bukan hanya penghentian senjata, tetapi proyek membangun kembali peradaban sosial. Dalam konteks itu, kampus semestinya menjadi garda terdepan budaya damai. Kampus harus menjadi ruang tempat konflik diselesaikan dengan argumentasi, data, diskusi, dan etika. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: kekerasan hadir dari ruang yang selama ini dianggap paling tercerahkan.

Inilah ironi besar Aceh kontemporer.

Di satu sisi, Aceh memiliki syariat, qanun, dan identitas religius yang sangat kuat dalam ruang publik. Di sisi lain, ledakan emosi kolektif masih begitu mudah muncul dalam berbagai ruang sosial, termasuk di lingkungan akademik. Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa masyarakat yang sangat religius belum otomatis menjadi masyarakat yang matang secara sosial dan emosional?

Di sinilah penting membaca tragedi USK bukan sebagai insiden kriminal semata, melainkan sebagai gejala sosiologis yang lebih kompleks.

Dalam perspektif psikologi massa, kekerasan kelompok sering lahir ketika identitas kolektif mengalahkan identitas rasional individu. Mahasiswa yang secara personal mungkin tenang dan cerdas, ketika berada dalam kelompok, dapat berubah menjadi agresif karena dorongan solidaritas emosional. Rasionalitas akademik dikalahkan oleh loyalitas kelompok. Fenomena seperti ini banyak dijelaskan dalam teori collective behavior dan deindividuation, di mana individu kehilangan kontrol moral ketika larut dalam emosi massa.

Masalahnya, budaya akademik di banyak kampus Indonesia memang belum sepenuhnya berhasil membangun tradisi dialog yang matang. Banyak organisasi mahasiswa lebih kuat dalam mobilisasi massa dibanding produksi gagasan. Debat ilmiah sering kalah populer dibanding heroisme emosional. Bahkan dalam beberapa kasus, kultur senioritas, fanatisme kelompok, dan romantisme kekerasan masih diwariskan secara diam-diam dalam kehidupan kampus. Fenomena ini juga sering muncul dalam diskusi publik mahasiswa Indonesia di media sosial.

Lebih jauh lagi, tragedi ini juga memperlihatkan kegagalan pendidikan modern dalam menyatukan ilmu dan adab. Universitas hari ini sangat sibuk mengejar akreditasi, publikasi Scopus, ranking dunia, dan kompetisi administratif. Namun di saat yang sama, banyak kampus gagal membangun ketahanan moral mahasiswanya. Mahasiswa dilatih berpikir cepat, tetapi tidak selalu dilatih mengelola kemarahan. Mereka diajarkan kompetisi, tetapi tidak cukup dibekali kemampuan berdamai dengan perbedaan.

Padahal dalam tradisi intelektual Islam klasik, ilmu tidak pernah dipisahkan dari akhlak. Seorang alim dihormati bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena kemampuannya menjaga ketenangan ketika menghadapi konflik. Dalam khazanah Aceh lama, ulama dan intelektual justru menjadi peneduh masyarakat. Kampus modern seharusnya melanjutkan tradisi itu, bukan malah kehilangan ruh etikanya.

Yang membuat tragedi ini semakin menyakitkan adalah lokasinya terjadi di Fakultas Pertanian. Sektor pertanian adalah jantung kehidupan masyarakat Aceh. Ribuan keluarga di kampung menggantungkan hidup pada sawah, kebun, dan tanah. Ketika laboratorium pertanian dibakar, sesungguhnya yang ikut terbakar adalah simbol harapan pembangunan masyarakat desa. Riset-riset mahasiswa yang musnah bukan sekadar dokumen akademik, tetapi kemungkinan solusi masa depan pangan, teknologi hasil pertanian, dan pengembangan desa Aceh.

Di tengah krisis global hari ini—krisis pangan, perubahan iklim, urbanisasi, dan pengangguran intelektual—kampus pertanian justru semestinya menjadi pusat inovasi sosial-ekonomi. Tetapi yang muncul malah konflik destruktif antarmahasiswa. Ini menunjukkan adanya paradoks besar antara potensi intelektual dan kematangan sosial.

Peristiwa ini juga memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan secara jujur: banyak mahasiswa hari ini hidup dalam tekanan multidimensi. Tekanan ekonomi keluarga, kecemasan masa depan kerja, kompetisi sosial media, polarisasi identitas, hingga krisis makna hidup generasi muda. Kampus sering gagal menjadi ruang penyembuhan intelektual dan emosional. Akibatnya, frustrasi mudah berubah menjadi agresi sosial.

Namun menyalahkan mahasiswa semata juga terlalu dangkal. Kampus adalah ekosistem. Ketika kekerasan muncul, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya pelaku, tetapi juga budaya institusionalnya. Bagaimana pola pembinaan mahasiswa? Seberapa kuat hubungan dosen dan mahasiswa? Apakah organisasi mahasiswa diarahkan menjadi laboratorium demokrasi atau sekadar arena perebutan pengaruh? Apakah kampus masih menjadi rumah dialog, atau justru semakin birokratis dan jauh dari denyut psikologis mahasiswa?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena publik Aceh selama ini menaruh harapan sangat besar pada kampus. Di mata masyarakat pedalaman, kampus bukan sekadar gedung kuliah. Ia adalah simbol tertinggi kewarasan modern. Ketika simbol itu runtuh, maka masyarakat kehilangan salah satu sumber legitimasi moralnya.

Namun Aceh belum terlambat untuk belajar.

Tragedi ini justru dapat menjadi momentum introspeksi besar-besaran bagi dunia pendidikan Aceh. Kampus perlu kembali mendefinisikan dirinya: apakah universitas hanya pabrik ijazah dan ranking, atau pusat pembentukan manusia beradab? Sebab sejarah menunjukkan bahwa bangsa tidak runtuh karena kurang gedung, melainkan karena runtuhnya etika elite intelektualnya.

Jika kampus gagal menjaga moralitas internalnya, maka sulit berharap masyarakat luar akan menjadi lebih dewasa. Tetapi jika kampus mampu bangkit dari tragedi ini dengan memperkuat budaya dialog, membangun pendidikan karakter yang nyata, dan menghidupkan kembali adab akademik, maka dari puing-puing kebakaran ini Aceh mungkin justru menemukan kembali arah moralnya.

Dan di situlah pertaruhan terbesar Aceh hari ini: apakah kampus tetap menjadi mercusuar kewarasan publik, atau perlahan berubah menjadi cermin retaknya masyarakat itu sendiri.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...