Ketika Sarung Menjadi Tirai Gelap

Pesantren itu, saudara-saudara, sejak dahulu bukan cuma bangunan berdinding bata dan beratap seng. Ia adalah semacam pulau harapan di tengah lautan kecemasan para orang tua. Tempat emak-emak menitipkan anak lelakinya sambil berkaca-kaca. Tempat bapak-bapak menyerahkan masa depan anak gadi snya sambil membawa doa sepanjang jalan pulang.
Di sana ada suara ngaji selepas magrib, ada kitab kuning yang baunya seperti masa lalu, ada sandal berjajar seperti pasukan semut, dan ada keyakinan bahwa tempat itu lebih aman daripada lemari besi bank pemerintah.
Tetapi rupanya, kehidupan ini terlalu pandai menyembunyikan ironi. Sebab di tempat orang belajar malu kepada Tuhan, ternyata ada juga manusia yang kehilangan malu kepada dirinya sendiri.
Dan celakanya lagi, mereka kadang berdiri paling depan. Bersarung. Berpeci. Bersuara lembut. Mulutnya penuh nasihat. Tangannya sibuk menunjuk surga. Tetapi diam-diam matanya berkeliaran ke wilayah yang bukan haknya. Inilah tragedi paling mengenaskan dari sebagian kasus pelecehan seksual di pesantren: dosa itu tidak datang memakai wajah preman terminal, melainkan kadang mengenakan jubah kesalehan.
Korban dibuat bingung seperti ayam kehilangan induk di tengah pasar malam. Mereka disentuh sambil diberi petuah. Didekati sambil dibacakan doa. Bahkan ada yang diyakinkan bahwa semua itu adalah bentuk kasih sayang spiritual. Astaghfirullah. Agama dipelintir seperti karet gelang. Moralitas dijadikan obeng untuk membongkar kesadaran korban. Yang haram diberi parfum nasihat supaya tampak seperti berkah.
Dan korban? Ah, korban biasanya cuma santri kecil yang baru belajar membedakan antara takut kepada guru dan takut kepada Tuhan. Mereka diajari hormat sejak kecil. Diajari menunduk jika bicara dengan ustaz. Diajari bahwa melawan guru bisa membuat ilmu tidak berkah. Maka ketika pelecehan itu datang dari orang yang mestinya dihormati, batin mereka remuk seperti genting ditimpa pohon tumbang.
Mereka ingin berteriak, tetapi lidahnya seperti disemen oleh rasa takut.
Takut dianggap fitnah.
Takut dicap anak durhaka.
Takut dimusuhi teman sekamar.
Dan yang paling menyedihkan: takut pesantrennya malu.
Di negeri ini memang kadang nama baik gedung lebih penting daripada air mata manusia. Korban disuruh diam demi menjaga marwah lembaga. Seolah-olah kehormatan pesantren lebih suci daripada kehormatan tubuh seorang anak. Maka jangan heran kalau banyak korban memilih memendam luka seperti sumur tua yang gelap dan dalam.
Padahal luka semacam itu bukan luka biasa. Ia bukan cuma soal tubuh yang disentuh tanpa hak. Ia bisa merusak cara seseorang memandang hidup. Ada korban yang kemudian takut mendengar ayat suci karena teringat wajah pelaku. Ada yang gemetar mendengar suara pengajian. Ada yang kehilangan percaya kepada agama, sebab orang yang dulu mengajarkan Tuhan justru menjadi penyebab trauma paling panjang dalam hidupnya.
Nah, kalau sudah begini, siapa yang sebenarnya sedang dirusak?
Korban? Jelas.
Tetapi bukan cuma itu.
Yang ikut rusak adalah wajah agama di mata orang kecil.
Karena masyarakat awam tidak membaca teori psikologi atau jurnal sosiologi. Mereka cuma melihat satu hal sederhana: kok bisa orang yang bicara surga malah tega membuat neraka di hidup orang lain?
Persoalan ini tidak bisa selesai hanya dengan meminta pelaku minta maaf sambil menunduk-nunduk di depan kamera. Tidak. Ini soal budaya diam yang sudah terlalu lama dipelihara seperti pusaka keluarga. Kita terlalu gemar menyakralkan manusia.
Seolah-olah ustaz, kiai, atau tokoh agama itu makhluk setengah malaikat yang tidak boleh disentuh kritik. Padahal manusia ya manusia. Bisa lapar. Bisa khilaf. Bisa tergoda. Dan kalau tidak diawasi, bisa juga berubah menjadi kecil hati nuraninya dan besar syahwat kuasanya.
Karena itu pesantren harus berani bercermin. Jangan cuma sibuk mengajarkan kitab akhlak, tetapi lupa membuat sistem perlindungan terhadap santri. Jangan cuma pandai berbicara tentang adab murid kepada guru, tetapi lupa mengajarkan bahwa tubuh dan martabat santri juga wajib dihormati.
Dan kita semua juga mesti berhenti menganggap kritik terhadap pesantren sebagai kebencian terhadap agama. Tidak. Justru karena cinta itulah luka ini harus dibicarakan. Sebab menutupi bangkai dengan sajadah tetap saja membuat baunya keluar ke mana-mana.
Pesantren terlalu mulia untuk dijadikan tempat persembunyian predator.
Agama terlalu suci untuk dipakai menipu anak-anak yang polos.
Dan Tuhan, saya kira, tidak pernah membutuhkan pembelaan dari orang-orang yang mengorbankan air mata korban demi menyelamatkan nama baik lembaga.
Sebab pada akhirnya, ukuran kemuliaan agama bukanlah seberapa keras suara ceramah diperdengarkan, melainkan seberapa jauh ia mampu menjaga manusia dari rasa takut dan penderitaan.












