
Oleh: Deddy Satria M,
Banjir sering kali dipahami sebagai peristiwa alam biasa—air meluap, hujan deras, dan lingkungan yang tidak mampu menampung debit air. Namun di Aceh, banjir tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya soal air yang datang tiba-tiba, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami, merasakan, dan merespons kejadian tersebut.
Masyarakat Aceh memandang banjir sebagai peristiwa yang memiliki makna sosial, budaya, bahkan keagamaan. Mereka tidak hanya bergantung pada informasi resmi dari pemerintah, tetapi juga membaca tanda-tanda alam, mengingat pengalaman masa lalu, serta menafsirkan kejadian melalui nilai-nilai agama yang mereka yakini.
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat dua cara pandang yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, pemerintah menggunakan pendekatan ilmiah dan teknologi dalam menyampaikan informasi bencana. Peringatan dini, data cuaca, dan prosedur evakuasi disusun secara sistematis dan berbasis ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, masyarakat memiliki cara sendiri dalam memahami risiko. Mereka lebih dekat dengan alam dan pengalaman langsung. Perubahan arus sungai, intensitas hujan, hingga kondisi tanah menjadi indikator penting yang mereka gunakan untuk membaca situasi.
Kedua cara pandang ini sebenarnya sama-sama penting, tetapi sering kali tidak saling terhubung. Akibatnya, informasi yang disampaikan pemerintah tidak selalu langsung diterima atau dijalankan oleh masyarakat.
Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa lambatnya respons masyarakat terhadap bencana disebabkan oleh kurangnya informasi. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Informasi sebenarnya sudah tersedia, bahkan dalam jumlah yang cukup.
Masalah utamanya terletak pada cara memahami informasi tersebut. Pemerintah berbicara dengan bahasa teknis dan data ilmiah, sementara masyarakat menggunakan pengalaman dan pengetahuan lokal sebagai acuan.
Ketika dua cara ini tidak bertemu, maka muncul jarak dalam pemahaman. Inilah yang sering menjadi penyebab utama mengapa komunikasi bencana tidak berjalan efektif.
Masyarakat Aceh memiliki cara khas dalam membaca tanda-tanda banjir. Mereka mengandalkan pengamatan terhadap lingkungan, seperti naiknya permukaan air sungai, perubahan warna air, serta intensitas hujan yang terus-menerus.
Selain itu, ada juga pemaknaan religius yang kuat. Banjir sering dianggap sebagai ujian, peringatan, atau bagian dari kehendak Tuhan. Tokoh agama memiliki peran penting dalam menjelaskan makna tersebut, sehingga masyarakat tidak hanya melihat banjir sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peristiwa yang mengandung pesan moral.
Tidak kalah penting, pengalaman masa lalu juga menjadi acuan. Ingatan tentang banjir sebelumnya membantu masyarakat dalam mengambil keputusan ketika menghadapi situasi serupa.
Namun demikian, pesan yang disampaikan pemerintah sering kali terasa kurang “nyambung” dengan masyarakat. Bahasa yang digunakan cenderung teknis dan sulit dipahami. Selain itu, informasi yang diberikan tidak selalu sesuai dengan kondisi yang dirasakan langsung oleh masyarakat di lapangan.
Hal ini membuat sebagian orang ragu untuk segera bertindak. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka belum merasa yakin. Di sinilah terlihat bahwa komunikasi bukan hanya soal isi pesan, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut disampaikan dan dipahami.
Yang menarik, masyarakat sebenarnya tidak pasif dalam menerima informasi. Mereka aktif menyaring dan menilai informasi yang masuk. Dalam beberapa situasi, mereka akan langsung menerima informasi pemerintah jika sesuai dengan tanda-tanda yang mereka lihat.
Namun dalam banyak kasus, mereka menyesuaikan informasi tersebut dengan cara mereka sendiri, misalnya dengan membahasnya dalam forum masyarakat atau mengaitkannya dengan nilai-nilai agama.
Bahkan ada juga yang memilih untuk menunda atau mengabaikan informasi jika dianggap tidak relevan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara berpikir yang rasional berdasarkan konteks yang mereka miliki.
Peran tokoh agama dan tokoh adat menjadi sangat penting dalam menjembatani komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Mereka memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat.
Ketika informasi disampaikan melalui mereka, pesan menjadi lebih mudah diterima dan dipahami. Mereka mampu menerjemahkan bahasa teknis menjadi bahasa yang lebih sederhana dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat komunikasi menjadi lebih efektif.
Penelitian ini juga menunjukkan adanya ketimpangan dalam akses informasi. Tidak semua masyarakat mendapatkan informasi resmi dengan mudah. Kelompok seperti masyarakat pedesaan, perempuan, dan lansia sering kali lebih mengandalkan informasi dari lingkungan sekitar.
Dalam kondisi seperti ini, kearifan lokal menjadi sangat penting. Ia berfungsi sebagai sistem informasi alternatif yang mampu menjangkau kelompok yang tidak terhubung dengan sistem formal. Namun sayangnya, kearifan lokal masih sering dianggap sebagai sesuatu yang kurang penting.
Padahal, kearifan lokal justru merupakan hasil dari pengalaman panjang yang terus berkembang. Ia bersifat adaptif dan sangat relevan dengan kondisi setempat. Kearifan lokal bukan pengganti ilmu modern, tetapi dapat menjadi mitra yang kuat. Jika keduanya bisa digabungkan, maka komunikasi bencana akan menjadi jauh lebih efektif.
Dari berbagai temuan ini, terlihat bahwa komunikasi bencana perlu diubah. Tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan satu arah dari pemerintah ke masyarakat. Komunikasi harus menjadi proses dialog yang melibatkan kedua belah pihak.
Informasi perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana, disampaikan melalui tokoh yang dipercaya, dan disesuaikan dengan budaya lokal. Dengan cara ini, komunikasi menjadi lebih hidup dan bermakna.
Apa yang terjadi di Aceh memberikan pelajaran penting bahwa bencana tidak hanya soal alam, tetapi juga soal manusia. Cara kita memahami dan merespons bencana sangat dipengaruhi oleh budaya, pengalaman, dan kepercayaan.
Oleh karena itu, upaya mengurangi risiko bencana tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur atau sistem teknologi. Kita juga perlu membangun jembatan komunikasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat.
Pada akhirnya, banjir mengajarkan kita bahwa informasi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana informasi tersebut dipahami dan diterima. Masyarakat bukan sekadar penerima pesan, tetapi juga pelaku aktif dalam menentukan tindakan.
Ketika pengetahuan modern dan kearifan lokal bisa dipertemukan, maka komunikasi akan menjadi lebih kuat, lebih efektif, dan lebih manusiawi. Dari situlah harapan untuk menghadapi bencana dengan lebih baik dapat benar-benar terwujud.














© 2026 potretonline.com