Sabtu, Mei 2, 2026

Tragedi Ilmu Tanpa Hidayah: Ketika Kitab Tak Lagi Menuntun Hati

7022f280-12da-4027-b860-3b83f74b6e4b
Ilustrasi: Tragedi Ilmu Tanpa Hidayah: Ketika Kitab Tak Lagi Menuntun Hati

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufiy, Lc.

Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussa’adahKetua HUDA Aceh Selatan

Ilmu seharusnya menjadi cahaya. Ia menerangi jalan, meluruskan arah, dan mendekatkan manusia kepada kebenaran. Namun sejarah juga mencatat sisi gelapnya: ilmu yang tidak diiringi hidayah justru bisa menjadi hijab, penghalang antara manusia dan Tuhannya.

Dalam kajian tafsir ayat 49–57 dari Surat An-Nisa, tergambar sebuah tragedi intelektual yang sangat relevan hingga hari ini: kesombongan, kedengkian, dan manipulasi kebenaran oleh mereka yang memiliki ilmu.

Ketika Kesuciane Diklaim, Bukan Diperjuangkan.

Al-Qur’an mengkritik keras sekelompok manusia yang merasa diri paling suci. Mereka mengangkat diri sendiri dengan klaim-klaim spiritual, seolah-olah kedekatan dengan Tuhan bisa ditentukan oleh status dan identitas.

Padahal, kesucian bukanlah hasil dari pengakuan manusia, melainkan ketetapan Allah semata.

Di sinilah letak paradoks:semakin seseorang merasa suci, semakin besar kemungkinan ia sedang tertipu oleh dirinya sendiri.

Kesombongan spiritual ini adalah bentuk paling halus dari kesesatan, karena ia dibungkus dengan simbol-simbol kebaikan.

Kedustaan Atas Nama Agama.

Lebih berbahaya lagi ketika ilmu digunakan untuk membenarkan kebohongan.

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana sebagian pemilik kitab justru menjadi produsen kedustaan atas nama Tuhan. Mereka memelintir ajaran, mengubah makna, bahkan menciptakan narasi baru demi mempertahankan posisi sosial dan pengaruh mereka.

Fenomena ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia terus berulang dalam berbagai bentuk:ketika agama dijadikan alat legitimasi, ketika dalil dipilih sesuai kepentingan, dan ketika kebenaran ditundukkan oleh ambisi.

Di titik ini, ilmu tidak lagi menjadi petunjuk, tetapi berubah menjadi alat manipulasi.
Ka’ab bin Asyraf: Potret Ilmu yang Dikhianati
Salah satu kisah paling mencolok adalah tentang Ka’ab bin Asyraf, seorang yang memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan kejujuran.

Didorong oleh kebencian, ia sampai pada titik yang sangat berbahaya: membenarkan kesyirikan dan memuji penyembah berhala, hanya untuk menjatuhkan kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Ini bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi pengkhianatan terhadap nurani dan ilmu itu sendiri.

Ketika kebencian menguasai hati, ilmu tidak lagi berfungsi sebagai penuntun, melainkan menjadi alat pembenaran terhadap kesalahan.

Hasad: Penyakit yang Menghancurkan Akal Sehat.

Akar dari semua ini adalah penyakit hati: hasad (kedengkian).
Mereka tidak mampu menerima kenyataan bahwa Allah memberikan keutamaan kepada orang lain. Yang mereka inginkan bukanlah kebenaran, tetapi hilangnya nikmat dari orang yang mereka dengki.

Hasad membutakan akal. Ia membuat seseorang menolak fakta, menentang kebenaran, bahkan memutarbalikkan nilai-nilai demi memuaskan egonya.
Dalam kondisi ini, ilmu tidak lagi berfungsi, karena hati telah tertutup.

Dua Jalan yang Tak Pernah Bertemu.

Ayat-ayat ini ditutup dengan gambaran yang sangat tegas:dua jalan hidup yang tidak akan pernah bertemu.

Di satu sisi, ada mereka yang menolak kebenaran, yang konsekuensinya adalah azab yang terus diperbarui, tanpa jeda.Di sisi lain, ada mereka yang beriman dan beramal saleh, yang mendapatkan ketenangan abadi, penuh keindahan dan kedamaian.

Ini bukan sekadar janji atau ancaman, tetapi konsekuensi logis dari pilihan hidup manusia.

Pelajaran untuk Kita Hari Ini.

Dari rangkaian ayat ini, ada beberapa pelajaran penting yang layak direnungkan:

‌Jangan pernah menyucikan diri sendiri. Semakin seseorang sibuk memuji dirinya, semakin jauh ia dari keikhlasan.
‌Ilmu harus melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi beban di akhirat.
‌Waspadai hasad dan ambisi tersembunyi. Keduanya mampu merusak kejujuran bahkan pada orang berilmu.
‌Jangan gunakan agama untuk kepentingan pribadi. Karena itu adalah bentuk pengkhianatan paling berbahaya.

Penutup: Kembali kepada Kejujuran Hati.

Pada akhirnya, masalah terbesar bukan pada kurangnya ilmu, tetapi pada hilangnya kejujuran dalam menerima kebenaran.

Ilmu tanpa hidayah adalah cahaya yang padam.Ia terlihat terang, tetapi tidak lagi memberi arah.

Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar ilmu yang kita miliki tidak menjadi hijab, tetapi menjadi jalan menuju-Nya.Agar hati tetap rendah, meski pengetahuan bertambah.Dan agar kita dijauhkan dari penyakit yang pernah menjatuhkan mereka yang berilmu, namun kehilangan cahaya iman.

Sebab yang menyelamatkan bukanlah banyaknya ilmu, tetapi ketulusan dalam mengamalkannya.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ketua HUDA Aceh Selatan Periode 2024-2029 dan Pimpinan Dayah Madinatud Diniyah Babussaadah

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist